TOTO HARYANTO

Sedikit goresan menebar manfaat …..

Keutamaan Menjaga Anak Wanita

Posted by totoharyanto on December 6th, 2018

 

┏📜📚📖━━━━━━━━━━━━━━┓

Majmu’ah Riyadhussalafiyyin

┗━━━━━━━━━━━━━━📖📚📜┛

 

🌹🌸 KEUTAMAAN ANAK PEREMPUAN 🌸🌹

 

Anak ialah pemberian dari Allah. Maka laki-laki atau perempuan, sepatutnya bersyukur kepada-Nya. Terkadang orang bahagia mendapat anak laki-laki namun tidak bila perempuan. Padahal, sejumlah dalil menunjukkan adanya keutamaan pada anak perempuan.

 

☑️ YANG MEMILIKI ANAK WANITA DAN MERAWATNYA DENGAN BAIK; AKAN SANGAT DEKAT DENGAN NABI MUHAMMAD ﷺ DI HARI KIAMAT

 

🗒️ Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda :

 

مَن عال ابنتينِ أو ثلاثًا، أو أختينِ أو ثلاثًا، حتَّى يَبِنَّ أو يموتَ عنهنَّ كُنْتُ أنا وهو في الجنَّةِ كهاتينِ – وأشار بأُصبُعِه الوسطى والَّتي تليها

 

“Siapa yang merawat dua atau tiga anak perempuan; dua atau tiga saudari hingga mereka meninggalkannya (menikah atau dia meninggal dunia, pent); atau dia meninggal terlebih dulu maka aku dan dia akan seperti ini di surga -beliau berisyarat dengan telunjuk dan jari tengahnya-.” -SHAHIH- (Syaikh Nashir). HR. Ahmad (12498)

 

☑️ YANG TIDAK PILIH KASIH ANTARA ANAK LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DIJAMIN MASUK SURGA

 

🗒️ Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda :

 

مَنْ وُلِدَتْ له ابنةٌ فلم يئِدْها ولم يُهنْها، ولم يُؤثرْ ولَده عليها ـ يعني الذكَرَ ـ أدخلَه اللهُ بها الجنة

 

“Siapa yang dikaruniai anak perempuan lalu dia tidak membunuhnya, tidak menghinakannya, dan tidak melebihkan anak laki-lakinya dari pada anak perempuan; maka Allah pasti memasukkannya ke dalam surga.” -HASAN- (Syaikh Ahmad Syakir) HR. Ahmad (1957)

 

🗒️ Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda :

 

مَن كان له ثلاثُ بناتٍ يُؤدِّبُهنَّ ويرحَمُهنَّ ويكفُلُهنَّ وجَبَت له الجنَّةُ ألبتةَ، قيل يا رسولَ اللهِ: فإن كانتا اثنتينِ؟، قال: وإن كانتا اثنتين

 

“Siapa yang memiliki tiga anak perempuan, dia mengajari mereka sopan santun, menyayangi dan menafkahi mereka; maka mereka betul-betul pasti akan masuk surga.”

 

Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana bila hanya dua anak perempuan wahai Rasulullah?”

 

“Ya, meskipun hanya dua anak.” Jawab beliau.” -SHAHIH- (Syaikh Nashir dan Muhaqqiq Musnad). HR. Ahmad (14247)

 

☑️ MERAWAT ANAK PEREMPUAN MERUPAKAN PENGHALANG DARI SIKSA NERAKA

 

🗒️ Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda :

 

مَنْ كان له ثلاث بنات فصبَرَ علَيْهِنَّ، وأطعَمَهُنَّ وسقاهُنّ، وكساهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ كُنَّ لَهُ حجاباً مِن النارِ يومَ القيامة

 

“Siapa yang memiliki tiga anak perempuan kemudian bersabar terhadap mereka, memberi mereka makan, minum, dan pakaian dari sesuai kemampuannya; niscaya anak itu akan jadi hijab baginya dari neraka pada hari kiamat.” -SHAHIH- (Syaikh Nashir). HR. Ibnu Majah (3669)

