TOTO HARYANTO

Sedikit goresan menebar manfaat …..

Archive for the 'Islamic' Category

SUDAHKAH MENDIRIKAN SHALAT?

Posted by totoharyanto on 19th January 2018

Definisi Shalat
Shalat secara etimologi bermakna doa, sedangkan ditinjau dari terminologi syari’at bermakna suatu peribadatan kepada Allah yang terdiri dari ucapan dan perbuatan tertentu, diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. (Taisirul ‘Allam 1/104)
Kapan Disyari’atkan Shalat ? 
Shalat lima waktu disyariatkan pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj Rasulullah ?. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik, bahwasanya suatu malam ketika Beliau ? sedang berada di rumah Ummu Hani’ di Makkah turunlah Jibril ? atas perintah Allah dengan tugas membawa Beliau ? naik kelangit menghadap Allah guna menerima perintah shalat.
Maka didatangkanlah dihadapan Beliau seekor Buraq—lebih besar dari keledai tapi lebih kecil dari bighal (peranakan kuda dengan keledai)—yang langkah kakinya sejauh mata memandang.
Kemudian Jibril membawa naik ke langit ketujuh. Setiap kali melewati lapisan langit Rasulullah bertemu dengan para rasul dan nabi. Sampai akhirnya Beliau tiba di Sidratul Muntaha yang tidak ada satu makhlukpun yang dapat menjelaskan keindahannya. Di tempat inilah Beliau menerima perintah shalat lima waktu.
Demikian juga kisah Isra’ dan Mi’raj dapat kita jumpai dalam Al Qur’an. Allah berfirman tentang Isra’:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ اْلأَقْصَا الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al Isra’: 1)
Dan tentang mi’raj:
وَ لَقَدْ رَءَاهُ نَزْلَةً أُخْرَى ، عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى ، عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى ، إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَايَغْشَى ، مَازَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى ، لَقَدْ رَأَى مِنْ ءَايَتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى.
“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatan (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar” (QS. An Najm:13-18)
Kenapa dinamakan Sidratul Muntaha? Asy Syaikh As Sa’dy di dalam Taisiirul Karimir Rahman hal. 819 menjelaskan: “Ia adalah pohon yang sangat besar sekali, dinamakan Sidratul Muntaha karena kepadanyalah berhenti semua urusan yang naik dari bumi dan tempat turunnya apa-apa yang diturunkan oleh Allah baik wahyu ataupun yang lainnya. Atau batas terakhir dari apa yang bisa diketahui oleh makhluk, karena letaknya yang tinggi di ataslangit dan bumi. Waallahu a’lam.”

Kewajiban Mendirikan Shalat
Kewajiban mendirikan shalat ini demikian jelasnya di dalam Al Qur’an dan As Sunnah serta ijma’ ulama.
Allah berfirman:
وَأَقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِيْنَ
“Dan dirikanlah Shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (Al Baqarah: 43)
وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَآءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَ يُؤْتُوا الزَكَاةَ وَذَلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidaklah disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al Bayyinah: 5)
Rasulullah bersabda:
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوني أُصَلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Al Bukhari)
Para ulama menjelaskan bahwa asal dari suatu perintah dalam perkara agama adalah wajib. Dan ia tetap berada dalam kewajibannya sampai ada dalil lain yang memalingkannya. Nah, karena kewajiban shalat tidak ada dalil lain yang memalingkannya, maka ia pun tetap dalam keadaan wajib.

Keutamaan Shalat
Shalat yang kita kerjakan dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Hal ini bisa diraih jika seorang hamba benar-benar meniatkan di dalam hatinya, menjalankan rukun dan syaratnya, khusyu’ dan membersihkan jiwanya (dari setiap perkara yang dapat menghilangkan kekhusyu’an), meningkatkan iman, benar-benar punya ghirah (semangat) untuk melaksanakan kebaikan dan menjauhi kejelekan; berkesinambungan dalam melaksanakan hak-hak shalat, maka tercegahlah ia dari perbuatan keji dan munkar. (Taisirul Karimirrahman hal. 632)
Lebih dari itu shalat merupakan rukun kedua dari lima rukun Islam. Sebagaimana hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim, Rasulullah ? bersabda:

بُنِيَ الإِسْلاَم عَلى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَ إِقَامِ الصَّلاَةِ وَ إِيْتِاءِ الزَّكَاةِ وَ حَجِّ الْبَيْتِ وَ صَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun di atas lima rukun, bersaksi tiada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah dan Muhammad ? adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji, dan bershaum di bulan Ramadhan.”

