TOTO HARYANTO

Sedikit goresan menebar manfaat …..

Archive for the 'Islamic' Category

Fiqh Wudhu [SanLat ]

Posted by totoharyanto on 18th May 2018

Bismillah

Bersama ini terlampir materi  Sanlat Remaja :

Masjid An Nur Villa Bogor Indah 3
Ramadhan 1439H
Tema : Fiqh Wudhu [[download]]

 


Posted in Islamic | No Comments »

Menilik Kembali Sejarah Teroris Khawarij

Posted by totoharyanto on 12th May 2018

Bismillah.
Pembaca yang budiman, tulisan ini sengaja kami sampaikan melihat kondisi yang sudah sangat memprihatinkan dengan apa yang terjadi beberapa waktu lalu di Markas Pasukan Elit Kepolisian Republika Indonesia.

Perlu diketahui bersama, bahwa memerangi teroris juga harus dibarengi dengan memerangi pemikiran mereka. Oleh karena itu, semampu kita marilah kita membentengi dari pemahaman ini. Pemikirian semacam ini bukanlah pemikiran yang baru, bahkan sudah ada sejak Nabi Muhammad Shollallahu’alaihi wasallam  masih hidup. Bahkan Rasullulloh Shollallahu’alaihi wasallam memberikan julukan yang kepada meraka dengan sebutan Anjing-anjing neraka. Mengapa demikian ?  Mari kita simak dan baca artikel ini :

Apa Faham yang dianut orang orang pembuat Fitnah ini, apa ciri-ciri khas mereka dan sebab sebab terjadi fitnah serta asal muasal munculnya faham teroris ini.

Anjing-anjing Neraka

Di tengah menghadapi krisis ekonomi global, kaum muslimin di cengangkan dengan beberapa aksi TERORISME yang telah mencoreng citra islam di mata dunia. Kejadian-kejadian itu menimbulkan banyak keraguan di hati manusia -khususnya kaum muslimin- tentang agamanya sebagai agama yang penuh rahmat dan kasih sayang. Sehingga mereka menjadi bingung dan berusaha menjauhi agamanya yang murni serta antipati terhadap sunnah Nabinya -Shallallahu ‘ Alaih Wa Sallam-. Naudzu billahi min dzaalik.

Ini disebabkan karena kaum muslimin tidak mau lagi mempelajari agamanya dan hadits-hadits -Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-yang menjelaskan tentang kejadian-kejadian yang akan muncul di akhir zaman sebagaimana yang telah diwahyukan Allah -Azza Wa Jalla- kepada Beliau pada 14 abad yang silam, namun telah terbukti pada hari ini. Hal ini menambah keimanan kepada kaum muslimin bahwa Beliau -Shallallahu ‘ Alaih Wa Sallam- adalah seorang rasul yang tidak ada lagi nabi setelahnya. Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

” Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). ” (QS. An-Najm :4)

Karenanya, orang-orang yang sering membaca hadits-hadits -Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidaklah merasa heran dan menganggap kejadian-kajadian itu sebagai suatu hal yang baru, karena orang yang melakukan aksi-aksi tersebut telah memiliki pendahulu di zaman -Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabat.

Aksi-aksi brutal tersebut lahir dari orang-orang khawarij yaitu makhluk terjelek yang ada di kolong langit. Nabi -Sholllallahu alaihi wa sallam- dan para sahabat sejak dahulu telah memperingatkan kita tentang bahaya kesesatan mereka, yang mereka saling mewarisi pemahaman sesat ini sejak dulu sampai pada hari ini. Merekalah yang disebutkan oleh Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- sebagai anjing-anjing neraka . Abu Ghalib -rahimahullah- berkata,

لَمَّا أُتِيَ بِرُءُوسِ الْأزَارِقَةِ فَنُصِبَتْ عَلَى دَرَجِ دِمَشْقَ جَاءَ أَبُو أُمَامَةَ فَلَمَّا رَآهُمْ دَمَعَتْ عَيْنَاهُ فَقَالَ كِلَابُ النَّارِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ هَؤُلَاءِ شَرُّ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ وَخَيْرُ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ الَّذِينَ قَتَلَهُمْ هَؤُلَاءِ قَالَ فَقُلْتُ فَمَا شَأْنُكَ دَمَعَتْ عَيْنَاكَ قَالَ رَحْمَةً لَهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ قَالَ قُلْنَا أَبِرَأْيِكَ قُلْتَ هَؤُلَاءِ كِلَابُ النَّارِ أَوْ شَيْءٌ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنِّي لَجَرِيءٌ بَلْ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلَا ثِنْتَيْنِ وَلَا ثَلَاثٍ قَالَ فَعَدَّ مِرَارًا

