TOTO HARYANTO

Sedikit goresan menebar manfaat …..

Archive for the 'Islamic' Category

Amalan-Amalan Pada Bulan Sya’ban

Posted by totoharyanto on 18th April 2018

Pembaca yang budiman, tidak terasa saat ini kita sudah masuk bulan Sya’ban tahun 1439H. Ada baiknya kita menambah pengetahuan kita terkait dengan bulan ini. Semoga menambah khazanah keilmuan kita dan Alloh memudahkan kita untuk beramal dengannya. Aamiin…

Selamat membaca :

 

‘Aisyah berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Rasulullah biasa berpuasa sampai kami mengatakan beliau tidak berbuka dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak berpuasa. Aku sama sekali tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa secara sempurna dalam sebulan kecuali pada bulan Ramadhan dan aku juga tidak pernah melihat beliau paling banyak berpuasa (dalam sebulan) dari berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. al-Bukhari no. 1833 dan Muslim no. 1956)

 

Para pembaca yang berbahagia.

Bulan Sya’ban merupakan bulan kedelapan dalam penanggalan hijriyah. Kalau ada yang bertanya mengapa bulan ini dinamakan dengan “Sya’ban”?

Al-Imam Sirajuddin Ibnul Mulaqqin asy-Syafi’i dalam kitab “at-Taudhih” juz 13 halaman 445 menukilkan ucapan Ibnu Duraid bahwa bulan ini dinamakan dengan “Sya’ban” (berpencar) karena berpencarnya orang-orang Arab pagan (para penyembah berhala) dahulu, yaitu mereka berpencar dan berpisah pada bulan ini untuk mencari air.

Dan ada yang mengatakan karena pada bulan tersebut orang-orang Arab berpencar dalam penyerangan dan penyerbuan. Ada pula yang mengatakan “Sya’ban” juga berarti nampak atau lahir karena bulan ini nampak atau lahir diantara bulan Ramadhan dan Rajab.

 

Amalan Bulan Sya’ban Yang Disyariatkan

Adapun amalan yang disyariatkan pada bulan Sya’ban adalah banyak melakukan puasa pada bulan tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah dalam hadits diatas. Dan masih banyak hadits lain yang menerangkan tentang amalan puasa Sya’ban.

Namun yang perlu kita ingat dalam hal ini adalah tidak boleh mengkhususkan untuk berpuasa pada hari-hari tertentu di bulan Sya’ban apakah di awal bulan, pertengahan bulan (Nishfu Sya’ban) atau akhir bulan, dikarenakan Rasulullah sendiri tidak pernah mengkhususkannya.

Mengapa Rasulullah tidak menyempurnakan puasa satu bulan penuh pada bulan Sya’ban?

Al-Imam Sirajuddin Ibnul Mulaqqin asy-Syafi’i menjawab, “Yaitu agar jangan sampai orang menyangka bahwasanya puasa (pada bulan) tersebut hukumnya adalah wajib.” (at-Taudhih, juz 13, hlm. 443)

 

Hikmah Puasa Sya’ban

Para ulama telah berbeda pendapat di dalam menguraikan hikmah dari banyaknya puasa Rasulullah pada bulan Sya’ban, diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Ada yang mengatakan karena Rasulullah sering melakukan safar (bepergian) atau keperluan lainnya sehingga terhalang dari melakukan puasa sunnah 3 hari tiap bulannya, maka beliau menggabungkan jumlah puasa sunnah 3 hari tiap bulan yang ditinggalkan dan ditunaikannya pada bulan Sya’ban.
  2. Karena dalam rangka mengagungkan bulan Ramadhan.
  3. Istri-istri beliau mengqadha (membayar) puasa yang ditinggalkan pada bulan Ramadhan sebelumnya pada bulan Sya’ban maka beliau pun ikut menemani puasa bersama mereka.
  4. Karena bulan Sya’ban adalah bulan yang dilalaikan oleh manusia. Padahal dalam bulan tersebut terdapat suatu keutamaan yaitu amalan-amalan yang dilakukan pada bulan tersebut akan diangkat kepada Allah. Dan Rasulullah ingin agar amalannya diangkat dalam keadaan sedang berpuasa.

Al-Imam asy-Syaukani menyebutkan dalam kitab “Nailul Authar” juz 4 halaman 331 bahwa hikmah yang lebih tepat dalam hal ini adalah karena bulan Sya’ban adalah bulan yang dilalaikan oleh manusia sebagaimana disebutkan dalam hadits Usamah ketika bertanya kepada Rasulullah. Sahabat Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah:

يَا رَسُولَ اللهِ لِمَ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَان قَالَ ذَلِكَ شَهْرُ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلىَ رَبِّ العَالميَنَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Wahai Rasulullah, aku melihat engkau lebih banyak melakukan puasa (sunnah) pada bulan Sya’ban dibandingkan bulan-bulan lainnya. Rasulullah bersabda: ‘Itulah bulan yang manusia lalai darinya yaitu bulan antara bulan Rajab dengan Ramadhan, dan itu adalah bulan dimana di dalamnya amalan-amalan diangkat kepada Rabbul ‘Alamin. Dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.” (HR. an-Nasa’i no. 2357, hadits ini hasan bisa dilihat dalam  “Shahih wa Dha’if Sunan an-Nasa’i” juz 6, hal. 1)