Ia pun dapat menjaga darah dan harta seseorang, sebagaimana sabda Rasulullah ?:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أََنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَ يُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَ يٌؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوْا ذَالِكَ عَصَمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَ أَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَـقِّهَا وَحِسَابُـهُمْ عَلَى اللهِ.
“Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat. Apabila mereka telah melakukannya maka mereka telah menjaga darah dan hartanya dariku kecuali dengan haknya, sedangkan hisab mereka di sisi Allah.” (Muttafaqun ‘Alaihi).
Demikian pula shalat merupakan amalan pertama yang dihisab di hari kiamat, jika shalatnya baik maka ia akan sukses, dan bila shalatnya rusak maka ia akan merugi, sebagaimana hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Abu Dawud dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 2571.

Ancaman Meninggalkan Shalat
Allah berfirman:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَواةَ وَ اتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
“Maka datang sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)

Rasulullah ? bersabda:
َاْلعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَ بَيْنَهُمْ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
”Perbedaan antara kami dengan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat, barangsiapa yang meninggalkannya maka ia telah melakukan kekafiran.” (H.R At Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 4143)

Hukum Meninggalkan Shalat
Ulama bersepakat barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja dan mengingkari kewajibannya maka ia telah kafir keluar dari agama islam.
Akan tetapi mereka berbeda pendapat bagi siapa yang meninggalkan-nya karena malas, tersibukkan dengan urusan dunia, sementara dia masih berkeyakinan akan kewajibannya.
Pendapat pertama: sebagian ulama’ berpendapat ia kafir, telah keluar dari agama. Ini adalah pendapat Umar bin Al Khaththab, Abdurrahman bin Auf, Mu’adz bin Jabal, (dan beberapa sahabat yang lainnya), Al Imam Ahmad dan lain-lain. Mereka berdalil dengan firman Allah:
مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ، قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّين…
“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka). Mereka menjawab: ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat…” (Al Muddatstsir: 42-43)
Dan juga sabda Rasulullah ? dari sahabat Jabir bin Abdillah:
إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَ الشِّرْكِ وَ الْكُفْرِ تَرْكُ الصّلاَةِ
“Sesungguhnya pembeda seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat” (HR. Muslim)
Pendapat kedua: sebagian mereka mengatakan bahwa ia masih muslim, belum keluar dari agama. Ini adalah pendapat jumhur ulama dahulu dan sekarang, diantaranya Al Imam Malik, Asy Syafi’i, Abu Hanifah dan yang lainnya. Mereka berdalil dengan firman Allah:
إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ ويَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa dibawah syirik bagi siapa yang di kehendaki-Nya.” (An Nisaa’: 116)
Juga sabda Rasulullah ?:
“Ada lima shalat yang Allah wajibkan kepada hamba-hamba-Nya, maka barangsiapa menunaikannya, niscaya dia mempunyai perjanjian dengan Allah untuk dimasukkannya ke dalam jannah, dan barangsiapa yang tidak melaksanakannya maka dia tidak mempunyai perjanjian dengan Allah. Jika Allah menghendaki niscaya dia akan diadzab, dan jika Allah menghendaki yang lainnya, maka dia dimasukkan ke dalam jannah.” (HR. Ahmad dan Malik, lihat Shohihul Jami’ no. 3238)
Berkata Asy Syaikh Al Albani; “Pendapat yang benar adalah pendapat jumhur…” (Diringkas dari kitab Qawaa’id wa Fawaa’id hal. 55-57, dengan beberapa tambahan)