 

☑️ ANAK PEREMPUAN MERUPAKAN PELUANG PAHALA BAGI ORANGTUANYA

 

🗒️ Berkata Muhammad bin Sulaiman rahimahullah :

 

البنون نِعَم ٌ، والبنات حسنات ، والله عز وجل يحاسب على النعم ويجازي على الحسنات

 

“Anak laki-laki ialah nikmat, anak perempuan merupakan tabungan kebaikan. Allah akan meminta pertanggungjawaban dari sebuah nikmat dan akan memberikan balasan dari kebaikan.” (Al Adab Asy-Syar’iyyah, I/480)*”

 

☑️ BISA JADI DIA LEBIH BAIK**

 

🗒️ Qatadah rahimahullah menyatakan :

 

«رب جارية خير من غلام قد هلك أهله على يديه».

 

“Boleh jadi anak perempuan lebih baik dari anak laki-laki. Sebab tidak jarang orangtua binasa karena sebab anak laki-laki.” (Idem, I/480)

 

☑ ENDING

 

Benar memang, secara umum laki-laki lebih utama dari perempuan :

 

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ

 

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita).”&_ QS. An-Nisaa’ : 34

 

Makanya para nabi, pemimpin, pasukan perang hanya dari para lelaki. Namun salah jika lantas kita mengerdilkan kedudukan wanita.

 

Maksud utama dari tulisan ini agar kiranya kita lebih mudah bersyukur dan berbahagia dengan anak perempuan kita, bangga.  dengan memiliki mereka. Hanya pada Allah kita mohon hidayah.

 

✍🏼 Ustadz Hari Ahadi حفظ


Posted in Keluarga | No Comments »

Mengharap Syafaat di Hari Akhir

Posted by totoharyanto on December 4th, 2018

Setiap muslim pasti mengharapkan syafaat di akhirat nanti. Dia berharap agar pada hari tersebut syafaat bermanfaat baginya. Sungguh, alangkah sengsaranya seorang yang pada hari tersebut terhalang untuk mendapatkan syafaat.

Memang tidak semua orang pantas mendapatkan syafaat. Hanya orang yang memenuhi syarat yang bisa mendapatkan syafaat di akhirat. Allah ‘azza wa jallamengabarkan keadaan mereka ini dalam firman-Nya,

فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ٤٨

        “Tidaklah bermanfaat bagi mereka syafaat para pemberi syafaat.”(al-Muddatstsir: 48)

 

Apa Itu Syafaat?

Syafaat adalah menjadi perantara bagi yang lain untuk mendapatkan manfaat atau menolak mudarat. Contohnya, syafaat untuk mendatangkan kebaikan, syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi penduduk surga agar mereka memasukinya.

Contoh syafaat agar terhindar atau selamat dari kejelekan adalah syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi mereka yang pantas dimasukkan neraka sehingga tidak masuk neraka. (al-Qaulul Mufid, 1/203)

 

Hakikat Syafaat

Allah ‘azza wa jalla memberikan karunia kepada seorang yang ikhlas, mengampuninya melalui perantaraan doa orang yang diberi izin memberi syafaat, dalam rangka memuliakannya dan agar meraih maqaman mahmuda. (Kitab at-Tauhid)

Jadi, syafaat adalah karunia dan keutamaan yang Allah ‘azza wa jalla berikan bagi yang diberi syafaat.

Adapun yang memberi syafaat, Allah ‘azza wa jalla ingin memuliakannya dan menampakkan keutamaannya di hadapan hamba Allah ‘azza wa jalla yang lain.

 

Siapakah yang Akan Memberikan Syafaat?

Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa para malaikat, para nabi, dan orang-orang beriman akan memberikan syafaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        شَفَعَتِ الْمَلاَئِكَةُ وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ وَلَمْ يَبْقَ إِلاَّ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Malaikat memberikan syafaat, para nabi dan kaum mukminin memberi syafaat, tidak ada lagi kecuali Dzat Yang Paling Penyayang….” (Shahih Muslim, hadits no. 302)

Seorang yang syahid, meninggal di medan jihad, memiliki kesempatan memberikan syafaat bagi tujuh puluh orang kerabatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

        لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللهِ سِتُّ خِصَالٍيُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِن الْجَنَّةِ وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَيَأْمَنُ مِنْ الْفَزَعِالْأَكْبَرِ وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ الْيَاقُوتَةُ مِنْهَا خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَيُزَوَّجُ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنْ الْحُورِ الْعِينِوَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ مِنْ أَقَارِبِهِ

“Seorang mati syahid mendapatkan enam keutamaan di sisi Allah:

(1) mendapatkan ampunan sejak pertama kali meninggal dan melihat tempatnya di surga,

(2) dijaga dari azab kubur,

(3) diberi keamanan dari rasa takut yang besar,

(4) akan diletakkan di kepalanya mahkota kemuliaan dari yaqut (batu permata) yang nilainya lebih baik daripada dunia dan isinya,

(5) akan dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari, dan

(6) akan diterima (permintaan) syafaatnya bagi tujuh puluh orang kerabatnya.” (HR . Ibnu Majah dan at-Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Targhib wa Tarhib)

 

Macam-Macam Syafaat

Ahlus Sunnah meyakini bahwa syafaat yang ada sangatlah banyak. Ada syafaat yang khusus dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada juga yang dilakukan oleh selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

  1. Asy-Syafaatul ‘Uzhma (syafaat teragung)

Syafaat ini khusus dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syafaat ini disepakati keberadaannya. Ketika manusia merasakan dahsyatnya Padang Mahsyar, mereka mendatangi Nabi Adam ‘alaihissalam, Nabi Nuh ‘alaihissalam, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Nabi Musa ‘alaihissalam, dan Nabi Isa ‘alaihissalam. Namun, mereka semua tidak bersedia. Akhirnya manusia datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Syafaat bagi penduduk surga untuk masuk surga
  2. Syafaat bagi penduduk surga untuk ditinggikan derajatnya di surga
  3. Syafaat bagi ahli tauhid yang berada di neraka agar keluar darinya
  4. Syafaat bagi satu kaum yang pantas masuk neraka agar tidak masuk neraka
  5. Syafaat khusus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Abu Thalib radhiallahu ‘anhu, hingga dia diringankan azabnya. (I’anatul Mustafid, 1/239—240)

 

Siapakah yang Berhak Mendapatkan Syafaat?

Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan bahwa syafaat hanyalah didapatkan oleh orang yang ikhlas dan dengan izin Allah ‘azza wa jalla. Syafaat tidak akan didapat oleh orang-orang yang menyekutukan Allah ‘azza wa jalla.

Syafaat di akhirat hanya akan didapat dengan dua syarat:

  1. Izin dari Allah ‘azza wa jalla bagi syafi’ (orang yang memintakan syafaat)
  2. Adanya ridha Allah ‘azza wa jalla bagi orang yang dimintakan syafaat untuknya

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ

        “Tidak ada yang memberikan syafaat disisi Allah kecuali dengan izin-Nya.” (al-Baqarah: 255)

 

       وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرۡتَضَىٰ

        “Mereka tidak akan memberi syafaat kecuali bagi orang yang diridhai-Nya.”(al-Anbiya’: 28)

 

Khawarij Mengingkari Syafaat

Ada dua kelompok tersesat dalam masalah syafaat.

  1. Kelompok yang ghuluw (berlebihan) menetapkannya, hingga menjerumuskan mereka ke dalam kesyirikan dengan alasan mengharapkan syafaat.
  2. Kelompok yang mengingkari syafaat selain syafaat ‘uzhma.

Mereka mengingkari syafaat yang lain, terkhusus syafaat bagi muslim pelaku dosa besar yang telah masuk neraka. Merekalah kelompok wai’diyah dari kalangan Khawarij, Mu’tazilah, dan lainnya.