Ketika didatangkan kepala orang-orang Azariqah (salah satu sekte khawarij yang dicetuskan oleh Nafi’ bin Al-Azraq.) dan dipancangkan di atas tangga-tangga Kota Damaskus, datanglah Abu Umamah Al Bahili -radhiyallahu anhu-. Ketika melihat mereka, air matanya pun mengalir dari kedua pelupuk matanya dan berkata, “Mereka adalah anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka. Mereka ini (Khawarij) adalah sejelek-jelek orang yang dibunuh di bawah kolong langit ini, dan sebaik-baik orang yang terbunuh dibawah kolong langit adalah orang-orang yang dibunuh oleh mereka (Khawarij). Abu Ghalib kemudian bertanya,”Kenapa engkau menangis?” Abu umamah -radhiyallahu anhu- menjawab, ”Aku kasihan kepada mereka, dahulunya mereka itu ahlul islam” Abu Ghalib berkata lagi, ”Apakah pernyataanmu, “Mereka adalah anjing-anjing neraka” adalah pendapatmu sendiri atau perkataan yang engkau dengar (langsung) dari Nabi -Sholllallahu alaihi wa sallam- ?” Abu Umamah -radhiyallahu anhu- menjawab, ”Kalau aku mengatakan dengan pendapatku sendiri, maka sungguh aku adalah orang yang lancang. Tapi perkataan ini aku dengar dari Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- tidak hanya sekali, bahkan tidak hanya dua kali atau tiga kali.” (HR. At-Tirmidzi (3000), Ibnu Majah (176), Ahmad (V/253).)

Diantara ciri khas mereka (Khawarij), Mengkafirkan pemerintah kaum muslimin dan orang-orang yang bersama pemerintah tersebut (karena melakukan dosa-dosa besar), memberontak kepada pemerintah kaum muslimin , menghalalkan darah dan harta kaum muslimin

Pemberontakan pertama dalam sejarah islam dilakukan oleh gembong Khawarij yaitu Dzul Khuwaishirah dimasa Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Ibnul Jauzi -rahimahullah- di dalam kitabnya Talbis Iblis, “Khawarij yang pertama dan yang paling jelek adalah Dzul Khuwaishirah.”[Lihat Al-Muntaqo An-Nafis (hal. 89)]

Al-Imam Al-Bukhari -Rahimahullah- meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa beliau berkata,

بَعَثَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْيَمَنِ بِذُهَيْبَةٍ فِي أَدِيمٍ مَقْرُوظٍ لَمْ تُحَصَّلْ مِنْ تُرَابِهَا قَالَ فَقَسَمَهَا بَيْنَ أَرْبَعَةِ نَفَرٍ بَيْنَ عُيَيْنَةَ بْنِ بَدْرٍ وَأَقْرَعَ بْنِ حابِسٍ وَزَيْدِ الْخَيْلِ وَالرَّابِعُ إِمَّا عَلْقَمَةُ وَإِمَّا عَامِرُ بْنُ الطُّفَيْلِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ كُنَّا نَحْنُ أَحَقَّ بِهَذَا مِنْ هَؤُلَاءِ قَالَ فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَلَا تَأْمَنُونِي وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِي السَّمَاءِ يَأْتِينِي خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا وَمَسَاءً قَالَ فَقَامَ رَجُلٌ غَائِرُ الْعَيْنَيْنِ مُشْرِفُ الْوَجْنَتَيْنِ نَاشِزُ الْجَبْهَةِ كَثُّ اللِّحْيَةِ مَحْلُوقُ الرَّأْسِ مُشَمَّرُ الْإِزَارِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اتَّقِ اللَّهَ قَالَ وَيْلَكَ أَوَلَسْتُ أَحَقَّ أَهْلِ الْأَرْضِ أَنْ يَتَّقِيَ اللَّهَ قَالَ ثُمَّ وَلَّى الرَّجُلُ قَالَ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا أَضْرِبُ عُنُقَهُ قَالَ لَا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ يُصَلِّي فَقَالَ خَالِدٌ وَكَمْ مِنْ مُصَلٍّ يَقُولُ بِلِسَانِهِ مَا لَيْسَ فِي قَلْبِهِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَمْ أُومَرْ أَنْ أَنْقُبَ عَنْ قُلُوبِ النَّاسِ وَلَا أَشُقَّ بُطُونَهُمْ قَالَ ثُمَّ نَظَرَ إِلَيْهِ وَهُوَ مُقَفٍّ فَقَالَ إِنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمٌ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ رَطْبًا لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ وَأَظُنُّهُ قَالَ لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ ثَمُودَ

Ali pernah mengirim dari Yaman untuk -Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- sepotong emas dalam kantong kulit yang telah disamak, namun emas itu belum dibersihkan dari kotorannya. Maka -Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- membaginya kepada empat orang; ‘Uyainah bin Badr, Aqra’ bin Habis, Zaid Al-Khail dan yang ke-empat, ‘Alqamah atau ‘Amir bin Ath-Thufail. Maka seseorang dari para sahabatnya menyatakan,”Kami lebih berhak dengan (harta) ini dibanding mereka”.

Ucapan itu sampai kepada Rasulullah -Shallallahu ‘ Alaihi Wa Sallam- , maka Beliau bersabda, “Apakah kalian tidak percaya kepadaku, padahal aku adalah kepercayaan Dzat yang ada dilangit (Allah), wahyu turun kepadaku dari langit diwaktu pagi dan sore”.

Kemudian datanglah seorang laki-laki (Dzul Khuwaishirah) yang cekung kedua matanya, menonjol kedua atas pipinya, menonjol kedua dahinya, lebat jenggotnya, botak kepalanya, dan tergulung sarungnya. Orang itu berkata,” Bertaqwalah kepada Allah, wahai Rasulullah!!”

Maka Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- bersabda, ”Celaka engkau!! Bukankah aku manusia yang paling bertakwa kepada Allah?!” Kemudian orang itu pergi. Maka Khalid bin Al-Walid -radhiyallahu anhu- berkata,”Wahai Rasulullah bolehkah aku penggal lehernya?”

