TOTO HARYANTO

Sedikit goresan menebar manfaat …..

Archive for April, 2018

GPU : Antara Games dan Kebutuhan Komputasi

Posted by totoharyanto on 30th April 2018

GPU adalah singkatan dari Graphic Processing Unit tentu sekarang sudah bukan menjadi barang yang asing lagi terutama bagi para penggemar games. Kehadiran GPU yang dimotori oleh beberapa vendor ternama sekelas NVIDIA atau AMD menjadikan para pencinta games semakin betah di depan komputernya. Mengapa tidak ? Dengan perkembangan kualitas resolusi yang tinggi, para pencinta game dimanjakan dan larut dengan permainannya.

Di sisi vendor, baik NVIDIA maupun AMD misalnya terus melakukan pengembangan produknya dengan berbagai keunggulan yang ditawarkan. Tapi di sini saya tidak akan banyak membicarakan produk-produk terbaru mereka. Silahkan bisa site sendiri di official web-nya ya (http://www.nvidia.com/) atau (https://www.amd.com).

Namun demikian, yang akan sedikit ceritakan adalah bahwa GPU kalau dilihat dari namanya, sebenarnya tidak hanya untuk kebutuhan games atau rendering saja, tetapi dapat digunakan untuk melakukan pemrosesan atau komputasi.

Arsitektur GPU

Untuk memudahkan pemahaman, sekarang kita lihat bagaimana arsitektur GPU. Perhatikan gambar di bawah ini:

gpu_arch

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(sumber : https://www.nvidia.com/content/dam/en-zz/Solutions/Data-Center/documents/NVIDIA-Kepler-GK110-GK210-Architecture-Whitepaper.pdf)

Jika dibandingkn antara CPU dan GPU. Kira-kira ilustrasi mudahnya adalah sebagai berikut:

gpu-cpu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Secara umum, GPU memiliki Single Multiprocessor (SM). Setiap SM terdiri atas ratusan cores. secara logic, GPU dapat dibagi menjadi Grid, Blok dan thread. Satu Grid bisa terdiri atas beberapa Blok. Di dalam blok terdapat thread yang masing-masing masing memiliki Id untuk pendanda suatu proses. Perhatikan ilustrasi di bawah ini.

blok-grid-thread

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Proses dalam GPU diidentifikasi dengan Id thread. Oleh karena itu, biasanya pemrograman di dalam GPU harus didefinisikan Id dari prosessnya seperti apa sehingga program kita dapat berjalan secara parallel.

(Bersambung …………………………)

Posted in GPU | No Comments »

Amalan-Amalan Pada Bulan Sya’ban

Posted by totoharyanto on 18th April 2018

Pembaca yang budiman, tidak terasa saat ini kita sudah masuk bulan Sya’ban tahun 1439H. Ada baiknya kita menambah pengetahuan kita terkait dengan bulan ini. Semoga menambah khazanah keilmuan kita dan Alloh memudahkan kita untuk beramal dengannya. Aamiin…

Selamat membaca :

 

‘Aisyah berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Rasulullah biasa berpuasa sampai kami mengatakan beliau tidak berbuka dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak berpuasa. Aku sama sekali tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa secara sempurna dalam sebulan kecuali pada bulan Ramadhan dan aku juga tidak pernah melihat beliau paling banyak berpuasa (dalam sebulan) dari berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. al-Bukhari no. 1833 dan Muslim no. 1956)

 

Para pembaca yang berbahagia.

Bulan Sya’ban merupakan bulan kedelapan dalam penanggalan hijriyah. Kalau ada yang bertanya mengapa bulan ini dinamakan dengan “Sya’ban”?

Al-Imam Sirajuddin Ibnul Mulaqqin asy-Syafi’i dalam kitab “at-Taudhih” juz 13 halaman 445 menukilkan ucapan Ibnu Duraid bahwa bulan ini dinamakan dengan “Sya’ban” (berpencar) karena berpencarnya orang-orang Arab pagan (para penyembah berhala) dahulu, yaitu mereka berpencar dan berpisah pada bulan ini untuk mencari air.

Dan ada yang mengatakan karena pada bulan tersebut orang-orang Arab berpencar dalam penyerangan dan penyerbuan. Ada pula yang mengatakan “Sya’ban” juga berarti nampak atau lahir karena bulan ini nampak atau lahir diantara bulan Ramadhan dan Rajab.