Keyakinan bid’ah tersebut menjemuskan mereka kepada kesesatan yang berikutnya, yakni mengingkari syafaat bagi mukmin yang melakukan dosa besar dan syafaat bagi mukmin yang telah masuk neraka.

Khawarij menyatakan bahwa seorang muslim yang melakukan dosa besar telah kafir dan kekal di neraka. Mereka pun menolak sekian banyak hadits yang menerangkan adanya orang muslim yang masuk neraka lalu dikeluarkan darinya dan dimasukkan ke dalam surga.

Al-Imam Muslim rahimahullah membawakan satu kisah tentang masalah ini dari seseorang yang bernama Yazid al-Faqir.

Dahulu aku terpengaruh syubhat pemikiran Khawarij. Kami berangkat melakukan ibadah haji, kemudian keluar (mendakwahkan paham Khawarij) kepada manusia.

Ketika itu kami melewati kota Madinah. Kami dapati di sana ada seorang yang bersandar di tiang masjid sedang menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata beliau menceritakan tentang jahanamiyin (penduduk neraka jahannam). Aku pun berkata, “Wahai sahabat Rasulullah, apa yang engkau sampaikan ini? Bukankah Allah ‘azza wa jalla berfirman,

رَبَّنَآ إِنَّكَ مَن تُدۡخِلِ ٱلنَّارَ فَقَدۡ أَخۡزَيۡتَهُۥ

‘Wahai Rabb kami, sesungguhnya orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka berarti telah Engkau hinakan ….’ (Ali Imran: 192)

 

       كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَآ أُعِيدُواْ فِيهَا

‘Ketika mereka ingin keluar darinya, mereka dikembalikan ke dalamnya….’ (as-Sajdah: 20)

 

Apa yang engkau sampaikan ini?” Sahabat tersebut berkata, “Apakah engkau bisa membaca al-Quran?”

Aku (Yazid) berkata, “Ya.”

Sahabat tersebut berkata, “Tidakkah engkau membaca maqam (kedudukan) yang Allah ‘azza wa jalla akan berikan kepada Nabi kita?”

Aku (Yazid) berkata, “Ya.”

Sahabat tersebut berkata, “Itulah kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamyang terpuji. Dengan sebabnya, Allah ‘azza wa jalla mengeluarkan orang dari neraka.”

Kemudian beliau menyebut sifat dipancangkannya shirath dan melintasnya manusia di atas shirath tersebut….”

Sampai ucapan Yazid al-Faqir, “Demi Allah, ketika kami kembali, tidak ada lagi di antara kami yang berpemikiran Khawarij kecuali satu orang saja.” (Shahih Muslim no. 320)

 

Hadits di atas mengandung beberapa pelajaran.

  1. Khawarij mengingkari syafaat bagi seorang muslim yang masuk neraka. Sebab, mereka meyakini bahwa seorang pelaku dosa besar adalah kafir dan akan masuk neraka lantas kekal di dalamnya.
  2. Keutamaan bermajelis dengan ulama.

Kita lihat Yazid al-Faqir selamat dari kebid’ahan Khawarij dengan sebab bertemu dan mendengar ilmu dari seorang yang berilmu.

  1. Ahlul batil bersemangat menyebarkan akidah sesat mereka, memanfaatkan setiap kesempatan. Karena itu, seharusnya Ahlus Sunnah bersemangat berdakwah menyampaikan al-haq kepada umat.
  2. Dalam kisah ini ada bukti bahwa satu kesesatan akan menyeret pada kesesatan lainnya.

Ketika mereka menyatakan bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka, mereka pun mengingkari syafaat-syafaat yang disebutkan oleh dalil-dalil.

 

Memperkuat Akidah untuk Meraih Syafaat

Syafaat semuanya milik Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعٗاۖ

        “Katakanlah semua syafaat hanyalah milik Allah.” (az-Zumar: 44)

Hendaknya seorang mencari syafaat dengan jalan yang Allah ‘azza wa jalla syariatkan. Allah ‘azza wa jalla menerangkan, syafaat didapat seseorang jika Allah ‘azza wa jallameridhainya dan memberi izin kepada yang syafi’ (yang memintakan syafaat untuknya).