Nasehat dan Ajakan
Para pembaca yang dimuliakan oleh Allah…
Setelah kita mengetahui kedudukan shalat dan keutamaannya, serta ancaman Allah dan Rasul-Nya terhadap orang-orang yang meninggalkannya, maka marilah kita merenung sejenak…. mengintrospeksi diri kita masing-masing, apakah kita telah, menunaikannya dengan sebaik-baiknya? Ataukah diantara kita masih ada yang bolong-bolong… sehari hanya 2 atau 3 kali, atau hanya seminggu sekali (shalat jumat) atau hanya 2 kali dalam setahun (shalat 2 hari raya)…?!
Introspeksi diri dalam permasalahan ini sangatlah penting, karena hakekat tujuan diciptakannya kita di dunia oleh Allah ? adalah untuk beribadah, Allah berfirman:
وَ مَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ الإِنْسَ إِلاَّ لِيَعبُدُوْنِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56).
Terlebih lagi, kehidupan dunia adalah kehidupan yang sementara, tempat untuk beramal dan mendekatkan diri kepada Allah. Bila masing-masing dari kita meninggal dunia, maka tidak ada lagi kesempatan untuk beramal… Kemudian di hari kiamat, masing-masing dari kita dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah kita kerjakan…
Wahai saudaraku, marilah kita berbenah diri… yang sudah baik kita tingkatkan dan yang kurang harus kita tutup dan perbaiki, dengan senantiasa berpegang dan kembali kepada Al Qur’an, As Sunnah dengan pemahaman para sahabat serta para imam yang mengikuti jejak mereka.
Semoga dengannya kita digolongkan ke dalam hamba-hamba Allah yang diridhoi dan disayang-Nya.. Amin Ya Rabbal ‘Alamiin…
Wallahu a’lam

 

Sumber : http://buletin-alilmu.net/2006/09/17/sudahkah-mendirikan-shalat/


Posted in Islamic | No Comments »

Dauroh Ulama Ke-15

Posted by totoharyanto on 15th January 2018

dauroh_asyariah


Posted in Islamic | No Comments »

Napak Tilas Kemenangan Umat Islam (Tafsir Al-Qur`an Surat An-Nashr: 1-3)

Posted by totoharyanto on 15th December 2017

Para pembaca, semoga Allah Subhanallahu wa Taala selalu mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Sebuah perjuangan dalam meninggikan kalimat Allah Subhanallahu wa Taala tidaklah lepas dari ujian ataupun cobaan. Ia akan menimpa siapa saja yang menginginkan sebuah kemuliaan. Semakin besar nilai perjuangan itu, semakin besar pula kadar ujian yang akan diterimanya. Itulah perjuangan. Setiap insan tentu menginginkan keberhasilan dari perjuangan yang dijalaninya. Tanpa putus asa dan terus berusaha dengan diiringi doa kepada Allah Subhanallahu wa Taala semata, keberhasilan dan kemuliaan akan Allah Subhanallahu wa Taala berikan, insya Allah. Terlebih manakala yang diperjuangkan adalah agama Allah Subhanallahu wa Taala, sebagaimana yang Allah Subhanallahu wa Taala tegaskan dalam Al Qur’an (artinya): “Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)

Itulah janji yang akan Allah Subhanallahu wa Taala berikan kepada para hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya.

Pembaca yang dimuliakan oleh Allah Subhanallahu wa Taala,  diantara kemuliaan yang telah Allah Subhanallahu wa Taala anugerahkan kepada Rasulullah  Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan umat Islam adalah diturunkannya surat An-Nashr (Pertolongan) yang menerangkan tentang pertolongan dan kemenangan yang telah dan akan terus diperoleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan para pengikutnya.

Kemuliaan Surat An-Nashr

Surat An-Nashr merupakan salah satu surat yang terakhir diturunkan secara lengkap satu surat, sebagaimana disebutkan oleh Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya: Ubaidullah bin Abdillah bin ‘Utbah berkata: Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma bertanya kepadaku: Wahai Ibnu ‘Utbah, apakah engkau tahu surat Al-Qur’an yang terakhir turun?” Aku menjawab: “Ya,

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.” Kemudian Ibnu Abbas menjawab: “Benar.” (Shahih Muslim no. 3024). Surat An-Nashr ini termasuk surat Madaniyah (surat yang diturunkan setelah hijrahnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam ke Madinah).