 

Amalan Bulan Sya’ban Yang Disyariatkan

Adapun amalan yang disyariatkan pada bulan Sya’ban adalah banyak melakukan puasa pada bulan tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah dalam hadits diatas. Dan masih banyak hadits lain yang menerangkan tentang amalan puasa Sya’ban.

Namun yang perlu kita ingat dalam hal ini adalah tidak boleh mengkhususkan untuk berpuasa pada hari-hari tertentu di bulan Sya’ban apakah di awal bulan, pertengahan bulan (Nishfu Sya’ban) atau akhir bulan, dikarenakan Rasulullah sendiri tidak pernah mengkhususkannya.

Mengapa Rasulullah tidak menyempurnakan puasa satu bulan penuh pada bulan Sya’ban?

Al-Imam Sirajuddin Ibnul Mulaqqin asy-Syafi’i menjawab, “Yaitu agar jangan sampai orang menyangka bahwasanya puasa (pada bulan) tersebut hukumnya adalah wajib.” (at-Taudhih, juz 13, hlm. 443)

 

Hikmah Puasa Sya’ban

Para ulama telah berbeda pendapat di dalam menguraikan hikmah dari banyaknya puasa Rasulullah pada bulan Sya’ban, diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Ada yang mengatakan karena Rasulullah sering melakukan safar (bepergian) atau keperluan lainnya sehingga terhalang dari melakukan puasa sunnah 3 hari tiap bulannya, maka beliau menggabungkan jumlah puasa sunnah 3 hari tiap bulan yang ditinggalkan dan ditunaikannya pada bulan Sya’ban.
  2. Karena dalam rangka mengagungkan bulan Ramadhan.
  3. Istri-istri beliau mengqadha (membayar) puasa yang ditinggalkan pada bulan Ramadhan sebelumnya pada bulan Sya’ban maka beliau pun ikut menemani puasa bersama mereka.
  4. Karena bulan Sya’ban adalah bulan yang dilalaikan oleh manusia. Padahal dalam bulan tersebut terdapat suatu keutamaan yaitu amalan-amalan yang dilakukan pada bulan tersebut akan diangkat kepada Allah. Dan Rasulullah ingin agar amalannya diangkat dalam keadaan sedang berpuasa.

Al-Imam asy-Syaukani menyebutkan dalam kitab “Nailul Authar” juz 4 halaman 331 bahwa hikmah yang lebih tepat dalam hal ini adalah karena bulan Sya’ban adalah bulan yang dilalaikan oleh manusia sebagaimana disebutkan dalam hadits Usamah ketika bertanya kepada Rasulullah. Sahabat Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah:

يَا رَسُولَ اللهِ لِمَ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَان قَالَ ذَلِكَ شَهْرُ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلىَ رَبِّ العَالميَنَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Wahai Rasulullah, aku melihat engkau lebih banyak melakukan puasa (sunnah) pada bulan Sya’ban dibandingkan bulan-bulan lainnya. Rasulullah bersabda: ‘Itulah bulan yang manusia lalai darinya yaitu bulan antara bulan Rajab dengan Ramadhan, dan itu adalah bulan dimana di dalamnya amalan-amalan diangkat kepada Rabbul ‘Alamin. Dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.” (HR. an-Nasa’i no. 2357, hadits ini hasan bisa dilihat dalam  “Shahih wa Dha’if Sunan an-Nasa’i” juz 6, hal. 1)

Al-Imam Sirajuddin Ibnul Mulaqqin asy-Syafi’i berkata, “Dan Rasulullah mengkhususkan bulan Sya’ban dengan banyak berpuasa dikarenakan pada bulan tersebut amalan-amalan hamba diangkat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (at-Taudhih, juz 13, hlm. 442)

 

Amalan Bulan Sya’ban Yang Tidak Disyariatkan

Diantara kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh sebagian manusia pada bulan Sya’ban dan dianggap sebagai suatu bentuk ibadah namun tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah adalah mengkhususkan malam Nishfu Sya’ban (tanggal 15 Sya’ban) dengan mengadakan perkumpulan, meramaikan malam tersebut dan melakukan salat berjama’ah pada malam tersebut serta berpuasa pada keesokan harinya. Dan para ulama telah mengingkari kesalahan-kesalahan ini di dalam kitab-kitab mereka, diantaranya adalah para ulama dari kalangan madzhab Syafi’iyyah:

Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i menukilkan ucapan al-Imam asy-Syafi’i di dalam kitabnya “al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyah” juz 1 halaman 184 sebagai berikut:

“… dan seluruh apa yang diriwayatkan dari hadits-hadits yang masyhur (di masyarakat) tentang keutamaan-keutamaan malam ini (malam Jum’at pertama dari bulan Rajab) dan malam Nishfu Sya’ban adalah batil (tidak shahih), mengandung kedustaan dan tidak ada asalnya …”

Al-Imam an-Nawawi asy-Syafi’i menjelaskan:

“Salat yang dikenal dengan salat Raghaib yaitu sebanyak 12 rakaat yang dilakukan antara waktu maghrib dan isya’ di malam Jum’at pertama pada bulan Rajab dan salat yang dilakukan pada malam Nishfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat maka kedua salat ini adalah tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah dan mengandung kemungkaran serta kejelekan …”

Kemudian beliau melanjutkan ucapannya masih pada halaman yang sama:

“… dan janganlah engkau tertipu dengan adanya beberapa hadits yang menyebutkan tentang (disyariatkannya) kedua salat itu, karena sesungguhnya itu semuanya adalah batil (tidak shahih) dan jangan pula tertipu dengan sebagian orang yang tersamarkan atasnya hukum kedua salat tersebut dari kalangan para ulama yang dia membuat tulisan tentang dibolehkannya kedua salat tersebut, maka sesungguhnya yang demikian adalah keliru. Dan sungguh asy-Syaikh al-Imam Abu Muhammad ‘Abdurrahman bin Isma’il al-Maqdisi telah menulis suatu kitab yang sangat berharga tentang tidak disyariatkannya 2 salat tersebut, beliau membahasnya dengan baik dan bagus di dalam kitab tersebut.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, juz 4 hlm. 56)

Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i juga menegaskan:

“Termasuk dari amalan yang tidak diajarkan oleh Rasulullah dan merupakan kejelekan adalah salat Raghaib pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab dan salat Nishfu Sya’ban. Dan hadits yang menerangkan tentang kedua amalan tersebut adalah tidak shahih. An-Nawawi dan ulama selain beliau juga telah mengingkari dengan keras kedua amalan tersebut.” (Al-Manhaj al-Qowim juz 1 hlm. 288)

 

Hadits-Hadits Lemah Seputar Sya’ban

إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ؛ نَادَى مُنَادٍ : هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ ، هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ ؟ فَلَا يَسْأَلُ أَحَدٌ شَيْئًا إِلَّا أُعْطِيَ ، إِلَّا زَانِيَةٌ بِفَرْجِهَا ، أَوْ مُشْرِكٌ

“Apabila telah tiba malam pertengahan pada bulan Sya’ban (Nishfu Sya’ban) maka ada suara yang menyerukan (Allah): ‘Barangsiapa yang meminta ampun (kepada-Ku) maka akan Aku ampuni dia, Barangsiapa yang meminta (kepada-Ku) maka akan Aku penuhi permintaannya’, maka tidaklah seorang meminta sesuatu (kepada Allah) melainkan akan dipenuhi permintaannya. Kecuali seorang wanita pezina atau orang yang menyekutukan Allah.”

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab “Syuabul Iman” no. 3836 dari jalan Jami’ bin Shabih ar-Ramli dari Markhum bin ‘Abdul ‘Aziz dari Dawud bin Abdurrahman dari Hisyam bin Hassan dari al-Hasan dari sahabat ‘Utsman bin Abil ‘Ash.