Al-Imam Sirajuddin Ibnul Mulaqqin asy-Syafi’i berkata, “Dan Rasulullah mengkhususkan bulan Sya’ban dengan banyak berpuasa dikarenakan pada bulan tersebut amalan-amalan hamba diangkat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (at-Taudhih, juz 13, hlm. 442)

 

Amalan Bulan Sya’ban Yang Tidak Disyariatkan

Diantara kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh sebagian manusia pada bulan Sya’ban dan dianggap sebagai suatu bentuk ibadah namun tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah adalah mengkhususkan malam Nishfu Sya’ban (tanggal 15 Sya’ban) dengan mengadakan perkumpulan, meramaikan malam tersebut dan melakukan salat berjama’ah pada malam tersebut serta berpuasa pada keesokan harinya. Dan para ulama telah mengingkari kesalahan-kesalahan ini di dalam kitab-kitab mereka, diantaranya adalah para ulama dari kalangan madzhab Syafi’iyyah:

Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i menukilkan ucapan al-Imam asy-Syafi’i di dalam kitabnya “al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyah” juz 1 halaman 184 sebagai berikut:

“… dan seluruh apa yang diriwayatkan dari hadits-hadits yang masyhur (di masyarakat) tentang keutamaan-keutamaan malam ini (malam Jum’at pertama dari bulan Rajab) dan malam Nishfu Sya’ban adalah batil (tidak shahih), mengandung kedustaan dan tidak ada asalnya …”

Al-Imam an-Nawawi asy-Syafi’i menjelaskan:

“Salat yang dikenal dengan salat Raghaib yaitu sebanyak 12 rakaat yang dilakukan antara waktu maghrib dan isya’ di malam Jum’at pertama pada bulan Rajab dan salat yang dilakukan pada malam Nishfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat maka kedua salat ini adalah tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah dan mengandung kemungkaran serta kejelekan …”

Kemudian beliau melanjutkan ucapannya masih pada halaman yang sama:

“… dan janganlah engkau tertipu dengan adanya beberapa hadits yang menyebutkan tentang (disyariatkannya) kedua salat itu, karena sesungguhnya itu semuanya adalah batil (tidak shahih) dan jangan pula tertipu dengan sebagian orang yang tersamarkan atasnya hukum kedua salat tersebut dari kalangan para ulama yang dia membuat tulisan tentang dibolehkannya kedua salat tersebut, maka sesungguhnya yang demikian adalah keliru. Dan sungguh asy-Syaikh al-Imam Abu Muhammad ‘Abdurrahman bin Isma’il al-Maqdisi telah menulis suatu kitab yang sangat berharga tentang tidak disyariatkannya 2 salat tersebut, beliau membahasnya dengan baik dan bagus di dalam kitab tersebut.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, juz 4 hlm. 56)

Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i juga menegaskan:

“Termasuk dari amalan yang tidak diajarkan oleh Rasulullah dan merupakan kejelekan adalah salat Raghaib pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab dan salat Nishfu Sya’ban. Dan hadits yang menerangkan tentang kedua amalan tersebut adalah tidak shahih. An-Nawawi dan ulama selain beliau juga telah mengingkari dengan keras kedua amalan tersebut.” (Al-Manhaj al-Qowim juz 1 hlm. 288)

 

Hadits-Hadits Lemah Seputar Sya’ban

إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ؛ نَادَى مُنَادٍ : هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ ، هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ ؟ فَلَا يَسْأَلُ أَحَدٌ شَيْئًا إِلَّا أُعْطِيَ ، إِلَّا زَانِيَةٌ بِفَرْجِهَا ، أَوْ مُشْرِكٌ

“Apabila telah tiba malam pertengahan pada bulan Sya’ban (Nishfu Sya’ban) maka ada suara yang menyerukan (Allah): ‘Barangsiapa yang meminta ampun (kepada-Ku) maka akan Aku ampuni dia, Barangsiapa yang meminta (kepada-Ku) maka akan Aku penuhi permintaannya’, maka tidaklah seorang meminta sesuatu (kepada Allah) melainkan akan dipenuhi permintaannya. Kecuali seorang wanita pezina atau orang yang menyekutukan Allah.”

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab “Syuabul Iman” no. 3836 dari jalan Jami’ bin Shabih ar-Ramli dari Markhum bin ‘Abdul ‘Aziz dari Dawud bin Abdurrahman dari Hisyam bin Hassan dari al-Hasan dari sahabat ‘Utsman bin Abil ‘Ash.

Hadits ini adalah lemah karena di dalam sanadnya terdapat 2 cacat. Yang pertama adalah ‘an’anah-nya seorang rawi yang bernama al-Hasan (al-Bashri) dan dia dikenal sebagai seorang rawi mudallis. Yang kedua adalah kelemahan seorang rawi yang bernama Jami’ bin Shabih ar-Ramli. (Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah, juz 14, hlm. 1099)

خَمْسُ لَيَالٍ لاَ تُرَدُّ فِيْهِنَّ الدَّعْوَة : أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَلَيْلَةُ الجُمْعَةِ وَلَيْلَةُ الفِطْرِ وَلَيْلَةِ النَّحْرِ

“Ada 5 malam yang tidak akan ditolak doa orang yang berdoa di dalamnya: awal malam dari bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam ‘Idul Fithri dan malam ‘Idul Adha.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam kitab “Tarikh Dimasyq” no. 1452 dari jalan Abu Sa’id Bandar bin ‘Umar dengan sanadnya dari Ibrahim bin Abi Yahya dari Abu Qa’nab dari sahabat Abu Umamah.

