TOTO HARYANTO

Sedikit goresan menebar manfaat …..

Archive for the 'Hadits' Category

Tiga Nasihat Berharga

Posted by totoharyanto on 29th August 2017

“Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan yang baik, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskannya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. at-Tirmidzi, dia berkata, “Hadits ini hasan shahih.” Dihasankan pula oleh asy-Syaikh al-Albani)

…Wahai saudaraku, semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati kita semua

Pesan-pesan mulia dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini, awalnya ditujukan kepada sahabat Abu Dzar Jundub bin Junadah al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu. Walaupun demikian, sebenarnya juga diperuntukkan bagi seluruh umatnya. Beliau adalah seorang sahabat yang terkenal dengan kezuhudan dan keilmuannya. Keseriusan perjuangannya dalam menggapai hidayah adalah contoh dan teladan. Keteguhan beliau dalam memegang keyakinan dan kebenaran adalah figur panutan. Beliau termasuk orang-orang pertama (as-Sabiqunal Awwalun) yang masuk Islam.

Perjalanan jauh ia tempuh, tanpa peduli segala resiko yang bakal terjadi, tetap beliau hadapi. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menuturkan sendiri, “Aku adalah orang keempat dalam Islam. Ada tiga orang yang masuk Islam sebelumku. Ketika itu aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku mengatakan, “Assalamu ‘alaika, wahai Rasullullah. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah. Aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah.” Aku pun melihat raut muka bahagia terpancar dari wajah suci Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikianlah fitrah yang bersih. Senantiasa rindu terhadap kebenaran, ke manapun akan dia cari. Luasnya gurun pasir, teriknya sinar matahari, sedikitnya bekal, dan jauhnya perjalanan tidak menjadi penghalang untuk meraih kebahagiaan hakiki.

Wahai saudaraku di Jalan Allah…

Bila sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai generasi terbaik umat ini perlu diberi wasiat dan nasihat, maka terlebih lagi kita yang hidup di zaman yang jauh dari masa kenabian, tentu lebih membutuhkan.

Tiga nasihat yang berharga ini adalah faktor utama bagi seseorang untuk meraih kebahagiaan di dunia yang fana ini dan di akhirat nanti yang kekal abadi. Karena nasihat tersebut mengandung perintah, sebagai wujud penunaian hak-hak Allah subhanahu wa ta’ala dan hak-hak hamba-Nya. Seseorang akan dianggap baik, bila baik dan benar hubungan dengan Allah subhanahu wa ta’ala dan bagus pula muamalahnya terhadap sesama manusia.

Nasihat pertama dan paling utama adalah bertakwalah kepada Allah subhanahu wa ta’aladi manapun berada.

Takwa sebagaimana didefinisikan oleh al-Imam Umar bin Abdul Aziz v, yaitu meninggalkan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala haramkan dan melaksanakan apa yang Allahsubhanahu wa ta’ala wajibkan. Lebih jelas lagi dengan yang didefinisikan oleh al-Imam Thalq bin Habib v: “Takwa adalah sebuah amal ketaatan kepada Allah di atas cahaya (ilmu) dari–Nya karena mengharap pahala-Nya. Serta meninggalkan kemaksiatan kepada Allah karena takut adzab-Nya didasari atas cahaya (ilmu) dari-Nya.”

Wahai saudaraku, rahimakumullah, ketakwaan yang hakiki tidak bisa diperoleh tanpa didasari dengan ilmu. Dengan ilmu tersebut akan terbedakan antara yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, perintah dan larangan. Bila takwa sudah menjadi pakaian dan perhiasan bagi kehidupan seseorang, niscaya dia akan meraih kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Bukanlah menghadapkan wajah ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan. Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan bantuan), orang-orang yang meminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janjinya -apabila ia berjanji- dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar keimanannya dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 177)

Wahai saudaraku, barakallahufikum, perhatikan baik-baik ayat Allah subhanahu wa ta’alayang mulia tersebut. Ternyata takwa bukanlah kata yang sepi dari arti dan bukan pula pengakuan kosong tanpa konsekuensi. Takwa adalah sebuah kata yang sangat luas dimensi cakupannya. Takwa adalah bentuk pengabdian secara vertikal kepada Allahsubhanahu wa ta’ala, yang tidak dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Bukan orang bertakwa yang hakiki bila di hadapan orang banyak terlihat taat, sementara di kala sepi sendiri dia bermaksiat. Juga bukan yang ketika berada di masjid, sujud, ruku, terlihat khusyu’, sementara tatkala di pasar, di kantor, di tempat kerja dan tempat-tampat lainya, melanggar batasan syari’at.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Bertakwa dengan sebenar-benarnya adalah hendaknya Allah subhanahu wa ta’ala ditaati dan tidak dimaksiati, disyukuri (nikmatnya) dan bukan diingkari, selalu diingat dan jangan dilupakan (dalam situasi dan kondisi apapun, baik di saat senang dan lapang ataupun dalam kondisi sedih dan sempit, pen.).”