Nabi -Sholllallahu alaihi wa sallam- bersabda,”Jangan, barangkali dia masih shalat (yakni, masih muslim).” Khalid berkata,”Berapa banyak orang yang shalat dan berucap dengan lisannya (syahadat) ternyata bertentangan dengan isi hatinya.” Nabi -Sholllallahu alaihi wa sallam- bersabda, “Aku tidak diperintah untuk mengorek isi hati manusia, dan membela dada-dada mereka.”

Kemudian Nabi -Sholllallahu alaihi wa sallam- melihat kepada orang itu, sambil berkata,“Sesungguhnya akan keluar dari keturunan orang ini sekelompok kaum yang membaca Kitabullah (Al-Qur’an) dengan mudah, namun tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka melesat dari (batas-batas) agama mereka seperti melesatnya anak panah dari sasarannya”. Saya (Abu Sa’id Al-Khudriy) yakin beliau -Shollallahu alaihi wa sallam- bersabda,

لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ ثَمُوْدَ

Jika aku menjumpai mereka, niscaya aku akan bunuh mereka seperti dibunuhnya kaum Tsamud.”. [HR. Al-Bukhari dalam Kitab Al-Maghozi (4351), dan Muslim dalam Kitab Az-Zakah (2448)]

Dalam riwayat lain, Abu Sa’id -radhiyallahu anhu- berkata,

بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْسِمُ قِسْمًا أَتَاهُ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ فَقَالَ وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي فِيهِ فَأَضْرِبَ عُنُقَهُ فَقَالَ دَعْهُ فَإِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ

Ketika kami bersama Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- , beliau sedang membagi ghonimah, tiba-tiba Dzul Khuwaishirah –seseorang dari Bani Tamim- mendatangi beliau kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah berbuat adillah!!” Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- bersabda, “Celaka engkau, siapa lagi yang bisa berbuat adil jika saya sudah (dikatakan) tidak adil. Sungguh celaka dan rugi jika saya tidak bisa berbuat adil”. Maka Umar berkata,”Wahai Rasulullah, izinkan saya untuk memenggal lehernya! ”Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- bersabda, “Biarkan dia. Sesungguhnya dia mempunyai pengikut, dimana kalian akan merendahkan (menganggap kecil) shalat kalian dibanding shalat mereka, puasa kalian dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al-Qur’an, tapi tidak mencapai tenggorokan mereka. Mereka melesat dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah dari sasaran (buruan)nya…”. (HR. Al-Bukhari dalam Kitab Al-Manakib (3610) dan Muslim dalam Kitab Az-Zakah (2453)).

Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- juga bersabda,

إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا أَوْ فِي عَقِبِ هَذَا قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ لَئِنْ أَنَا أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ

Sesungguhnya diantara keturunan orang ini, ada suatu kaum yang mereka itu ahli membaca Al-Qur’an, namun bacaan tersebut tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah dari (sasaran) buruannya. Mereka membunuh orang-orang Islam dan membiarkan hidup para penyembah berhala. Jika aku sempat mendapati mereka, akan aku bunuh mereka dengan cara pembunuhan terhadap kaum ‘Aad.” (HR. Al Bukhari dalam Kitab Ahadits Al-Anbiya’ (3344) Muslim dalam Kitab Az-Zakah (2448), Abu Dawud dalam Kitab As-Sunnah (4764), dan An-Nasa’iy dalam Kitab Tahrim Ad-Daam (4112)).

Oleh karena itu, janganlah kita tertipu dengan banyak dan kuatnya ibadah mereka; meski selalu shalat di malam hari dan puasa di siang hari, namun amal kebaikan mereka tidak bermanfaat sedikitpun disebabkan kedurhakaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya serta menyelewengkan makna ayat-ayat Al Qur’an sesuai dengan hawa nafsunya. Patokannya bukanlah banyak sedikitnya suatu ibadah, namun cocok tidaknya seseorang di atas sunnah. Karenanya, Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- memerintahkan kita untuk memerangi mereka sebagaiamana yang ditegaskan oleh Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- .

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang muda-muda umurnya lagi pendek akalnya. Mereka mengucapkan ucapan sebaik-baik manusia. Mereka membaca Al-Qur’an (tapi) tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama ini seperti melesatnya anak panah dari (sasaran) buruannya. Maka jika kalian mendapati mereka(Khawarij), perangilah mereka! Karena sesungguhnya orang-orang yang memerangi mereka akan mendapat pahala di sisi Allah pada hari kiamat” .(HR. Al Bukhari (6930) Muslim (1066))

Pada masa pemerintahan Khalifah ‘Utsman bin Affan -radhiyallahu anhu- muncul pula gerakan teror dan pemberontakkan yang memprovokasi massa untuk anti terhadap khalifah yang sah, Amirul Mukminin ‘Utsman Bin Affan. Gembong gerakan ini adalah ‘Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi (nenek moyang orang Syi’ah). Dia menampilkan diri sebagai seorang muslim, namun kedengkian dan kekufurannya terhadap Islam tersimpan di dadanya. Dia berpindah dari suatu tempat ke tempat lainnya (diberbagai negeri kaum muslimin) dengan tujuan untuk menebarkan kesesatan di tengah-tengah umat dan memprovokasj mereka. Sampai akhirnya dia mendapatkan tempat yang cocok, yaitu Mesir. Dari sanalah kemudian dia mengendalikan fitnah dan menyalakan apinya dalam rangka menentang Allah dan Rasul-Nya. Provokasi yang dia propagandakan disambut baik oleh orang-orang jahat yang setipe dengannya, yang cenderung emosional dan reaksioner dalam menilai dan menyikapi kondisi. Kaum pemberontak ini mengklaim bahwa Khalifah ‘Utsman bin Affan telah melakukan 18 kemungkaran dan kezholiman yang nyata!!.