Asy-Syaikh As-Sa’dy rahimahullah, ketika menjelaskan global kandungan surat ini, mengatakan: Di dalam surat yang mulia ini terdapat kabar gembira, perintah bagi Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wa Sallam ketika kabar gembira tersebut menjadi kenyataan, serta adanya isyarat (tanda) dan konsekuensinya.

Kabar gembira tersebut adalah pertolongan Allah untuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, penaklukan kota Makkah, serta masuknya umat manusia ke dalam agama Islam secara berbondong-bondong, dan menjadi penolong agama Islam yang sebelumnya sebagai musuh-musuh agama ini. Kabar gembira tersebut telah menjadi kenyataan.

Adapun perintah Allah kepada Rasul-Nya setelah terwujudnya kabar gembira dan penaklukan kota Makkah adalah perintah untuk bersyukur kepada-Nya atas kemenangan tersebut, bertasbih dengan memuji-Nya, dan beristighfar.

Sedangkan isyaratnya ada dua macam: yaitu pertolongan yang terus berlangsung untuk Islam dan akan semakin bertambah pertolongan tersebut dengan adanya tasbih, memuji Allah, dan permohonan ampun kepada-Nya dari Rasul-Nya. Ini termasuk perwujudan rasa syukur, Allah Subhanallahu wa Taala berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (Ibrohim: 7)

Pertolongan tersebut juga telah terwujud pada zaman Al-Khulafa` Ar-Rasyidin dan yang setelah mereka dari umat ini, dan terus berlangsung hingga agama Islam mencapai apa yang belum pernah dicapai oleh agama-agama lain; serta banyak orang yang menyambut agama Islam yang agama lain tidak dapat menandinginya. Sampai akhirnya muncul penyimpangan dan penyelisihan perintah Allah pada umat ini. Oleh karena itu, Allah Subhanallahu wa Taala timpakan musibah dengan perpecahan dan tercerai-berainya urusan, hingga terjadilah apa yang terjadi.

Walaupun demikian, umat Islam dan agama ini akan senantiasa dirahmati Allah Subhanallahu wa Taala, apa yang tidak terbetik dalam benak ini dan tidak terlintas dalam angan.

Adapun isyarat yang kedua adalah isyarat tentang ajal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam yang semakin dekat. Bersamaan dengan hal itu, usia Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dipenuhi dengan keutamaan yang dengannya Allah Subhanallahu wa Taala bersumpah.

Dan telah ditetapkan bahwa hal-hal yang memiliki keutamaan seringkali diakhiri dengan istighfar, seperti sholat, haji, dan yang selainnya.” (Tafsir As-Sa’dy, hal. 934)

Pembaca yang kami cintai, pemaparan Asy-Syaikh As-Sa’dy rahimahullah tersebut memberikan gambaran bahwa pertolongan yang hanya datang dari Allah Subhanallahu wa Taala dijanjikan untuk umat ini tatkala mereka istiqomah di atas agama-Nya, melaksanakan apa yang telah disyariatkan oleh Sang Pencipta, Penguasa dan Pengatur alam ini, yaitu Allah Subhanallahu wa Taala. Namun manakala kebanyakan umat Islam telah melalaikan kenikmatan ini, syari’at-Nya dicampakkan, maka pertolongan yang sempat dirasakan umat ini pun sedikit demi sedikit dicabut dan digantikan dengan musibah yang melanda. Itulah manusia, disadari atau tidak adalah makhluk yang lalai, lalai dari mengerjakan amal kebajikan dan ketaqwaan, disisi lain juga lalai dari dosa dan maksiat, sehingga dianggap remeh dan dikerjakan. Wallahul musta’an.

KANDUNGAN SURAT AN-NASHR

Allah Subhanallahu wa Taala berfirman:

(Artinya): “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.”

Ayat pertama:

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.”

Pembaca yang dimuliakan Allah Subhanallahu wa Taala, ayat yang pertama ini merupakan kabar gembira dari Allah Subhanallahu wa Taala kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan umat ini dengan datangnya pertolongan dan kemenangan atas perjuangan yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersama kaum muslimin.