Hadits ini adalah palsu karena di dalamnya sanadnya terdapat 2 orang rawi yang dikenal sebagai pendusta yaitu Abu Sa’id Bandar bin Umar dan Ibrahim bin Abi Yahya.

Al-Imam Sirajuddin Ibnu Mulaqqin asy-Syafi’i mengatakan, “Tidak ada hadits yang shahih yang menerangkan tentang masalah (pengkhususan) salat pada malam Nishfu Sya’ban.” (at-Taudhih, juz 13, hlm. 445)

Al-Hafizh Zainuddin Abul Fadhl al-‘Iraqi asy-Syafi’i mengatakan, “Hadits tentang pengkhususan salat pada malam Nishfu Sya’ban adalah palsu atas nama Rasulullah dan kedustaan atas nama beliau.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, juz 1, hlm. 190)

Kesimpulan: Para ulama ahli hadits telah meneliti bahwa semua hadits yang menyebutkan tentang keutamaan meramaikan malam Nishfu Sya’ban dengan salat atau yang lainnya dan berpuasa pada siang harinya tidak ada satu pun yang shahih yang dapat dijadikan pegangan untuk beramal.

 

Sumber : http://www.darussalaf.or.id/fiqih/amalan-amalan-pada-bulan-syaban/

 


Posted in Islamic | No Comments »

Mengolok-Olok Agama Hanya Membuahkan Kehidupan yang Sengsara

Posted by totoharyanto on 7th April 2018

اِنَّا كَفَيۡنٰكَ الۡمُسۡتَهۡزِءِيۡنَۙ

Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami menjaga engkau (Muhammad) dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (engkau).” (al-Hijr: 95)

Dakwah yang diemban oleh para nabi dan rasul tidak selamanya berjalan mulus. Selalu saja ada rintangan dan cobaan yang menghadangnya.

Di antara cobaan yang pasti dialami oleh setiap nabi dan rasul di setiap zaman adalah cemoohan dan olok-olokan dari para penentangnya. Julukan dan panggilan yang amat menyakitkan senantiasa hinggap di pendengaran utusan-utusan Allah tersebut.

Allah berfirman (artinya), “Demikianlah tidak ada seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila.” adz-Dzariyat: 52)

Ini merupakan sunnatullah (ketetapan Allah ) yang mesti terjadi. Sejak zaman dahulu, sekarang, hingga akhir zaman nanti, selalu ada pihak-pihak yang mengolok-olok agama Allah dan mencemooh orang-orang yang mendakwahkannya.

Di mana ada nabi, di situ pulalah ada sekelompok penentang dan pengolok-oloknya. Setiap kali kebenaran disuarakan, ada saja pihak-pihak yang dengan lantangnya mencemooh kebenaran tersebut.

Termasuk janji Allah , bahwa akhir yang indah akan berada di pihak pengusung kebenaran. Adapun yang mengolok-olok, kesengsaraanlah yang pasti akan dirasakan. Menyesal selamanya. Allah berfirman (artinya), “Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.” (Yasin: 30)

Mengolok-olok Rasul merupakan sebab segala bentuk kesengsaraan, adzab dan hukuman. (Lihat Taisirul Karimir Rahman, hal. 695)

Nabi Muhammad dan Ajarannya Juga Diolok-olok dan Dicemooh

Sebagai utusan Allah , nabi Muhammad pun mengalami hal yang sama sebagaimana yang dialami oleh para Rasul sebelum beliau. Diolok-olok, dicemooh dan diejek oleh kaumnya sendiri. Allah berfirman kepada nabi Muhammad (artinya), “Dan sungguh, beberapa Rasul sebelum engkau (Muhammad) telah diperolok-olokkan, sehingga turunlah adzab kepada orang-orang yang mencemoohkan itu sebagai balasan olok-olokan mereka.” (al-An’am: 10)

Kondisi seperti ini tidak lantas menyebabkan beliau mundur dari dakwah. Apapun resikonya, agama Islam terus beliau serukan di tengah-tengah umat dengan penuh kesabaran.

Adapun orang-orang yang mengolok-olok beliau dan mencemooh ajaran yang beliau bawa, maka Allahlah yang akan membalasnya. Allah berfirman (artinya), “Sesungguhnya Kami menjaga engkau (Muhammad) dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (engkau).” (al-Hijr: 95)

Ini adalah janji Allah kepada Rasul-Nya, bahwa Dia akan menjaga dan memelihara Rasulullah serta ajarannya dari gangguan dan kejahatan orang yang mengolok-oloknya. Cukup Allahlah yang akan menimpakan kepada mereka berbagai macam adzab dan bencana.

Sungguh Allah benar-benar melakukannya. Tidaklah ada seorang pun yang menampakkan sikap olok-olokannya kepada Rasulullah dan syariat yang beliau bawa, melainkan pasti Allah akan binasakan dia dan Allah matikan dia dengan seburuk-buruk kematian. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 435)

Mati Mengenaskan Karena Mengolok-olok Rasulullah

Al-Imam Ibnu Katsir menyebutkan sebuah riwayat dalam tafsirnya, bahwa tokoh-tokoh musyrikin yang paling suka mengolok-olok Rasulullah dan ajaran beliau, ada 5 orang yaitu: al-Aswad bin al-Muththalib, al-Aswad bin Abdu Yaghuts, al-Walid bin al-Mughirah, al-‘Ash bin Wail dan al-Harits bin ath-Thalathilah. Mereka adalah para pembesar yang memiliki kedudukan dan pengaruh di tengah-tengah kaumnya.