Hadits ini adalah lemah karena di dalam sanadnya terdapat 2 cacat. Yang pertama adalah ‘an’anah-nya seorang rawi yang bernama al-Hasan (al-Bashri) dan dia dikenal sebagai seorang rawi mudallis. Yang kedua adalah kelemahan seorang rawi yang bernama Jami’ bin Shabih ar-Ramli. (Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah, juz 14, hlm. 1099)

خَمْسُ لَيَالٍ لاَ تُرَدُّ فِيْهِنَّ الدَّعْوَة : أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَلَيْلَةُ الجُمْعَةِ وَلَيْلَةُ الفِطْرِ وَلَيْلَةِ النَّحْرِ

“Ada 5 malam yang tidak akan ditolak doa orang yang berdoa di dalamnya: awal malam dari bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam ‘Idul Fithri dan malam ‘Idul Adha.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam kitab “Tarikh Dimasyq” no. 1452 dari jalan Abu Sa’id Bandar bin ‘Umar dengan sanadnya dari Ibrahim bin Abi Yahya dari Abu Qa’nab dari sahabat Abu Umamah.

Hadits ini adalah palsu karena di dalamnya sanadnya terdapat 2 orang rawi yang dikenal sebagai pendusta yaitu Abu Sa’id Bandar bin Umar dan Ibrahim bin Abi Yahya.

Al-Imam Sirajuddin Ibnu Mulaqqin asy-Syafi’i mengatakan, “Tidak ada hadits yang shahih yang menerangkan tentang masalah (pengkhususan) salat pada malam Nishfu Sya’ban.” (at-Taudhih, juz 13, hlm. 445)

Al-Hafizh Zainuddin Abul Fadhl al-‘Iraqi asy-Syafi’i mengatakan, “Hadits tentang pengkhususan salat pada malam Nishfu Sya’ban adalah palsu atas nama Rasulullah dan kedustaan atas nama beliau.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, juz 1, hlm. 190)

Kesimpulan: Para ulama ahli hadits telah meneliti bahwa semua hadits yang menyebutkan tentang keutamaan meramaikan malam Nishfu Sya’ban dengan salat atau yang lainnya dan berpuasa pada siang harinya tidak ada satu pun yang shahih yang dapat dijadikan pegangan untuk beramal.

 

Sumber : http://www.darussalaf.or.id/fiqih/amalan-amalan-pada-bulan-syaban/

 

Posted in Islamic | No Comments »

Mengolok-Olok Agama Hanya Membuahkan Kehidupan yang Sengsara

Posted by totoharyanto on 7th April 2018

اِنَّا كَفَيۡنٰكَ الۡمُسۡتَهۡزِءِيۡنَۙ

Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami menjaga engkau (Muhammad) dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (engkau).” (al-Hijr: 95)

Dakwah yang diemban oleh para nabi dan rasul tidak selamanya berjalan mulus. Selalu saja ada rintangan dan cobaan yang menghadangnya.

Di antara cobaan yang pasti dialami oleh setiap nabi dan rasul di setiap zaman adalah cemoohan dan olok-olokan dari para penentangnya. Julukan dan panggilan yang amat menyakitkan senantiasa hinggap di pendengaran utusan-utusan Allah tersebut.

Allah berfirman (artinya), “Demikianlah tidak ada seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila.” adz-Dzariyat: 52)

Ini merupakan sunnatullah (ketetapan Allah ) yang mesti terjadi. Sejak zaman dahulu, sekarang, hingga akhir zaman nanti, selalu ada pihak-pihak yang mengolok-olok agama Allah dan mencemooh orang-orang yang mendakwahkannya.

Di mana ada nabi, di situ pulalah ada sekelompok penentang dan pengolok-oloknya. Setiap kali kebenaran disuarakan, ada saja pihak-pihak yang dengan lantangnya mencemooh kebenaran tersebut.

Termasuk janji Allah , bahwa akhir yang indah akan berada di pihak pengusung kebenaran. Adapun yang mengolok-olok, kesengsaraanlah yang pasti akan dirasakan. Menyesal selamanya. Allah berfirman (artinya), “Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.” (Yasin: 30)

Mengolok-olok Rasul merupakan sebab segala bentuk kesengsaraan, adzab dan hukuman. (Lihat Taisirul Karimir Rahman, hal. 695)

Nabi Muhammad dan Ajarannya Juga Diolok-olok dan Dicemooh

Sebagai utusan Allah , nabi Muhammad pun mengalami hal yang sama sebagaimana yang dialami oleh para Rasul sebelum beliau. Diolok-olok, dicemooh dan diejek oleh kaumnya sendiri. Allah berfirman kepada nabi Muhammad (artinya), “Dan sungguh, beberapa Rasul sebelum engkau (Muhammad) telah diperolok-olokkan, sehingga turunlah adzab kepada orang-orang yang mencemoohkan itu sebagai balasan olok-olokan mereka.” (al-An’am: 10)

Kondisi seperti ini tidak lantas menyebabkan beliau mundur dari dakwah. Apapun resikonya, agama Islam terus beliau serukan di tengah-tengah umat dengan penuh kesabaran.