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَكَم مِّن مَّلَكٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ لَا تُغۡنِي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡ‍ًٔا إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ أَن يَأۡذَنَ ٱللَّهُ لِمَن يَشَآءُ وَيَرۡضَىٰٓ ٢٦

        “Betapa banyak malaikat di langit, tidaklah syafaat mereka bermanfaat kecuali setelah Allah memberi izin untuk orang yang Allah kehendaki dan Allah ridhai.” (an-Najm: 26)

Orang yang diridhai untuk diberi syafaat adalah muwahid (seorang yang bagus tauhidnya), sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayim rahimahullah.

Oleh karena itu, kita harus meningkatkan kualitas ibadah kita dan menguatkan tauhid kita. Itulah sebab kebahagiaan seseorang sehingga bisa meraih syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang paling bahagia dengan syafaat beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab,

        أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

“Orang yang paling bahagia dengan syafaatku di hari kiamat adalah orang yang mengucapkan ‘la ilaha illallah’ secara ikhlas dari kalbunya.” (HR . al-Bukhari. 99)

Adapun syafaat yang diharapkan oleh para penyembah kubur adalah syafaat yang batil. Tidak mungkin mereka mendapatkan syafaat dalam keadaan terus melakukan kesyirikan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَاللهُ مَن مَاتَ مِنْ أُمَّتِي يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا

“Semua nabi memiliki doa yang mustajab. Semua nabi menyegerakan doa mustajab mereka. Adapun aku menyimpannya untuk umatku sebagai syafaat bagi mereka, dan itu akan didapat oleh umatku yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah ‘azza wa jalla dengan sesuatu pun.” (HR . Muslim no. 338)

 

Sebab-Sebab Mendapat Syafaat

Marilah kita bersemangat untuk melakukan sebab mendapatkan syafaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan kepada kita amalan-amalan yang bisa menjadi sebab mendapatkan syafaat.

Di antara yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan:

  1. Perhatian dengan al-Qur’an

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِه

“Bacalah al-Qur’an, karena al-Qur’an akan menjadi pemberi syafaat bagi yang membaca dan mengamalkannya pada hari kiamat nanti.” (HR . Muslim)

 

  1. Berdoa setelah mendengar azan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mendengar azankemudian membaca,

        اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِى وَعَدْتَهُ

maka telah tetap syafaatku untuk dia di hari kiamat.” (HR . al-Bukhari no. 614)

 

  1. Tinggal di Madinah dengan sabar hingga meninggal

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَصْبِرُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا فَيَمُوتَ إِلاَّ كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا كَانَ مُسْلِمًا

“Tidaklah seorang bersabar dari kesulitan dan kelaparan di Madinah sampai meninggal, kecuali aku akan menjadi pemberi syafaat atau saksi baginya pada hari kiamat, jika dia seorang muslim.” (HR . Muslim no. 3405)

 

  1. Dishalati oleh ahli tauhid

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلاً لاَ يُشْرِكُونَ بِا شَيْئًا إِلاَّ شَفَّعَهُمُ ا فِيهِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal kemudian jenazahnya dishalati oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah ‘azza wa jalla dengan sesuatupun, niscaya Allah ‘azza wa jalla menerima syafaat mereka pada orang tersebut.” (HR . Muslim no. 2242)

Semoga Allah ‘azza wa jalla memberi kemudahan kepada kita untuk mendapatkan syafaat di hari kiamat nanti.

Ditulis oleh al-Ustadz Abdur Rahman Mubarak

Sumber : http://asysyariah.com/mengharap-syafaat-pada-hari-kiamat/


Posted in Islamic | No Comments »

Berbakti Kepada Orang Tua

Posted by totoharyanto on December 3rd, 2018

Di dalam surat al-Ankabut Allah ta’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حُسْنًا

“Dan telah Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) baik terhadap kedua orang tuannya.” (al-Ankabut: 8)

Asbabun Nuzul (Sebab Turun Ayat)

Para pembaca rahimakumullah, tersebutkan dalam Shahih Muslim no. 6391 bahwa ayat ini turun berkaitan dengan kisah Sa’d bin Abi Waqqash radhiallahuanhu yang telah masuk Islam namun ibunya (Ummu Sa’d) masih kafir.