Tatkala kejahatan mereka sudah melampaui batas dan sangat gencar olok-olokannya terhadap Rasulullah, Allah pun menurunkan ayat-Nya (artinya), “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami menjaga engkau dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (engkau). (Yaitu) orang-orang yang menganggap adanya sesembahan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya).” (al-Hijr: 94-96)

Kelima tokoh tersebut mengalami akhir hidup yang mengenaskan disebabkan kejahatan yang mereka perbuat.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, malaikat Jibril pernah mendatangi Rasulullah ketika beliau sedang thawaf mengelilingi Ka’bah. Malaikat Jibril berdiri dan Rasulullah juga berdiri di sampingnya.

Kemudian malaikat Jibril membawa Rasulullah kepada al-Aswad bin al-Muththalib. Malaikat Jibril lalu melemparkan sesuatu berwarna kehitaman ke wajah al-Aswad, sehingga ia pun menjadi buta.

Setelah itu malaikat Jibril membawa Rasulullah kepada al-Aswad bin Abdu Yaghuts. Malaikat Jibril menunjuk ke arah perutnya, sehingga perutnya pun terasa minta diisi air terus dan akhirnya ia mati dalam keadaan perutnya menggelembung.

Malaikat Jibril lalu membawa Rasulullah kepada al-Walid bin al-Mughirah. Malaikat Jibril menunjuk ke arah bekas luka yang berada di bawah mata kakinya. Luka itu sudah dideritanya sejak dua tahun yang lalu, sehingga al-Walid senantiasa menjulurkan pakaiannya (untuk menutupi luka tersebut).

Luka itu bermula ketika ia melewati seseorang dari Bani Khuza’ah yang sedang memasang bulu pada anak panahnya. Tiba-tiba ada salah satu anak panah yang menyangkut pada pakaian yang dikenakan al-Walid dan melukai kakinya. Sebenarnya lukanya itu tidak begitu parah, namun setelah ditunjuk oleh malaikat Jibril, lukanya menjadi parah dan menyebabkan kematiannya.

Kemudian malaikat Jibril membawa Rasulullah kepada al-‘Ash bin Wail. Malaikat Jibril lalu menunjuk ke arah telapak kakinya. Setelah itu, al-‘Ash keluar mengendarai keledainya menuju Thaif. Sesampainya di sana, ia menambatkan keledainya di tempat yang ternyata banyak durinya. Akhirnya duri-duri itu menancap ke kaki al-‘Ash dan ia pun mati karenanya.

Setelah itu malaikat Jibril membawa Rasulullah kepada al-Harits bin ath-Thalathilah. Kemudian malaikat Jibril menunjuk ke arah kepalanya, sehingga ia mengeluarkan ingus berupa nanah dan akhirnya ia mati karenanya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, [2/754])

Demikianlah kisah tragis yang dialami oleh para penentang Rasulullah .

Beberapa Hikmah dan Pelajaran Berharga

Para pembaca rahimakumullah.

Dahulu nabi dan rasul merasakan gangguan dan cemoohan dari kaumnya karena mendakwahkan risalah Allah . Kini, penerus dakwah para Nabi dan Rasul juga pasti akan mengalami hal yang sama.

Selama roda kehidupan ini masih berputar, siapa saja yang mengamalkan, mendakwahkan dan mengajarkan seperti ajaran para Nabi dan Rasul, pasti akan senantiasa diolok-olok oleh penentangnya.

Oleh sebab itu, bagi setiap da’i di jalan Allah hendaknya tidak merasa takut dan sedih! Bersiaplah menghadapi rintangan dakwah yang pasti menghadang. Ejekan, cemoohan dan olok-olokan itu jangan menyebabkan mundur dari dakwah. Biarkan mereka, Allah sendiri yang akan membalas perbuatan jahat para musuh yang merintangi hamba yang meniti jalan-Nya.

Sejarah membuktikan, bahwa para penentang dakwah itu pasti akan merasakan hukuman dan adzab yang pedih. Cepat atau lambat, hidupnya sengsara dan matinya mengenaskan.

Ada sebuah hikayat yang menyebutkan tentang sikap pencemooh terhadap sabda Rasulullah (artinya), “Apabila salah seorang di antara kalian bangun tidur, maka janganlah mencelupkan tangannya ke dalam bejana sampai dia mencucinya terlebih dahulu, hal itu karena dia tidak tahu di mana tangannya bermalam.”

Menanggapi hadits Rasulullah tersebut, orang tadi malah mengatakan -dengan maksud mengejek-, “Aku mengetahui di mana tanganku bermalam di atas tempat tidur.”

Pada pagi harinya, dia mendapati telapak hingga pergelangan tangannya sudah masuk ke dalam duburnya. (Faidhul Qadhir 1/278)

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah .

Hendaknya umat Islam memiliki komitmen yang kuat untuk mengamalkan ajaran dan sunnah Rasulullah, mencintainya dan mendakwahkannya. Jangan jadikan cemoohan itu sebagai alasan untuk lari dari ajaran Islam yang murni.

Dahulu, tidak hanya Nabi dan Rasul saja yang mendapatkan cemoohan dan caci makian, para pengikutnya pun juga diganggu, dicaci, diejek dan bahkan ada yang dibunuh demi tegaknya ajaran agama Allah di muka bumi.