Kemudian pada bulan Syawal kaum Khawarij dari kalangan saba’iyyun ini, bergerak dari Mesir menuju Madinah dengan menampakkan diri seolah-olah hendak berhaji yang terbagi dalam empat regu, setiap regu mempunyai amir. Gerakan para pemberontak dan teroris juga dari Kufah. Sesampai di Madinah mereka mendemo dan mengepung rumah ‘Utsman dan secara paksa meminta Khalifah ‘Utsman untuk turun dari jabatannya! Demikianlah mereka mengepung rumah Khalifah ‘Utsman sehingga beliau terhalang dari sholat jama’ah di mesjid. Bahkan membiarkan ‘Utsman tidak minum dan menghalangi jalannya air kepadanya. Hal ini membuat para sahabat yang lainnya marah, sehingga ‘Ammar bin Yasiir -radhiyallahu anhu- berkata,”Subhanallah!! Dia telah membeli sumur Ruumah (untuk kaum muslimin) kemudian kalian menghalangi dia dari airnya? Biarkan jalan air itu (jangan di halangi dari ‘utsman)!”

Kemudian ‘Ammar mendatangi ‘Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu anhu- dan melaporkan hal ini. Maka segera ‘Ali -radhiyallahu anhu- mengirimkan pemuda-pemudanya untuk menorobos masuk ke rumah Khalifah ‘Utsman -radhiyallahu anhu- memberikan air minum kepada beliau.

Setelah 40 hari beliau dikepung di rumah beliau sendiri, para pemberontak (Khawarij) itu berani menerobos masuk ke rumah Khalifah ‘Utsman dengan menaiki dinding-dinding rumah beliau. Kemudian dengan kejinya mereka membunuh Amirul Mukminin ‘Utsman bin Affan -radhiyallahu anhu- yang ketika itu sedang membaca Al-Qur’an. Muncratlah darah segar seorang sahabat Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- yang mulia, dan tetesan pertama darah beliau mengenai mush-haf yang ada di pangkuannya tepat mengenai ayat Allah,

Maka Allah akan mencukupimu (membalas) dari mereka” dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” .((QS. Al Baqarah:137).

Kemudian tangan istri ‘Utsman dipotong, lalu pembunuh keji tersebut menusukkan pedangnya ke dada Khalifah ‘Utsman dan terbunuhlah beliau! Inna lillahi wa inna lillahi raji’un. (Lihat Tarikh Al-Islam (1/439-449) karya Al-Imam Abu Abdillah Adz-Dzahabiy)

Seorang yang membeli tanah dengan harta pribadinya untuk mesjid Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- , dilarang shalat di dalamnya. Seorang yang membeli sumur Rumah dan digali dengan harta pribadinya untuk kaum mukminin, dihalangi untuk minum airnya. Seorang yang paling sabar dan tidak mengizinkan adanya pertumpahan darah di kalangan kaum muslimin, ternyata ditumpahkan darahnya oleh para Khawarij yang haus darah.

Maka hendaklah kita waspada terhadap kelompok ini, sebab mereka berada di sekitar kita sampai hari ini. Mereka tidak segan-segan menumpahkan darah kaum muslimin dengan mengatas namakan jihad. Berlindunglah kepada Allah dari mereka. Hanya kepada Allah Azza Wa Jalla tempat kita mengadu.

Sumber : Darussalaf.or.id dari Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 119 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas Judul: Anjing-anjing Neraka

 

 

 

 


Posted in Islamic | No Comments »

Amalan-Amalan Pada Bulan Sya’ban

Posted by totoharyanto on 18th April 2018

Pembaca yang budiman, tidak terasa saat ini kita sudah masuk bulan Sya’ban tahun 1439H. Ada baiknya kita menambah pengetahuan kita terkait dengan bulan ini. Semoga menambah khazanah keilmuan kita dan Alloh memudahkan kita untuk beramal dengannya. Aamiin…

Selamat membaca :

 

‘Aisyah berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Rasulullah biasa berpuasa sampai kami mengatakan beliau tidak berbuka dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak berpuasa. Aku sama sekali tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa secara sempurna dalam sebulan kecuali pada bulan Ramadhan dan aku juga tidak pernah melihat beliau paling banyak berpuasa (dalam sebulan) dari berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. al-Bukhari no. 1833 dan Muslim no. 1956)

 

Para pembaca yang berbahagia.

Bulan Sya’ban merupakan bulan kedelapan dalam penanggalan hijriyah. Kalau ada yang bertanya mengapa bulan ini dinamakan dengan “Sya’ban”?

Al-Imam Sirajuddin Ibnul Mulaqqin asy-Syafi’i dalam kitab “at-Taudhih” juz 13 halaman 445 menukilkan ucapan Ibnu Duraid bahwa bulan ini dinamakan dengan “Sya’ban” (berpencar) karena berpencarnya orang-orang Arab pagan (para penyembah berhala) dahulu, yaitu mereka berpencar dan berpisah pada bulan ini untuk mencari air.