Ummu Sa’d bersumpah untuk tidak berbicara kepada Sa’d serta tidak akan makan dan minum sampai Sa’d mau keluar dari agama Islam. Ummu Sa’d berkata,

“Engkau berkeyakinan bahwa Allah telah memerintahkanmu untuk berbakti kepada kedua orang tuamu. Aku ibumu dan aku perintahkan engkau dengan perintah ini (yakni keluar dari Islam).”

Kejadian ini berlangsung tiga hari lamanya hingga akhirnya salah satu putra Ummu Sa’d yang lain memasukkan makanan ke mulut ibunya dengan paksa. Maka Allah ta’alamenurunkan ayat di atas dan ayat berikut ini,

وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Luqman: 15)

Kisah ini memberikan pelajaran bagi kita untuk tetap berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua meskipun keduanya memerintahkan kepada perkara yang mungkar. Sikap dan perilaku yang baik tetap kita berikan kepada keduanya meskipun kita tidak mematuhi perintah mereka yang mengandung kemungkaran.

Penjelasan Sebagian Ulama Terkait Ayat Kedelapan dari Surat al-Ankabut

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

“Allah memerintahkan hamba-hambanya untuk berbuat baik kepada kedua orang tua setelah sebelumnya memerintahkan untuk menjalankan tauhid. Karena sesungguhnya dengan sebab kedua orang tua seorang anak terlahir. Maka keduanya berhak mendapatkan puncak kebaikan (dari anaknya).” (Tafsir al-Qur’anil ‘Adzim)

Al-Imam al-Baghawi rahimahullah berkata,

“Yakni Allah memerintahkan untuk berbuat baik dan bersikap lembut kepada kedua orang tua. Kami perintahkan seorang anak untuk berbuat segala bentuk kebaikan kepada kedua orang tuanya.” (Ma’alimul Tanzil)

Sikap dan Perilaku Serta Muamalah Seorang Anak Terhadap Orang Tua

Para pembaca rahimakumullah, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan bersama terkait muamalah seorang anak terhadap kedua orang tuanya;

  1. Kaidah syariah menetapkan bahwa wajib bagi seorang anak untuk berbakti, berbuat baik dan taat kepada kedua orang tuanya dalam perkara yang ma’rufDalil-dalil tentang permasalahan ini amatlah banyak, baik dari al-Qur’anal-Hadits maupun ijma’. Berbuat baik kepada keduanya dengan bersikap lembut, penuh kasih sayang, melayani keduanya, memberikan hal yang bermanfaat terkait urusan agama dan dunia mereka dan menyambung tali silaturahmi dengan sanak keluarga keduanya serta berbagai kebaikan yang lainnya. Allah ta’ala berfirman,

وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا

“Dan beribadalah kalian kepada Allah dan janganlah menyekutukannya dengan sesuatu apapun serta berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (an-Nisa’: 36)

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا

“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kalian tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (al-Isra’: 23)

Perihal kewajiban berbakti kepada kedua orang tua merupakan wasiat dan perintah Allah kepada para hamba. Allah ta’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَٱتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu dan hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentangnya, maka janganlah kamu menaati keduanya, namun pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. Ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Luqman: 14-15)

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam ketika ditanya tentang siapakah manusia yang paling berhak untuk mendapatkan perlakuan yang baik, maka beliau menjawab

“Ibumu”.

Hingga pertanyaan ketiga, beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab dengan jawaban yang sama,

“Ibumu”.