Adapun orang-orang yang mengolok-olok beliau dan mencemooh ajaran yang beliau bawa, maka Allahlah yang akan membalasnya. Allah berfirman (artinya), “Sesungguhnya Kami menjaga engkau (Muhammad) dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (engkau).” (al-Hijr: 95)

Ini adalah janji Allah kepada Rasul-Nya, bahwa Dia akan menjaga dan memelihara Rasulullah serta ajarannya dari gangguan dan kejahatan orang yang mengolok-oloknya. Cukup Allahlah yang akan menimpakan kepada mereka berbagai macam adzab dan bencana.

Sungguh Allah benar-benar melakukannya. Tidaklah ada seorang pun yang menampakkan sikap olok-olokannya kepada Rasulullah dan syariat yang beliau bawa, melainkan pasti Allah akan binasakan dia dan Allah matikan dia dengan seburuk-buruk kematian. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 435)

Mati Mengenaskan Karena Mengolok-olok Rasulullah

Al-Imam Ibnu Katsir menyebutkan sebuah riwayat dalam tafsirnya, bahwa tokoh-tokoh musyrikin yang paling suka mengolok-olok Rasulullah dan ajaran beliau, ada 5 orang yaitu: al-Aswad bin al-Muththalib, al-Aswad bin Abdu Yaghuts, al-Walid bin al-Mughirah, al-‘Ash bin Wail dan al-Harits bin ath-Thalathilah. Mereka adalah para pembesar yang memiliki kedudukan dan pengaruh di tengah-tengah kaumnya.

Tatkala kejahatan mereka sudah melampaui batas dan sangat gencar olok-olokannya terhadap Rasulullah, Allah pun menurunkan ayat-Nya (artinya), “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami menjaga engkau dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (engkau). (Yaitu) orang-orang yang menganggap adanya sesembahan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya).” (al-Hijr: 94-96)

Kelima tokoh tersebut mengalami akhir hidup yang mengenaskan disebabkan kejahatan yang mereka perbuat.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, malaikat Jibril pernah mendatangi Rasulullah ketika beliau sedang thawaf mengelilingi Ka’bah. Malaikat Jibril berdiri dan Rasulullah juga berdiri di sampingnya.

Kemudian malaikat Jibril membawa Rasulullah kepada al-Aswad bin al-Muththalib. Malaikat Jibril lalu melemparkan sesuatu berwarna kehitaman ke wajah al-Aswad, sehingga ia pun menjadi buta.

Setelah itu malaikat Jibril membawa Rasulullah kepada al-Aswad bin Abdu Yaghuts. Malaikat Jibril menunjuk ke arah perutnya, sehingga perutnya pun terasa minta diisi air terus dan akhirnya ia mati dalam keadaan perutnya menggelembung.

Malaikat Jibril lalu membawa Rasulullah kepada al-Walid bin al-Mughirah. Malaikat Jibril menunjuk ke arah bekas luka yang berada di bawah mata kakinya. Luka itu sudah dideritanya sejak dua tahun yang lalu, sehingga al-Walid senantiasa menjulurkan pakaiannya (untuk menutupi luka tersebut).

Luka itu bermula ketika ia melewati seseorang dari Bani Khuza’ah yang sedang memasang bulu pada anak panahnya. Tiba-tiba ada salah satu anak panah yang menyangkut pada pakaian yang dikenakan al-Walid dan melukai kakinya. Sebenarnya lukanya itu tidak begitu parah, namun setelah ditunjuk oleh malaikat Jibril, lukanya menjadi parah dan menyebabkan kematiannya.

Kemudian malaikat Jibril membawa Rasulullah kepada al-‘Ash bin Wail. Malaikat Jibril lalu menunjuk ke arah telapak kakinya. Setelah itu, al-‘Ash keluar mengendarai keledainya menuju Thaif. Sesampainya di sana, ia menambatkan keledainya di tempat yang ternyata banyak durinya. Akhirnya duri-duri itu menancap ke kaki al-‘Ash dan ia pun mati karenanya.