Dan ada yang mengatakan karena pada bulan tersebut orang-orang Arab berpencar dalam penyerangan dan penyerbuan. Ada pula yang mengatakan “Sya’ban” juga berarti nampak atau lahir karena bulan ini nampak atau lahir diantara bulan Ramadhan dan Rajab.

 

Amalan Bulan Sya’ban Yang Disyariatkan

Adapun amalan yang disyariatkan pada bulan Sya’ban adalah banyak melakukan puasa pada bulan tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah dalam hadits diatas. Dan masih banyak hadits lain yang menerangkan tentang amalan puasa Sya’ban.

Namun yang perlu kita ingat dalam hal ini adalah tidak boleh mengkhususkan untuk berpuasa pada hari-hari tertentu di bulan Sya’ban apakah di awal bulan, pertengahan bulan (Nishfu Sya’ban) atau akhir bulan, dikarenakan Rasulullah sendiri tidak pernah mengkhususkannya.

Mengapa Rasulullah tidak menyempurnakan puasa satu bulan penuh pada bulan Sya’ban?

Al-Imam Sirajuddin Ibnul Mulaqqin asy-Syafi’i menjawab, “Yaitu agar jangan sampai orang menyangka bahwasanya puasa (pada bulan) tersebut hukumnya adalah wajib.” (at-Taudhih, juz 13, hlm. 443)

 

Hikmah Puasa Sya’ban

Para ulama telah berbeda pendapat di dalam menguraikan hikmah dari banyaknya puasa Rasulullah pada bulan Sya’ban, diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Ada yang mengatakan karena Rasulullah sering melakukan safar (bepergian) atau keperluan lainnya sehingga terhalang dari melakukan puasa sunnah 3 hari tiap bulannya, maka beliau menggabungkan jumlah puasa sunnah 3 hari tiap bulan yang ditinggalkan dan ditunaikannya pada bulan Sya’ban.
  2. Karena dalam rangka mengagungkan bulan Ramadhan.
  3. Istri-istri beliau mengqadha (membayar) puasa yang ditinggalkan pada bulan Ramadhan sebelumnya pada bulan Sya’ban maka beliau pun ikut menemani puasa bersama mereka.
  4. Karena bulan Sya’ban adalah bulan yang dilalaikan oleh manusia. Padahal dalam bulan tersebut terdapat suatu keutamaan yaitu amalan-amalan yang dilakukan pada bulan tersebut akan diangkat kepada Allah. Dan Rasulullah ingin agar amalannya diangkat dalam keadaan sedang berpuasa.

Al-Imam asy-Syaukani menyebutkan dalam kitab “Nailul Authar” juz 4 halaman 331 bahwa hikmah yang lebih tepat dalam hal ini adalah karena bulan Sya’ban adalah bulan yang dilalaikan oleh manusia sebagaimana disebutkan dalam hadits Usamah ketika bertanya kepada Rasulullah. Sahabat Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah:

يَا رَسُولَ اللهِ لِمَ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَان قَالَ ذَلِكَ شَهْرُ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلىَ رَبِّ العَالميَنَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Wahai Rasulullah, aku melihat engkau lebih banyak melakukan puasa (sunnah) pada bulan Sya’ban dibandingkan bulan-bulan lainnya. Rasulullah bersabda: ‘Itulah bulan yang manusia lalai darinya yaitu bulan antara bulan Rajab dengan Ramadhan, dan itu adalah bulan dimana di dalamnya amalan-amalan diangkat kepada Rabbul ‘Alamin. Dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.” (HR. an-Nasa’i no. 2357, hadits ini hasan bisa dilihat dalam  “Shahih wa Dha’if Sunan an-Nasa’i” juz 6, hal. 1)

Al-Imam Sirajuddin Ibnul Mulaqqin asy-Syafi’i berkata, “Dan Rasulullah mengkhususkan bulan Sya’ban dengan banyak berpuasa dikarenakan pada bulan tersebut amalan-amalan hamba diangkat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (at-Taudhih, juz 13, hlm. 442)

 

Amalan Bulan Sya’ban Yang Tidak Disyariatkan

Diantara kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh sebagian manusia pada bulan Sya’ban dan dianggap sebagai suatu bentuk ibadah namun tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah adalah mengkhususkan malam Nishfu Sya’ban (tanggal 15 Sya’ban) dengan mengadakan perkumpulan, meramaikan malam tersebut dan melakukan salat berjama’ah pada malam tersebut serta berpuasa pada keesokan harinya. Dan para ulama telah mengingkari kesalahan-kesalahan ini di dalam kitab-kitab mereka, diantaranya adalah para ulama dari kalangan madzhab Syafi’iyyah:

Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i menukilkan ucapan al-Imam asy-Syafi’i di dalam kitabnya “al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyah” juz 1 halaman 184 sebagai berikut:

“… dan seluruh apa yang diriwayatkan dari hadits-hadits yang masyhur (di masyarakat) tentang keutamaan-keutamaan malam ini (malam Jum’at pertama dari bulan Rajab) dan malam Nishfu Sya’ban adalah batil (tidak shahih), mengandung kedustaan dan tidak ada asalnya …”

Al-Imam an-Nawawi asy-Syafi’i menjelaskan:

“Salat yang dikenal dengan salat Raghaib yaitu sebanyak 12 rakaat yang dilakukan antara waktu maghrib dan isya’ di malam Jum’at pertama pada bulan Rajab dan salat yang dilakukan pada malam Nishfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat maka kedua salat ini adalah tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah dan mengandung kemungkaran serta kejelekan …”

Kemudian beliau melanjutkan ucapannya masih pada halaman yang sama:

“… dan janganlah engkau tertipu dengan adanya beberapa hadits yang menyebutkan tentang (disyariatkannya) kedua salat itu, karena sesungguhnya itu semuanya adalah batil (tidak shahih) dan jangan pula tertipu dengan sebagian orang yang tersamarkan atasnya hukum kedua salat tersebut dari kalangan para ulama yang dia membuat tulisan tentang dibolehkannya kedua salat tersebut, maka sesungguhnya yang demikian adalah keliru. Dan sungguh asy-Syaikh al-Imam Abu Muhammad ‘Abdurrahman bin Isma’il al-Maqdisi telah menulis suatu kitab yang sangat berharga tentang tidak disyariatkannya 2 salat tersebut, beliau membahasnya dengan baik dan bagus di dalam kitab tersebut.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, juz 4 hlm. 56)

Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i juga menegaskan:

“Termasuk dari amalan yang tidak diajarkan oleh Rasulullah dan merupakan kejelekan adalah salat Raghaib pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab dan salat Nishfu Sya’ban. Dan hadits yang menerangkan tentang kedua amalan tersebut adalah tidak shahih. An-Nawawi dan ulama selain beliau juga telah mengingkari dengan keras kedua amalan tersebut.” (Al-Manhaj al-Qowim juz 1 hlm. 288)

 

Hadits-Hadits Lemah Seputar Sya’ban

إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ؛ نَادَى مُنَادٍ : هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ ، هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ ؟ فَلَا يَسْأَلُ أَحَدٌ شَيْئًا إِلَّا أُعْطِيَ ، إِلَّا زَانِيَةٌ بِفَرْجِهَا ، أَوْ مُشْرِكٌ

“Apabila telah tiba malam pertengahan pada bulan Sya’ban (Nishfu Sya’ban) maka ada suara yang menyerukan (Allah): ‘Barangsiapa yang meminta ampun (kepada-Ku) maka akan Aku ampuni dia, Barangsiapa yang meminta (kepada-Ku) maka akan Aku penuhi permintaannya’, maka tidaklah seorang meminta sesuatu (kepada Allah) melainkan akan dipenuhi permintaannya. Kecuali seorang wanita pezina atau orang yang menyekutukan Allah.”

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab “Syuabul Iman” no. 3836 dari jalan Jami’ bin Shabih ar-Ramli dari Markhum bin ‘Abdul ‘Aziz dari Dawud bin Abdurrahman dari Hisyam bin Hassan dari al-Hasan dari sahabat ‘Utsman bin Abil ‘Ash.

Hadits ini adalah lemah karena di dalam sanadnya terdapat 2 cacat. Yang pertama adalah ‘an’anah-nya seorang rawi yang bernama al-Hasan (al-Bashri) dan dia dikenal sebagai seorang rawi mudallis. Yang kedua adalah kelemahan seorang rawi yang bernama Jami’ bin Shabih ar-Ramli. (Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah, juz 14, hlm. 1099)

خَمْسُ لَيَالٍ لاَ تُرَدُّ فِيْهِنَّ الدَّعْوَة : أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَلَيْلَةُ الجُمْعَةِ وَلَيْلَةُ الفِطْرِ وَلَيْلَةِ النَّحْرِ

“Ada 5 malam yang tidak akan ditolak doa orang yang berdoa di dalamnya: awal malam dari bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam ‘Idul Fithri dan malam ‘Idul Adha.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam kitab “Tarikh Dimasyq” no. 1452 dari jalan Abu Sa’id Bandar bin ‘Umar dengan sanadnya dari Ibrahim bin Abi Yahya dari Abu Qa’nab dari sahabat Abu Umamah.

Hadits ini adalah palsu karena di dalamnya sanadnya terdapat 2 orang rawi yang dikenal sebagai pendusta yaitu Abu Sa’id Bandar bin Umar dan Ibrahim bin Abi Yahya.

Al-Imam Sirajuddin Ibnu Mulaqqin asy-Syafi’i mengatakan, “Tidak ada hadits yang shahih yang menerangkan tentang masalah (pengkhususan) salat pada malam Nishfu Sya’ban.” (at-Taudhih, juz 13, hlm. 445)

Al-Hafizh Zainuddin Abul Fadhl al-‘Iraqi asy-Syafi’i mengatakan, “Hadits tentang pengkhususan salat pada malam Nishfu Sya’ban adalah palsu atas nama Rasulullah dan kedustaan atas nama beliau.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, juz 1, hlm. 190)

Kesimpulan: Para ulama ahli hadits telah meneliti bahwa semua hadits yang menyebutkan tentang keutamaan meramaikan malam Nishfu Sya’ban dengan salat atau yang lainnya dan berpuasa pada siang harinya tidak ada satu pun yang shahih yang dapat dijadikan pegangan untuk beramal.