Sangat memprihatinkan, tidak sedikit cemoohan terhadap ajaran Rasulullah ini dilakukan oleh sebagian kaum muslimin sendiri. Setiap muslim pasti mengklaim cinta Rasul dan memuliakan Rasul, namun kenyataannya tidak sedikit pula yang ternyata tidak senang dengan sebagian ajaran beliau. Hal ini terjadi karena jauhnya mereka dari ilmu yang diajarkan oleh Rasulullah .

Akhirnya, dakwah tauhid yang diemban Rasul pun dicibir dan sunnah Rasul pun dipinggirkan. Bahkan muncul pula sikap anti, sinis dan menjuluki orang-orang yang memiliki komitmen menjalankan sunnah dan ajaran Rasul sebagai orang yang fanatik, kolot, tekstual, tidak bisa diajak maju dan berbagai penilaian negatif lainnya.

Kita khawatir, sikap-sikap seperti itu termasuk bentuk ejekan, cemoohan dan olok-olokan terhadap agama Allah yang akan mengundang adzab-Nya. Na’udzubillahi min dzalik.

Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis: Ustadz Abu Abdillah

Sumber : http://buletin-alilmu.net/2018/03/13/mengolok-olok-agama-hanya-membuahkan-kehidupan-yang-sengsara/

Channel Telegram : https://telegram.me/buletinalilmu


Posted in Islamic | No Comments »

Keutamaan Bulan Rajab

Posted by totoharyanto on 21st March 2018

Bulan Rajab salah satu bulan haram (suci) yang mulia. Bulan Rajab merupakan salah satu dari empat bulan haram yang Allah muliakan. Allah berfirman,

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menzhalimi (menganiaya) diri kalian dalam bulan yang empat itu.” [at-Taubah: 36]

Nabi bersabda,

إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللّٰهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Sesungguhnya zaman telah berputar kembali seperti hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun ada dua belas bulan, di antaranya ada 4 bulan haram. Tiga bulan berturut-turut, yaitu: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan (satu lagi) Rajab–nya suku Mudhar, yakni bulan yang terletak antara Jumadal Akhir dan Sya’ban.” (Muttafaqun ‘alahi, dari shahabat Abu Bakrah)

 

Kenapa disebut bulan Haram?

Keempat bulan tersebut dinyatakan sebagai bulan haram karena kemuliaan dan kehormatannya melebihi bulan-bulan yang lain. Sehingga pada bulan-bulan ini Allah haramkan peperangan, kecuali jika musuh (orang-orang kafir) yang lebih dahulu memulai penyerangan terhadap kaum muslimin.

Dilarang berbuat zhalim

Tentang firman Allah di atas, “Maka janganlah kalian menzhalimi (menganiaya) diri kalian dalam bulan yang empat itu”, Sebagian ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa pada dasarnya perbuatan zhalim dan segala bentuk kemaksiatan – kapan  saja dan di mana saja dikerjakan –   merupakan dosa dan kemungkaran yang besar.

Namun ketika Allah mengkhususkan penyebutan larangan berbuat zhalim pada bulan-bulan haram yang empat sebagaimana ayat di atas, menunjukkan bahwa : kezhaliman dan kemaksiatan yang dilakukan pada bulan-bulan haram tersebut dosanya berlipat gandadibandingkan jika dilakukan pada bulan-bulan yang lain. Berbuat dosa pada hakekatnya adalah perbuatan menzhalimi diri sendiri.

Wajib memuliakan bulan-bulan haram

Wajib atas setiap muslim untuk memuliakan syiar-syiar yang Allah muliakan. Allah berfirman,

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”  (al-Hajj: 32)

Bulan-bulan haram – di antaranya bulan Rajab – termasuk syiar-syiar Allah yang dihormati dan diagungkan.

Para ulama menyebutkan bahwa amal kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya pada tempat dan waktu yang utama, sebagaimana pula kejahatan dan kemaksiatan akan dilipatgandakan dosanya pada tempat dan waktu yang utama. Maka hendaknya seorang muslim benar-benar waspada dari terjatuh pada kemaksiatan dan dosa setiap waktu dan setiap saat, namun pada bulan-bulan haram lebih ditekankan lagi.

Hadits-hadits tentang keutamaan bulan Rajab

Seorang ulama besar dari kalangan madzhab Syafi’i, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Adapun hadits-hadits yang menyebutkan tentang keutamaan bulan Rajab, keutamaan berpuasa Rajab, atau keutamaan berpuasa beberapa hari pada bulan tersebut, maka terbagi menjadi dua: hadits-haditsnya maudhu’ (palsu) dan hadits-haditsnya dha’if(lemah)  (yakni tidak ada satupun yang shahih, pent).” [Tabyiinul ‘Ajab bi maa Warada Fii Fadhli Rajab, hal. 14 ]

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani juga berkata, “Tidak ada satu hadits shahih pun yang bisa dijadikan hujjah (argumen/dasar hukum) tentang keutamaan bulan Rajab, tidak pula keutamaan berpuasa padanya, tidak pula keutamaan puasa di hari-hari tertentu padanya dan tidak pula shalat malam secara khusus padanya. Al-Imam Abu Ismail al-Harawi al-Hafizh telah mendahului memastikan hal ini.”  [Tabyiinul ‘Ajab bi maa Warada Fii Fadhli Rajab,hal. 11]