Setelah itu malaikat Jibril membawa Rasulullah kepada al-Harits bin ath-Thalathilah. Kemudian malaikat Jibril menunjuk ke arah kepalanya, sehingga ia mengeluarkan ingus berupa nanah dan akhirnya ia mati karenanya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, [2/754])

Demikianlah kisah tragis yang dialami oleh para penentang Rasulullah .

Beberapa Hikmah dan Pelajaran Berharga

Para pembaca rahimakumullah.

Dahulu nabi dan rasul merasakan gangguan dan cemoohan dari kaumnya karena mendakwahkan risalah Allah . Kini, penerus dakwah para Nabi dan Rasul juga pasti akan mengalami hal yang sama.

Selama roda kehidupan ini masih berputar, siapa saja yang mengamalkan, mendakwahkan dan mengajarkan seperti ajaran para Nabi dan Rasul, pasti akan senantiasa diolok-olok oleh penentangnya.

Oleh sebab itu, bagi setiap da’i di jalan Allah hendaknya tidak merasa takut dan sedih! Bersiaplah menghadapi rintangan dakwah yang pasti menghadang. Ejekan, cemoohan dan olok-olokan itu jangan menyebabkan mundur dari dakwah. Biarkan mereka, Allah sendiri yang akan membalas perbuatan jahat para musuh yang merintangi hamba yang meniti jalan-Nya.

Sejarah membuktikan, bahwa para penentang dakwah itu pasti akan merasakan hukuman dan adzab yang pedih. Cepat atau lambat, hidupnya sengsara dan matinya mengenaskan.

Ada sebuah hikayat yang menyebutkan tentang sikap pencemooh terhadap sabda Rasulullah (artinya), “Apabila salah seorang di antara kalian bangun tidur, maka janganlah mencelupkan tangannya ke dalam bejana sampai dia mencucinya terlebih dahulu, hal itu karena dia tidak tahu di mana tangannya bermalam.”

Menanggapi hadits Rasulullah tersebut, orang tadi malah mengatakan -dengan maksud mengejek-, “Aku mengetahui di mana tanganku bermalam di atas tempat tidur.”

Pada pagi harinya, dia mendapati telapak hingga pergelangan tangannya sudah masuk ke dalam duburnya. (Faidhul Qadhir 1/278)

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah .

Hendaknya umat Islam memiliki komitmen yang kuat untuk mengamalkan ajaran dan sunnah Rasulullah, mencintainya dan mendakwahkannya. Jangan jadikan cemoohan itu sebagai alasan untuk lari dari ajaran Islam yang murni.

Dahulu, tidak hanya Nabi dan Rasul saja yang mendapatkan cemoohan dan caci makian, para pengikutnya pun juga diganggu, dicaci, diejek dan bahkan ada yang dibunuh demi tegaknya ajaran agama Allah di muka bumi.

Sangat memprihatinkan, tidak sedikit cemoohan terhadap ajaran Rasulullah ini dilakukan oleh sebagian kaum muslimin sendiri. Setiap muslim pasti mengklaim cinta Rasul dan memuliakan Rasul, namun kenyataannya tidak sedikit pula yang ternyata tidak senang dengan sebagian ajaran beliau. Hal ini terjadi karena jauhnya mereka dari ilmu yang diajarkan oleh Rasulullah .

Akhirnya, dakwah tauhid yang diemban Rasul pun dicibir dan sunnah Rasul pun dipinggirkan. Bahkan muncul pula sikap anti, sinis dan menjuluki orang-orang yang memiliki komitmen menjalankan sunnah dan ajaran Rasul sebagai orang yang fanatik, kolot, tekstual, tidak bisa diajak maju dan berbagai penilaian negatif lainnya.

Kita khawatir, sikap-sikap seperti itu termasuk bentuk ejekan, cemoohan dan olok-olokan terhadap agama Allah yang akan mengundang adzab-Nya. Na’udzubillahi min dzalik.

Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis: Ustadz Abu Abdillah

Sumber : http://buletin-alilmu.net/2018/03/13/mengolok-olok-agama-hanya-membuahkan-kehidupan-yang-sengsara/

Channel Telegram : https://telegram.me/buletinalilmu

Posted in Islamic | No Comments »