 

Sumber : http://www.darussalaf.or.id/fiqih/amalan-amalan-pada-bulan-syaban/

 


Posted in Islamic | No Comments »

Mengolok-Olok Agama Hanya Membuahkan Kehidupan yang Sengsara

Posted by totoharyanto on 7th April 2018

اِنَّا كَفَيۡنٰكَ الۡمُسۡتَهۡزِءِيۡنَۙ

Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami menjaga engkau (Muhammad) dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (engkau).” (al-Hijr: 95)

Dakwah yang diemban oleh para nabi dan rasul tidak selamanya berjalan mulus. Selalu saja ada rintangan dan cobaan yang menghadangnya.

Di antara cobaan yang pasti dialami oleh setiap nabi dan rasul di setiap zaman adalah cemoohan dan olok-olokan dari para penentangnya. Julukan dan panggilan yang amat menyakitkan senantiasa hinggap di pendengaran utusan-utusan Allah tersebut.

Allah berfirman (artinya), “Demikianlah tidak ada seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila.” adz-Dzariyat: 52)

Ini merupakan sunnatullah (ketetapan Allah ) yang mesti terjadi. Sejak zaman dahulu, sekarang, hingga akhir zaman nanti, selalu ada pihak-pihak yang mengolok-olok agama Allah dan mencemooh orang-orang yang mendakwahkannya.

Di mana ada nabi, di situ pulalah ada sekelompok penentang dan pengolok-oloknya. Setiap kali kebenaran disuarakan, ada saja pihak-pihak yang dengan lantangnya mencemooh kebenaran tersebut.

Termasuk janji Allah , bahwa akhir yang indah akan berada di pihak pengusung kebenaran. Adapun yang mengolok-olok, kesengsaraanlah yang pasti akan dirasakan. Menyesal selamanya. Allah berfirman (artinya), “Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.” (Yasin: 30)

Mengolok-olok Rasul merupakan sebab segala bentuk kesengsaraan, adzab dan hukuman. (Lihat Taisirul Karimir Rahman, hal. 695)

Nabi Muhammad dan Ajarannya Juga Diolok-olok dan Dicemooh

Sebagai utusan Allah , nabi Muhammad pun mengalami hal yang sama sebagaimana yang dialami oleh para Rasul sebelum beliau. Diolok-olok, dicemooh dan diejek oleh kaumnya sendiri. Allah berfirman kepada nabi Muhammad (artinya), “Dan sungguh, beberapa Rasul sebelum engkau (Muhammad) telah diperolok-olokkan, sehingga turunlah adzab kepada orang-orang yang mencemoohkan itu sebagai balasan olok-olokan mereka.” (al-An’am: 10)

Kondisi seperti ini tidak lantas menyebabkan beliau mundur dari dakwah. Apapun resikonya, agama Islam terus beliau serukan di tengah-tengah umat dengan penuh kesabaran.

Adapun orang-orang yang mengolok-olok beliau dan mencemooh ajaran yang beliau bawa, maka Allahlah yang akan membalasnya. Allah berfirman (artinya), “Sesungguhnya Kami menjaga engkau (Muhammad) dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (engkau).” (al-Hijr: 95)

Ini adalah janji Allah kepada Rasul-Nya, bahwa Dia akan menjaga dan memelihara Rasulullah serta ajarannya dari gangguan dan kejahatan orang yang mengolok-oloknya. Cukup Allahlah yang akan menimpakan kepada mereka berbagai macam adzab dan bencana.

Sungguh Allah benar-benar melakukannya. Tidaklah ada seorang pun yang menampakkan sikap olok-olokannya kepada Rasulullah dan syariat yang beliau bawa, melainkan pasti Allah akan binasakan dia dan Allah matikan dia dengan seburuk-buruk kematian. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 435)

Mati Mengenaskan Karena Mengolok-olok Rasulullah

Al-Imam Ibnu Katsir menyebutkan sebuah riwayat dalam tafsirnya, bahwa tokoh-tokoh musyrikin yang paling suka mengolok-olok Rasulullah dan ajaran beliau, ada 5 orang yaitu: al-Aswad bin al-Muththalib, al-Aswad bin Abdu Yaghuts, al-Walid bin al-Mughirah, al-‘Ash bin Wail dan al-Harits bin ath-Thalathilah. Mereka adalah para pembesar yang memiliki kedudukan dan pengaruh di tengah-tengah kaumnya.

Tatkala kejahatan mereka sudah melampaui batas dan sangat gencar olok-olokannya terhadap Rasulullah, Allah pun menurunkan ayat-Nya (artinya), “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami menjaga engkau dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (engkau). (Yaitu) orang-orang yang menganggap adanya sesembahan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya).” (al-Hijr: 94-96)

Kelima tokoh tersebut mengalami akhir hidup yang mengenaskan disebabkan kejahatan yang mereka perbuat.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, malaikat Jibril pernah mendatangi Rasulullah ketika beliau sedang thawaf mengelilingi Ka’bah. Malaikat Jibril berdiri dan Rasulullah juga berdiri di sampingnya.

Kemudian malaikat Jibril membawa Rasulullah kepada al-Aswad bin al-Muththalib. Malaikat Jibril lalu melemparkan sesuatu berwarna kehitaman ke wajah al-Aswad, sehingga ia pun menjadi buta.

Setelah itu malaikat Jibril membawa Rasulullah kepada al-Aswad bin Abdu Yaghuts. Malaikat Jibril menunjuk ke arah perutnya, sehingga perutnya pun terasa minta diisi air terus dan akhirnya ia mati dalam keadaan perutnya menggelembung.