Pertolongan itu datangnya dari Allah Subhanallahu wa Taala satu-satunya, dan hanya akan diberikan kepada siapa saja yang berpegang teguh kepada perintah Allah Subhanallahu wa Taala dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Allah Subhanallahu wa Taala menyatakan dalam Al-Qur’an (artinya):

“Dan pertolongan itu hanyalah dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali Imron: 126)

Sebaliknya, pertolongan hakiki itu tidak mungkin, bahkan mustahil, akan diberikan kepada orang-orang yang mengaku dan menyeru untuk berjuang serta berkorban demi tegaknya syari’at Allah Subhanallahu wa Taala, namun justru mereka menggunakan cara-cara yang jauh dari syari’at Allah Subhanallahu wa Taala, jauh dari tuntunan yang telah dicontohkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan para shahabatnya.

Para pembaca yang kami muliakan, disebutkan oleh sebagian Mufassirun (ahli tafsir), diantaranya Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thobary rahimahullah, bahwa الفتح (Kemenangan) yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah) yang sebelumnya dikuasai oleh kaum musyrikin Quraisy.

Ayat kedua:

“Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.”

Inilah salah satu bentuk pertolongan yang diberikan oleh Allah Subhanallahu wa Taala. Ketika manusia berdatangan secara berbondong-bondong dari berbagai negeri, sampai penduduk Yaman sekalipun, datang dan menyatakan keimanan mereka di hadapan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Disebutkan oleh Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thobary rahimahullah, dari shahabat Abdullah bin Abbas radliyallahu ‘anhuma berkata: “Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berada di Madinah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bertakbir: “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan telah datang penduduk Yaman, kemudian beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam ditanya: “Wahai Rasulullah, siapa mereka penduduk Yaman?, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab: “Mereka adalah kaum yang luhur budi pekertinya, lemah lembut perangai dan akhlaknya. Keimanan di Yaman, Fiqh di Yaman dan Hikmah juga di Yaman.” (Tafsir Ath-Thobary, hal. 603)

Pada saat itu, agama Islam menampakkan kewibawaannya di mata musuh-musuhnya. Bahkan, banyak dari mereka yang pada awal-awal Islam  sebagai penghalang dan musuh bagi agama ini, berbalik masuk Islam dan menjadi penolongnya.

Ayat ketiga:

“Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.”

Sebagai wujud syukur atas pertolongan dan kemenangan yang telah diberikan Allah Subhanallahu wa Taala kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan umat ini, Allah Subhanallahu wa Taala memerintahkan Nabi-Nya Shalallahu ‘alaihi wa Sallam untuk bertasbih, memuji Allah Subhanallahu wa Taala dan memohon ampun kepada-Nya.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menyebutkan bahwa ‘Aisyah radliyallahu ‘anha berkata: “Dahulu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam di akhir-akhir hidupnya memperbanyak ucapan:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

“Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.”

Sebagaimana disebutkan juga oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya hadits no. 484.

Setelah turunnya surat An-Nashr ini, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam juga banyak membaca dalam ruku’ dan sujudnya:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

“Maha Suci Engkau, Ya Allah, dan dengan memuji-Mu, Ya Allah, ampunilah aku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Pembaca yang kami muliakan, turunnya surat An-Nashr ini merupakan pertanda bahwa ajal (kematian) beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sudah dekat, dan inilah yang disepakati oleh para shahabat radliyallahu ‘anhum. Al-Hafizh Al-Baihaqi rahimahullah menyebutkan riwayat dari shahabat Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma. Beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berkata: “Ketika turun surat (An-Nashr), Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam

memanggil Fathimah (putrinya-red) dan berkata: “Sesungguhnya aku telah mendapat kabar tentang kematianku”, maka ketika itu Fathimah radliyallahu ‘anha tampak menangis dan kemudian tertawa. Kemudian ia (Fathimah–pen) berkata: “Aku diberi tahu tentang berita kematiannya (yaitu kematian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam –pen), maka akupun menangis. Lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berkata kepadaku, “Bersabarlah! karena kamu adalah orang pertama dari keluargaku yang akan menyusulku, maka akupun (Fathimah–pen) tertawa.” (Dala`il An-Nubuwwah Li Al-Baihaqiy, 7/167).