Wahai saudara-saudaraku seiman… Inilah sebagian rahasia mengapa krisis multidimensi (baik akidah, ibadah, muamalah, moral, akhlak, dll.) yang menimpa umat ini tiada henti seolah-olah tanpa tepi. Tindak kejahatan di tengah masyarakat semakin dahsyat, seolah tidak bisa diakhiri. Bahkan setiap hari semakin bertambah kualitas dan kuantitas kejelekannya. Semua ini tidak lain karena sikap takut dan takwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala telah menipis atau nyaris habis, melemah bahkan hampir punah.

Wahai saudaraku, semoga kita dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala, sebenarnya janji kemuliaan dari Allah bagi orang-orang yang bertakwa sangat melimpah, baik di dunia terlebih di akhirat. Di dunia, hidupnya terbimbing, urusannya dipermudah, diberi rezeki dari arah yang tidak terduga nan penuh berkah. Adapun di akhirat kelak, pahalanya melimpah, meraih naungan ridha-Nya, di dalam al-Jannah (surga).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Jikalau sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (Al-A’raf: 96)

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar serta memberinya rezeki dari arah yang tidak disangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3)

“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa di sisi Rabb mereka (disediakan) jannah yang penuh kenikmatan.” (Al-Qalam: 34)

Nasihat kedua adalah iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan yang baik, niscaya kebaikan tersebut akan menghapusnya.

Mayoritas ulama menjelaskan bahwa hal tersebut terbatas pada dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar akan terhapus dengan taubat yang tulus.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa terkadang seseorang terjerumus dalam perbuatan dosa dan kesalahan. Hal ini disebabkan banyak faktor, di antaranya lingkungan yang jelek, dorongan hawa nafsu yang tidak baik, dan bujuk rayu syaithan.

Wahai saudaraku, perlu diingat bahwa dosa yang kita perbuat akan berdampak negatif terhadap rezeki, kejiwaan dan seluruh keadaan, terlebih keimanan kita. Sungguh tiada musibah yang turun menimpa manusia kecuali karena sebab dosa. Musibah itu pun tidak akan dicabut kecuali dengan taubat dan istighfar.

Allah lebih menyayangi hamba-Nya daripada sayangnya hamba terhadap dirinya sendiri. Di antara bentuk kasih sayang-Nya bahwa dosa seorang hamba bisa dihapus dan dampak negatif dari dosa bisa dihapus dengan kebaikan seperti shalat, sedekah, dan lain-lain jika itu dosa kecil. Sementara dosa besar akan terhapus dengan bertaubat dan istighfar.

Oleh karena itu, wahai kaum muslimin, jangan putus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang putus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir. Sebesar apapun kesalahan dan dosa yang dilakukan oleh seorang hamba, karena digoda syaithan, kemudian segera bertaubat kepada Allah, pasti dia akan mendapati-Nya Maha Pengampun lagi Penyayang. Bersegeralah untuk memperbaiki diri dengan melakukan amal kebaikan karena satu kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah menjadi sepuluh bahkan lebih.

Nasihat ketiga adalah berakhlaklah mulia dalam bergaul dengan sesama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang memiliki budi pekerti yang paling baik. Segala akhlak mulia dan perangai terpuji ada pada diri beliau. Sehingga kita diperintah untuk meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dari semua sisi, Allahsubhanahu wa ta’ala berfirman:

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu.”(Al-Ahzab: 21)

Karena akhlak mulia termasuk poros peradapan dalam kehidupan manusia, Islam telah menjunjung tinggi kedudukan akhlak mulia dan sangat besar perhatiannya. Banyaknya ayat dan hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seputar akhlak mulia, adalah bukti nyata atas pentingnya hal ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR al-Bukhari)

Baiknya akhlak adalah bukti atas baiknya keimanan seseorang. Pemiliknya akan memanen janji al-Jannah dan dekat tempat duduknya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhirat kelak.

Sudah sepatutnya bagi kita untuk selalu berhias diri dengan akhlak yang mulia. Misalnya dengan silaturahmi, memaafkan kesalahan sesama, rendah hati, tidak sombong, serta bertutur kata yang lembut.

Wajah ceria ketika berjumpa dengan saudara, diiringi dengan salam dan senyuman, akan memunculkan suasana sejuk nan penuh keakraban, bahkan akan menebarkan kasih sayang dan menuai saling cinta dari sesama.