Malaikat Jibril lalu membawa Rasulullah kepada al-Walid bin al-Mughirah. Malaikat Jibril menunjuk ke arah bekas luka yang berada di bawah mata kakinya. Luka itu sudah dideritanya sejak dua tahun yang lalu, sehingga al-Walid senantiasa menjulurkan pakaiannya (untuk menutupi luka tersebut).

Luka itu bermula ketika ia melewati seseorang dari Bani Khuza’ah yang sedang memasang bulu pada anak panahnya. Tiba-tiba ada salah satu anak panah yang menyangkut pada pakaian yang dikenakan al-Walid dan melukai kakinya. Sebenarnya lukanya itu tidak begitu parah, namun setelah ditunjuk oleh malaikat Jibril, lukanya menjadi parah dan menyebabkan kematiannya.

Kemudian malaikat Jibril membawa Rasulullah kepada al-‘Ash bin Wail. Malaikat Jibril lalu menunjuk ke arah telapak kakinya. Setelah itu, al-‘Ash keluar mengendarai keledainya menuju Thaif. Sesampainya di sana, ia menambatkan keledainya di tempat yang ternyata banyak durinya. Akhirnya duri-duri itu menancap ke kaki al-‘Ash dan ia pun mati karenanya.

Setelah itu malaikat Jibril membawa Rasulullah kepada al-Harits bin ath-Thalathilah. Kemudian malaikat Jibril menunjuk ke arah kepalanya, sehingga ia mengeluarkan ingus berupa nanah dan akhirnya ia mati karenanya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, [2/754])

Demikianlah kisah tragis yang dialami oleh para penentang Rasulullah .

Beberapa Hikmah dan Pelajaran Berharga

Para pembaca rahimakumullah.

Dahulu nabi dan rasul merasakan gangguan dan cemoohan dari kaumnya karena mendakwahkan risalah Allah . Kini, penerus dakwah para Nabi dan Rasul juga pasti akan mengalami hal yang sama.

Selama roda kehidupan ini masih berputar, siapa saja yang mengamalkan, mendakwahkan dan mengajarkan seperti ajaran para Nabi dan Rasul, pasti akan senantiasa diolok-olok oleh penentangnya.

Oleh sebab itu, bagi setiap da’i di jalan Allah hendaknya tidak merasa takut dan sedih! Bersiaplah menghadapi rintangan dakwah yang pasti menghadang. Ejekan, cemoohan dan olok-olokan itu jangan menyebabkan mundur dari dakwah. Biarkan mereka, Allah sendiri yang akan membalas perbuatan jahat para musuh yang merintangi hamba yang meniti jalan-Nya.

Sejarah membuktikan, bahwa para penentang dakwah itu pasti akan merasakan hukuman dan adzab yang pedih. Cepat atau lambat, hidupnya sengsara dan matinya mengenaskan.

Ada sebuah hikayat yang menyebutkan tentang sikap pencemooh terhadap sabda Rasulullah (artinya), “Apabila salah seorang di antara kalian bangun tidur, maka janganlah mencelupkan tangannya ke dalam bejana sampai dia mencucinya terlebih dahulu, hal itu karena dia tidak tahu di mana tangannya bermalam.”

Menanggapi hadits Rasulullah tersebut, orang tadi malah mengatakan -dengan maksud mengejek-, “Aku mengetahui di mana tanganku bermalam di atas tempat tidur.”

Pada pagi harinya, dia mendapati telapak hingga pergelangan tangannya sudah masuk ke dalam duburnya. (Faidhul Qadhir 1/278)

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah .

Hendaknya umat Islam memiliki komitmen yang kuat untuk mengamalkan ajaran dan sunnah Rasulullah, mencintainya dan mendakwahkannya. Jangan jadikan cemoohan itu sebagai alasan untuk lari dari ajaran Islam yang murni.

Dahulu, tidak hanya Nabi dan Rasul saja yang mendapatkan cemoohan dan caci makian, para pengikutnya pun juga diganggu, dicaci, diejek dan bahkan ada yang dibunuh demi tegaknya ajaran agama Allah di muka bumi.

Sangat memprihatinkan, tidak sedikit cemoohan terhadap ajaran Rasulullah ini dilakukan oleh sebagian kaum muslimin sendiri. Setiap muslim pasti mengklaim cinta Rasul dan memuliakan Rasul, namun kenyataannya tidak sedikit pula yang ternyata tidak senang dengan sebagian ajaran beliau. Hal ini terjadi karena jauhnya mereka dari ilmu yang diajarkan oleh Rasulullah .

Akhirnya, dakwah tauhid yang diemban Rasul pun dicibir dan sunnah Rasul pun dipinggirkan. Bahkan muncul pula sikap anti, sinis dan menjuluki orang-orang yang memiliki komitmen menjalankan sunnah dan ajaran Rasul sebagai orang yang fanatik, kolot, tekstual, tidak bisa diajak maju dan berbagai penilaian negatif lainnya.

Kita khawatir, sikap-sikap seperti itu termasuk bentuk ejekan, cemoohan dan olok-olokan terhadap agama Allah yang akan mengundang adzab-Nya. Na’udzubillahi min dzalik.

Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis: Ustadz Abu Abdillah

Sumber : http://buletin-alilmu.net/2018/03/13/mengolok-olok-agama-hanya-membuahkan-kehidupan-yang-sengsara/

Channel Telegram : https://telegram.me/buletinalilmu


Posted in Islamic | No Comments »