Dikisahkan juga oleh Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma: “Suatu hari ketika Umar bin Al-Khatthab radliyallahu ‘anhu membawaku masuk bersama para pejuang pertempuran Badr (pada saat itu Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma masih muda belia). Tampak keganjilan dalam hati pada sebagian yang hadir, mereka berkata: “Mengapa Umar mengkhususkan anak ini (Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma–red) padahal kita juga memiliki anak sepertinya?” Lalu Umar radliyallahu ‘anhu mengatakan: “Sesungguhnya siapapun telah mengetahui sebagaimana yang kalian ketahui tentangnya (yaitu Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma–red).” Umar radliyallahu ‘anhu bertanya kepada mereka (para pejuang Badr radliyallahu ‘anhum) tentang tafsir surat An-Nashr, maka sebagian dari mereka menjawab: “Bahwa dalam ayat ini Allah Subhanallahu wa Taala telah memerintahkan kepada kita agar memuji Allah, dan memohon ampun kepada-Nya jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan bagi kita.” Sebagian yang lain terdiam dan tidak berkomentar sedikitpun. Kemudian Umar radliyallahu ‘anhu bertanya kepadaku: “Apakah tafsir seperti itu yang engkau pahami, wahai Ibnu Abbas?” Aku menjawab: “Tidak, (bukan sekedar itu–red).” Umar radliyallahu ‘anhu berkata: “Lalu bagaimana menurutmu?” Akupun berkata: “Yaitu berita tentang kematian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam yang telah diberitahukan Allah Subhanallahu wa Taala kepadanya Shalallahu ‘alaihi wa Sallam,” kemudian Umar berkata: “Tidaklah aku memahaminya melainkan sama seperti yang telah engkau ucapkan.” (Shahih Al-Bukhari no. 4970)

Akhirnya sebagai penutup, kita memohon kehadirat Allah Yang Maha Agung, Peguasa Arsy yang mulia agar menganugerahkan kepada kita semua ketetapan hati dan istiqomah dalam menjalankan segala perintah-Nya serta menjauhi segala yang dilarang-Nya. Dengan suatu harapan, semoga Allah Subhanallahu wa Taala memberikan kepada kita pertolongan dan kemenangan sebagaimana yang telah diberikan kepada generasi terbaik umat ini. Amin…

Sumber : Buletin Islam Al Ilmu edisi no: 40/XI/VIII/1431
URL       : http://buletin-alilmu.net/2010/10/21/napak-tilas-kemenangan-umat-islam-tafsir-al-quran-surat-an-nashr-1-3/

 


Posted in Islamic | No Comments »

Tiga Nasihat Berharga

Posted by totoharyanto on 29th August 2017

“Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan yang baik, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskannya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. at-Tirmidzi, dia berkata, “Hadits ini hasan shahih.” Dihasankan pula oleh asy-Syaikh al-Albani)

…Wahai saudaraku, semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati kita semua

Pesan-pesan mulia dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini, awalnya ditujukan kepada sahabat Abu Dzar Jundub bin Junadah al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu. Walaupun demikian, sebenarnya juga diperuntukkan bagi seluruh umatnya. Beliau adalah seorang sahabat yang terkenal dengan kezuhudan dan keilmuannya. Keseriusan perjuangannya dalam menggapai hidayah adalah contoh dan teladan. Keteguhan beliau dalam memegang keyakinan dan kebenaran adalah figur panutan. Beliau termasuk orang-orang pertama (as-Sabiqunal Awwalun) yang masuk Islam.

Perjalanan jauh ia tempuh, tanpa peduli segala resiko yang bakal terjadi, tetap beliau hadapi. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menuturkan sendiri, “Aku adalah orang keempat dalam Islam. Ada tiga orang yang masuk Islam sebelumku. Ketika itu aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku mengatakan, “Assalamu ‘alaika, wahai Rasullullah. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah. Aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah.” Aku pun melihat raut muka bahagia terpancar dari wajah suci Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikianlah fitrah yang bersih. Senantiasa rindu terhadap kebenaran, ke manapun akan dia cari. Luasnya gurun pasir, teriknya sinar matahari, sedikitnya bekal, dan jauhnya perjalanan tidak menjadi penghalang untuk meraih kebahagiaan hakiki.