Ibnu Rajab mengatakan, “Tidak shahih tentang adanya shalat tertentu di bulan Rajab yang khusus di bulan tersebut. Hadits-hadits yang diriwayatkan tentang keutamaan shalat Raghaib pada malam Jum’at pertama dari bulan Rajab adalah dusta dan shalat ini tidak dituntunkan menurut jumhur (mayoritas) ulama’.” (Latha’if al-Ma’arif,  hal.  118)

Ibnu Rajab juga menegaskan, “Adapun puasa, maka tidak sah satu hadits pun dari Nabi,tidak pula dari ucapan shahabatnya tentang keutamaan puasa pada bulan Rajab secara khusus.” (Latha’if al-Ma’arif, hal. 118)

Tidak ada amal ibadah khusus pada bulan Rajab

Para pembaca rahimakumullah, berdasarkan penjelasan para ulama di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak ada amalan ibadah khusus baik puasa maupun shalat ataupun yang lainnya di bulan Rajab. Sehingga tidak sepantasnya seorang muslim melakukan amalan  ibadah khusus di bulan Rajab karena hal itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para shahabatnya. Ketahuilah wahai para pembaca, bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi Muhammad. Maka mencukupkan diri dengan yang telah dicontohkan oleh beliau dalam beribadah merupakan jalan keselamatan.

Apa itu Shalat Raghaib?

Shalat Raghaib adalah shalat yang biasa dikerjakan pada malam Jum’at pertama bulan Rajab, sebanyak 12 raka’at. Waktu pelaksanaannya adalah antara maghrib dan isya’. Tak jarang juga didahului dengan puasa pada Kamis siangnya.

Diriwayatkan sebuah hadits yang panjang, berikut petikannya, “Tidaklah seorang pun berpuasa hari Kamis pertama pada bulan Rajab, lalu mengerjakan shalat antara maghrib dan isya, yakni pada malam Jum’at sebanyak 12 raka’at … Demi Allah tidaklah seorang hamba mengerjakan shalat ini kecuali akan diampuni seluruh dosanya walaupun sebanyak buih di lautan dan sejumlah daun pepohonan … “

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani menjelaskan bahwa hadits tersebut adalah palsu. Karena periwayat hadits tersebut yang bernama ‘Ali bin Abdullah bin Jahdham ash-Shufi adalah seorang pendusta. (lihat Tabyin al-‘Ajab, hal. 36). Dalam kitab Mizanul I’tidal  (3/142-143) karya al-Imam adz-Dzahabi dijelaskan bahwa ‘Ali bin Abdullah bin Jahdham ini tertuduh telah memalsukan hadits. Para ‘ulama pakar hadits mencurigainya telah memalsukan hadits tentang shalat Raghaib.

Al-Imam an-Nawawi, salah seorang ulama terkemuka dari madzhab Syafi’iyyah menjelaskan bahwa shalat Raghaib ini, yaitu shalat 12 raka’at dikerjakan antara maghrib dan isya’ pada malam Jum’at pertama bulan Rajab tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah maupun para shahabat beliau dan hadits-hadits yang menyebutkan tentang shalat Raghaib adalah hadits-hadits tidak sah. Bahkan beliau mengingatkan kita untuk tidak terpengaruh dengan kitab-kitab yang menyebutkan tentang shalat Raghaib. (lihat kitab beliau “al-Majmu Syarhul Muhadzdzab” (4/56)

Isra’ Mi’raj apakah terjadi pada bulan Rajab?

Al-Imam ash-Shan’ani penulis kitab Subulus Salam mengatakan, “Isra’ Mi’raj terjadi pada malam tertentu. Namun tidak ada satu pun hadits shahih yang menegaskan kapan malam tersebut.” (At-Tanwir Syarh al-Jami’ ash-Shaghir, 9/303)

Para ulama berbeda pendapat tentang kapan terjadinya Isra’ Mi’raj. Sebagian ada yang berpendapat terjadi pada bulan Rajab, sebagian lagi ada yang berpendapat pada bulan Rabi’ul Awal, dan ada beberapa pendapat lainnya. Al-Imam an-Nawawi dalam kitabnya Ar-Raudhah menegaskan bahwa Isra’ Mi’raj terjadi pada bulan Rajab. Namun  dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim, an-Nawawi menegaskan bahwa itu terjadi pada bulan Rabi’ul Akhir.

Adapun al-Hafizh Isma’il bin Katsir ad-Dimasyqi yang juga bermadzhab Syafi’i mengatakan, “al-Hafizh Abdul Ghani telah menyebutkan sebuah hadits dengan sanadnya tidak shahih  bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada malam ke-27 Rajab. Ada yang meyakini bahwa Isra’ Mi’raj terjadi pada malam Jum’at pertama dari bulan Rajab. Yaitu malam Raghaib yang telah dibuat-buat shalat yang terkenal padanya. Namun pendapat itu tidak ada dasar hukumnya.” (al-Bidayah wa an-Nihayah 3/135)

Ulama madzhab Syafi’i lainnya, bernama Ali bin Ibrahim bin al-‘Athar mengatakan, “Sebagian pihak menyebutkan bahwa Isra’ Mi’raj terjadi padanya (bulan Rajab), namun pendapat tersebut tidak kuat.”  [Hukmu Shaumi Rajab wa Sya’ban … hal. 34]

Beramal berdasarkan al-Qur’an dan hadits yang shahih atau hasan

Maka bulan Rajab yang mulia ini, kita isi dengan amal-amal shalih sebagaimana yang berlaku pada bulan-bulan lainnya. Seperti puasa Senin Kamis, Puasa Dawud, shalat Tahajjud, shadaqah, silaturrahmi, dan berbagai amal shalih lainnya. Karena dikerjakan pada bulan haram, dalam hal ini bulan Rajab, maka amal-amal shalih tersebut bernilai lebih besar pahalanya jika dibandingkan ketika dikerjakan di luar bulan haram. Sebagaimana kemaksiatan yang dilakukan pada bulan haram dosanya menjadi lebih besar jika dibandingkan ketika dikerjakan di luar bulan haram.