Kemudian pada pertanyaan keempat, beliau menjawab

“Ayahmu”. (HR. Al-Bukhari no. 5626 dan Muslim no. 2548 dari shahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu)

Oleh karena itu telah datang dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta ijma’ kaum muslimin tentang haramnya berbuat durhaka kepada kedua orang tua, bahkan termasuk dosa besar, terkhusus ketika mereka telah berusia senja.

Bahkan tatkala keduanya memberikan sikap dan berlaku jelek kepada seorang anak, maka tidak diperkenankan bagi si anak untuk membalasnya dengan kejelekan pula. Namun wajib baginya untuk menyikapi dengan sikap dan perilaku yang baik. Hal ini sesuai dengan keumuman firman Allah ta’ala,

ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Fushshilat: 34)

Maka orang tua lebih berhak untuk mendapatkan balasan kejelekannya dengan kebaikan dibandingkan orang lain.

  1. Menaati kedua orang tua dalam pekara yang ma’ruf (baik) merupakan suatu kewajiban, selama keduanya tidak memerintahkan kepada perkara yang mengandung maksiat. Jika keduanya memerintahkan kepada perkara maksiat maka tidak ada ketaatan kepada keduanya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لا طاعة لمخلوق في معصية الله

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad)

Allah ta’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حُسْنًا وَإِن جَٰهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَآ

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu menaati keduanya.” (al-Ankabut: 8)

وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan seuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Luqman: 15)

Maka jika keduanya memerintahkan kepada kemungkaran dan kemaksiatan seperti berbuat syirik kepada Allah ta’ala, minum khamr atau menyerupai kaum kuffar dari kalangan Yahudi dan Nasrani, meninggalkan puasa Ramadhan serta pelanggarang-pelanggaran syariatlainnya maka tidak ada ketaatan atas apa yang mereka perintahkan.

Namun perlu digarisbawahi, bahwa sikap dan perilaku yang baik tetap diberikan kepada keduanya. Adapun dalam urusan yang mubah, seperti dalam urusan nikah ataupun cerai, maka dilihat maslahah dan mafsadahnya (positif dan negatifnya).

Jika orang tua memerintahkan sesuatu yang mubah sedangkan tidak mengikuti mereka justru mendatangkan maslahah, maka tidak mengapa bagi sang anak untuk tidak menaati mereka. Yang seperti ini tidak termasuk perbuatan durhaka.

Jika ternyata dengan menaati perintah mereka justru mendatangkan maslahah, maka menaati keduanya lebih baik, lebih berkah, dan lebih berbakti.

Karena tentunya kedua orang tua merupakan orang merupakan orang yang paling berhak memberikan masukan dan nasehat untuk anaknya, bahkan keduanya berusaha keras untuk memberikan yang terbaik bagi buah hati mereka.

  1. Jika seorang anak melihat adanya kemungkaran dan pelanggaran syariat yang dilakukan orang tuanya, misalkan meninggalkan shalat atau terjatuh dalam perkara yang haram, maka wajib bagi sang anak untuk memberikan masukan dan nasehat kepada keduanya. Yang pasti nasehat dan teguran disampaikan dengan penuh kesopanan dan kelembutan. Tidak lupa pula diiringi dengan banyak berdo’a kepada Allah ta’ala agar keduanya mendapatkan hidayah dari-Nya. Bisa pula dengan meminta bantuan karib kerabat yang mungkin “lebih didengar” nasehatnya oleh keduanya. Jika keduanya menerima nasehat, maka alhamdulillah. Namun jika sebaliknya, maka serahkan semuanya kepada Allah ta’ala dan tetap pergauli mereka dengan cara yang terbaik. (lihat Fatawa al-Lajnah ad-Daimah no. 19680)

Wallahu a’lam bishshawwab. Semoga bermanfaat.

Penulis: Ustadz Abdullah Imam hafizhahullah
Sumber : http://buletin-alilmu.net/2018/10/02/duhai-ananda-berbaktilah-kepada-ayah-dan-bunda/


Posted in Keluarga | No Comments »

Cuda with Python

Posted by totoharyanto on October 30th, 2018


Posted in GPU | No Comments »