Wahai saudaraku di Jalan Allah…

Bila sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai generasi terbaik umat ini perlu diberi wasiat dan nasihat, maka terlebih lagi kita yang hidup di zaman yang jauh dari masa kenabian, tentu lebih membutuhkan.

Tiga nasihat yang berharga ini adalah faktor utama bagi seseorang untuk meraih kebahagiaan di dunia yang fana ini dan di akhirat nanti yang kekal abadi. Karena nasihat tersebut mengandung perintah, sebagai wujud penunaian hak-hak Allah subhanahu wa ta’ala dan hak-hak hamba-Nya. Seseorang akan dianggap baik, bila baik dan benar hubungan dengan Allah subhanahu wa ta’ala dan bagus pula muamalahnya terhadap sesama manusia.

Nasihat pertama dan paling utama adalah bertakwalah kepada Allah subhanahu wa ta’aladi manapun berada.

Takwa sebagaimana didefinisikan oleh al-Imam Umar bin Abdul Aziz v, yaitu meninggalkan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala haramkan dan melaksanakan apa yang Allahsubhanahu wa ta’ala wajibkan. Lebih jelas lagi dengan yang didefinisikan oleh al-Imam Thalq bin Habib v: “Takwa adalah sebuah amal ketaatan kepada Allah di atas cahaya (ilmu) dari–Nya karena mengharap pahala-Nya. Serta meninggalkan kemaksiatan kepada Allah karena takut adzab-Nya didasari atas cahaya (ilmu) dari-Nya.”

Wahai saudaraku, rahimakumullah, ketakwaan yang hakiki tidak bisa diperoleh tanpa didasari dengan ilmu. Dengan ilmu tersebut akan terbedakan antara yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, perintah dan larangan. Bila takwa sudah menjadi pakaian dan perhiasan bagi kehidupan seseorang, niscaya dia akan meraih kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Bukanlah menghadapkan wajah ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan. Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan bantuan), orang-orang yang meminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janjinya -apabila ia berjanji- dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar keimanannya dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 177)

Wahai saudaraku, barakallahufikum, perhatikan baik-baik ayat Allah subhanahu wa ta’alayang mulia tersebut. Ternyata takwa bukanlah kata yang sepi dari arti dan bukan pula pengakuan kosong tanpa konsekuensi. Takwa adalah sebuah kata yang sangat luas dimensi cakupannya. Takwa adalah bentuk pengabdian secara vertikal kepada Allahsubhanahu wa ta’ala, yang tidak dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Bukan orang bertakwa yang hakiki bila di hadapan orang banyak terlihat taat, sementara di kala sepi sendiri dia bermaksiat. Juga bukan yang ketika berada di masjid, sujud, ruku, terlihat khusyu’, sementara tatkala di pasar, di kantor, di tempat kerja dan tempat-tampat lainya, melanggar batasan syari’at.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Bertakwa dengan sebenar-benarnya adalah hendaknya Allah subhanahu wa ta’ala ditaati dan tidak dimaksiati, disyukuri (nikmatnya) dan bukan diingkari, selalu diingat dan jangan dilupakan (dalam situasi dan kondisi apapun, baik di saat senang dan lapang ataupun dalam kondisi sedih dan sempit, pen.).”

Wahai saudara-saudaraku seiman… Inilah sebagian rahasia mengapa krisis multidimensi (baik akidah, ibadah, muamalah, moral, akhlak, dll.) yang menimpa umat ini tiada henti seolah-olah tanpa tepi. Tindak kejahatan di tengah masyarakat semakin dahsyat, seolah tidak bisa diakhiri. Bahkan setiap hari semakin bertambah kualitas dan kuantitas kejelekannya. Semua ini tidak lain karena sikap takut dan takwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala telah menipis atau nyaris habis, melemah bahkan hampir punah.