Wallahu a’lamu bishshawab.

Penulis: Ustadz Abu Amr Alfian

Sumber : http://buletin-alilmu.net/2017/07/02/keutamaan-bulan-rajab/


Posted in Islamic | No Comments »

SUDAHKAH MENDIRIKAN SHALAT?

Posted by totoharyanto on 19th January 2018

Definisi Shalat
Shalat secara etimologi bermakna doa, sedangkan ditinjau dari terminologi syari’at bermakna suatu peribadatan kepada Allah yang terdiri dari ucapan dan perbuatan tertentu, diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. (Taisirul ‘Allam 1/104)
Kapan Disyari’atkan Shalat ? 
Shalat lima waktu disyariatkan pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj Rasulullah ?. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik, bahwasanya suatu malam ketika Beliau ? sedang berada di rumah Ummu Hani’ di Makkah turunlah Jibril ? atas perintah Allah dengan tugas membawa Beliau ? naik kelangit menghadap Allah guna menerima perintah shalat.
Maka didatangkanlah dihadapan Beliau seekor Buraq—lebih besar dari keledai tapi lebih kecil dari bighal (peranakan kuda dengan keledai)—yang langkah kakinya sejauh mata memandang.
Kemudian Jibril membawa naik ke langit ketujuh. Setiap kali melewati lapisan langit Rasulullah bertemu dengan para rasul dan nabi. Sampai akhirnya Beliau tiba di Sidratul Muntaha yang tidak ada satu makhlukpun yang dapat menjelaskan keindahannya. Di tempat inilah Beliau menerima perintah shalat lima waktu.
Demikian juga kisah Isra’ dan Mi’raj dapat kita jumpai dalam Al Qur’an. Allah berfirman tentang Isra’:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ اْلأَقْصَا الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al Isra’: 1)
Dan tentang mi’raj:
وَ لَقَدْ رَءَاهُ نَزْلَةً أُخْرَى ، عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى ، عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى ، إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَايَغْشَى ، مَازَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى ، لَقَدْ رَأَى مِنْ ءَايَتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى.
“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatan (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar” (QS. An Najm:13-18)
Kenapa dinamakan Sidratul Muntaha? Asy Syaikh As Sa’dy di dalam Taisiirul Karimir Rahman hal. 819 menjelaskan: “Ia adalah pohon yang sangat besar sekali, dinamakan Sidratul Muntaha karena kepadanyalah berhenti semua urusan yang naik dari bumi dan tempat turunnya apa-apa yang diturunkan oleh Allah baik wahyu ataupun yang lainnya. Atau batas terakhir dari apa yang bisa diketahui oleh makhluk, karena letaknya yang tinggi di ataslangit dan bumi. Waallahu a’lam.”

Kewajiban Mendirikan Shalat
Kewajiban mendirikan shalat ini demikian jelasnya di dalam Al Qur’an dan As Sunnah serta ijma’ ulama.
Allah berfirman:
وَأَقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِيْنَ
“Dan dirikanlah Shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (Al Baqarah: 43)
وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَآءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَ يُؤْتُوا الزَكَاةَ وَذَلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidaklah disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al Bayyinah: 5)
Rasulullah bersabda:
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوني أُصَلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Al Bukhari)
Para ulama menjelaskan bahwa asal dari suatu perintah dalam perkara agama adalah wajib. Dan ia tetap berada dalam kewajibannya sampai ada dalil lain yang memalingkannya. Nah, karena kewajiban shalat tidak ada dalil lain yang memalingkannya, maka ia pun tetap dalam keadaan wajib.

Keutamaan Shalat
Shalat yang kita kerjakan dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Hal ini bisa diraih jika seorang hamba benar-benar meniatkan di dalam hatinya, menjalankan rukun dan syaratnya, khusyu’ dan membersihkan jiwanya (dari setiap perkara yang dapat menghilangkan kekhusyu’an), meningkatkan iman, benar-benar punya ghirah (semangat) untuk melaksanakan kebaikan dan menjauhi kejelekan; berkesinambungan dalam melaksanakan hak-hak shalat, maka tercegahlah ia dari perbuatan keji dan munkar. (Taisirul Karimirrahman hal. 632)
Lebih dari itu shalat merupakan rukun kedua dari lima rukun Islam. Sebagaimana hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim, Rasulullah ? bersabda:

بُنِيَ الإِسْلاَم عَلى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَ إِقَامِ الصَّلاَةِ وَ إِيْتِاءِ الزَّكَاةِ وَ حَجِّ الْبَيْتِ وَ صَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun di atas lima rukun, bersaksi tiada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah dan Muhammad ? adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji, dan bershaum di bulan Ramadhan.”