Wahai saudaraku, semoga kita dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala, sebenarnya janji kemuliaan dari Allah bagi orang-orang yang bertakwa sangat melimpah, baik di dunia terlebih di akhirat. Di dunia, hidupnya terbimbing, urusannya dipermudah, diberi rezeki dari arah yang tidak terduga nan penuh berkah. Adapun di akhirat kelak, pahalanya melimpah, meraih naungan ridha-Nya, di dalam al-Jannah (surga).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Jikalau sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (Al-A’raf: 96)

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar serta memberinya rezeki dari arah yang tidak disangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3)

“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa di sisi Rabb mereka (disediakan) jannah yang penuh kenikmatan.” (Al-Qalam: 34)

Nasihat kedua adalah iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan yang baik, niscaya kebaikan tersebut akan menghapusnya.

Mayoritas ulama menjelaskan bahwa hal tersebut terbatas pada dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar akan terhapus dengan taubat yang tulus.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa terkadang seseorang terjerumus dalam perbuatan dosa dan kesalahan. Hal ini disebabkan banyak faktor, di antaranya lingkungan yang jelek, dorongan hawa nafsu yang tidak baik, dan bujuk rayu syaithan.

Wahai saudaraku, perlu diingat bahwa dosa yang kita perbuat akan berdampak negatif terhadap rezeki, kejiwaan dan seluruh keadaan, terlebih keimanan kita. Sungguh tiada musibah yang turun menimpa manusia kecuali karena sebab dosa. Musibah itu pun tidak akan dicabut kecuali dengan taubat dan istighfar.

Allah lebih menyayangi hamba-Nya daripada sayangnya hamba terhadap dirinya sendiri. Di antara bentuk kasih sayang-Nya bahwa dosa seorang hamba bisa dihapus dan dampak negatif dari dosa bisa dihapus dengan kebaikan seperti shalat, sedekah, dan lain-lain jika itu dosa kecil. Sementara dosa besar akan terhapus dengan bertaubat dan istighfar.

Oleh karena itu, wahai kaum muslimin, jangan putus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang putus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir. Sebesar apapun kesalahan dan dosa yang dilakukan oleh seorang hamba, karena digoda syaithan, kemudian segera bertaubat kepada Allah, pasti dia akan mendapati-Nya Maha Pengampun lagi Penyayang. Bersegeralah untuk memperbaiki diri dengan melakukan amal kebaikan karena satu kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah menjadi sepuluh bahkan lebih.

Nasihat ketiga adalah berakhlaklah mulia dalam bergaul dengan sesama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang memiliki budi pekerti yang paling baik. Segala akhlak mulia dan perangai terpuji ada pada diri beliau. Sehingga kita diperintah untuk meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dari semua sisi, Allahsubhanahu wa ta’ala berfirman:

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu.”(Al-Ahzab: 21)

Karena akhlak mulia termasuk poros peradapan dalam kehidupan manusia, Islam telah menjunjung tinggi kedudukan akhlak mulia dan sangat besar perhatiannya. Banyaknya ayat dan hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seputar akhlak mulia, adalah bukti nyata atas pentingnya hal ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR al-Bukhari)

Baiknya akhlak adalah bukti atas baiknya keimanan seseorang. Pemiliknya akan memanen janji al-Jannah dan dekat tempat duduknya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhirat kelak.

Sudah sepatutnya bagi kita untuk selalu berhias diri dengan akhlak yang mulia. Misalnya dengan silaturahmi, memaafkan kesalahan sesama, rendah hati, tidak sombong, serta bertutur kata yang lembut.

Wajah ceria ketika berjumpa dengan saudara, diiringi dengan salam dan senyuman, akan memunculkan suasana sejuk nan penuh keakraban, bahkan akan menebarkan kasih sayang dan menuai saling cinta dari sesama.

Ibnul Mubarak rahimahullah berkata, “(Di antara) bentuk akhlak mulia adalah wajah yang selalu berseri, memberikan kebaikan, dan mencegah diri dari menyakiti orang lain.”

Wahai saudaraku seiman, dengan mempraktikkan nasihat ini, kehidupan masyarakat, akan aman, serasi, harmonis, dan ketentraman akan terwujud.

Wallahu a’lamu bish shawab.

Penulis: al-Ustadz Muslim Tamam hafizhahullahu ta’ala


Posted in Hadits, IPB | 2 Comments »