Ia pun dapat menjaga darah dan harta seseorang, sebagaimana sabda Rasulullah ?:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أََنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَ يُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَ يٌؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوْا ذَالِكَ عَصَمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَ أَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَـقِّهَا وَحِسَابُـهُمْ عَلَى اللهِ.
“Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat. Apabila mereka telah melakukannya maka mereka telah menjaga darah dan hartanya dariku kecuali dengan haknya, sedangkan hisab mereka di sisi Allah.” (Muttafaqun ‘Alaihi).
Demikian pula shalat merupakan amalan pertama yang dihisab di hari kiamat, jika shalatnya baik maka ia akan sukses, dan bila shalatnya rusak maka ia akan merugi, sebagaimana hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Abu Dawud dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 2571.

Ancaman Meninggalkan Shalat
Allah berfirman:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَواةَ وَ اتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
“Maka datang sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)

Rasulullah ? bersabda:
َاْلعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَ بَيْنَهُمْ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
”Perbedaan antara kami dengan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat, barangsiapa yang meninggalkannya maka ia telah melakukan kekafiran.” (H.R At Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 4143)

Hukum Meninggalkan Shalat
Ulama bersepakat barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja dan mengingkari kewajibannya maka ia telah kafir keluar dari agama islam.
Akan tetapi mereka berbeda pendapat bagi siapa yang meninggalkan-nya karena malas, tersibukkan dengan urusan dunia, sementara dia masih berkeyakinan akan kewajibannya.
Pendapat pertama: sebagian ulama’ berpendapat ia kafir, telah keluar dari agama. Ini adalah pendapat Umar bin Al Khaththab, Abdurrahman bin Auf, Mu’adz bin Jabal, (dan beberapa sahabat yang lainnya), Al Imam Ahmad dan lain-lain. Mereka berdalil dengan firman Allah:
مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ، قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّين…
“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka). Mereka menjawab: ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat…” (Al Muddatstsir: 42-43)
Dan juga sabda Rasulullah ? dari sahabat Jabir bin Abdillah:
إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَ الشِّرْكِ وَ الْكُفْرِ تَرْكُ الصّلاَةِ
“Sesungguhnya pembeda seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat” (HR. Muslim)
Pendapat kedua: sebagian mereka mengatakan bahwa ia masih muslim, belum keluar dari agama. Ini adalah pendapat jumhur ulama dahulu dan sekarang, diantaranya Al Imam Malik, Asy Syafi’i, Abu Hanifah dan yang lainnya. Mereka berdalil dengan firman Allah:
إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ ويَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa dibawah syirik bagi siapa yang di kehendaki-Nya.” (An Nisaa’: 116)
Juga sabda Rasulullah ?:
“Ada lima shalat yang Allah wajibkan kepada hamba-hamba-Nya, maka barangsiapa menunaikannya, niscaya dia mempunyai perjanjian dengan Allah untuk dimasukkannya ke dalam jannah, dan barangsiapa yang tidak melaksanakannya maka dia tidak mempunyai perjanjian dengan Allah. Jika Allah menghendaki niscaya dia akan diadzab, dan jika Allah menghendaki yang lainnya, maka dia dimasukkan ke dalam jannah.” (HR. Ahmad dan Malik, lihat Shohihul Jami’ no. 3238)
Berkata Asy Syaikh Al Albani; “Pendapat yang benar adalah pendapat jumhur…” (Diringkas dari kitab Qawaa’id wa Fawaa’id hal. 55-57, dengan beberapa tambahan)

Nasehat dan Ajakan
Para pembaca yang dimuliakan oleh Allah…
Setelah kita mengetahui kedudukan shalat dan keutamaannya, serta ancaman Allah dan Rasul-Nya terhadap orang-orang yang meninggalkannya, maka marilah kita merenung sejenak…. mengintrospeksi diri kita masing-masing, apakah kita telah, menunaikannya dengan sebaik-baiknya? Ataukah diantara kita masih ada yang bolong-bolong… sehari hanya 2 atau 3 kali, atau hanya seminggu sekali (shalat jumat) atau hanya 2 kali dalam setahun (shalat 2 hari raya)…?!
Introspeksi diri dalam permasalahan ini sangatlah penting, karena hakekat tujuan diciptakannya kita di dunia oleh Allah ? adalah untuk beribadah, Allah berfirman:
وَ مَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ الإِنْسَ إِلاَّ لِيَعبُدُوْنِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56).
Terlebih lagi, kehidupan dunia adalah kehidupan yang sementara, tempat untuk beramal dan mendekatkan diri kepada Allah. Bila masing-masing dari kita meninggal dunia, maka tidak ada lagi kesempatan untuk beramal… Kemudian di hari kiamat, masing-masing dari kita dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah kita kerjakan…
Wahai saudaraku, marilah kita berbenah diri… yang sudah baik kita tingkatkan dan yang kurang harus kita tutup dan perbaiki, dengan senantiasa berpegang dan kembali kepada Al Qur’an, As Sunnah dengan pemahaman para sahabat serta para imam yang mengikuti jejak mereka.
Semoga dengannya kita digolongkan ke dalam hamba-hamba Allah yang diridhoi dan disayang-Nya.. Amin Ya Rabbal ‘Alamiin…
Wallahu a’lam

 

Sumber : http://buletin-alilmu.net/2006/09/17/sudahkah-mendirikan-shalat/


Posted in Islamic | No Comments »