Ibnul Mubarak rahimahullah berkata, “(Di antara) bentuk akhlak mulia adalah wajah yang selalu berseri, memberikan kebaikan, dan mencegah diri dari menyakiti orang lain.”

Wahai saudaraku seiman, dengan mempraktikkan nasihat ini, kehidupan masyarakat, akan aman, serasi, harmonis, dan ketentraman akan terwujud.

Wallahu a’lamu bish shawab.

Penulis: al-Ustadz Muslim Tamam hafizhahullahu ta’ala


Posted in Hadits, IPB | 2 Comments »

Kenikmatan Penduduk Syurga yang Paling Bawah

Posted by totoharyanto on 22nd February 2016

👍💐 KENIKMATAN PENDUDUK SURGA PALING BAWAH

 

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

 

🌈 Penghuni Surga yang Paling Rendah Tingkatannya adalah Yang Memiliki Kekuasaan Seluruh Dunia Sejak Allah Ciptakan hingga Allah Hancurkan (Saat Kiamat) Ditambah 10 Kali Lipat.

 

🔖 Sebagaimana disebutkan dalam Hadits tentang Seseorang yang Paling Akhir Dikeluarkan dari Neraka menuju Surga:

 

فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا

 

🍃 Sesungguhnya Bagimu Kekuasaan seperti di Dunia dan Sepuluh Kali Lipatnya. (H.R Al-Bukhari no 6086 dan Muslim no 272).

 

أَلَنْ تَرْضَى إِنْ أَعْطَيْتُكَ مِثْلَ الدُّنْيَا مُذْ يَوْمِ خَلَقْتُهَا إِلَى يَوْمِ أَفْنَيْتُهَا وَعَشَرَةَ أَضْعَافِهَا

 

🍃 (Allah menyatakan) : Tidakkah Engkau Ridha jika Aku Berikan Kepadamu Semisal Dunia sejak Aku Ciptakan hingga Hari Aku Hancurkan dan (Ditambah) 10 Kali Lipatnya. (H.R Ibnu Abid Dunya, AtThobarony, Dishahihkan oleh Al-Hakim dan Al-Albany dalam Shahih atTarghib no 3591).

 

🌠 Sebagian Riwayat Menyatakan bahwa Penghuni Surga Paling Bawah tersebut Disuruh oleh Allah untuk Berharap dan Berangan-angan Apa Saja yang ia inginkan, hingga Saat Telah Habis Apa yang Dia Angankan, kemudian Allah Menyatakan Kepadanya : Untukmu 10 Kali Lipat dari itu.

 

☝️ Kemudian Dia Mengatakan : Tidak Ada Seorangpun yang Mendapatkan Kenikmatan seperti Aku. Padahal ia adalah Orang yang Terakhir Masuk Surga dan Berada di Level Paling Bawah.

 

✅ Penduduk Surga Tingkatan Paling Bawah adalah Seseorang yang Memiliki 1000 Pelayan.

 

🎁 Tiap Pelayan Memiliki Tugas yang Berbeda-beda dalam Melayaninya. Sahabat Nabi Abdullah bin Amr Radhyiallahu Anhu Menyatakan :

 

إِنَّ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً مَنْ يَسْعَى عَلَيْهِ أَلْفُ خَادِمٍ كُلُّ خَادِمٍ عَلَى عَمَلٍ لَيْسَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ

 

🍃 Sesungguhnya Penduduk Surga yang Paling Bawah adalah Seseorang yang 1000 Pelayan Bergegas (Melayaninya). Setiap Pelayan Memiliki Tugas yang Berbeda dengan yang Lain. (H.R Al-Baihaqy dan Dishahihkan Syaikh Al-Albany dalam Shahih AtTarghib).

 

🌀 Dalam sebagian Riwayat dijelaskan Bahwa Ketika Penghuni Surga Paling Bawah itu akan Masuk ke istananya, ia Melihat Sosok yang Sangat indah dan Mengira itu adalah Malaikat, Padahal itu adalah Salah satu dari 1000 Pelayannya. Kemudian dia Masuk ke Dalam istananya yang Berupa Permata Hijau Kemerah-merahan Setinggi 70 Hasta (Sekitar 32 Meter) dan Memiliki 60 Pintu, yang Setiap Pintu Menghantarkan pada Ruangan berupa Permata yang lain, yang Bentuknya Berbeda Satu Sama Lain. Tiap Ruangan Permata itu Memiliki Ranjang dan Bidadari. (Shahih atTarghib no 3591).

 

🔰 Akan Ada 2 Bidadari yang Menyambutnya dan Berkata :

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَاكَ لَنَا، وَأَحْيَانَا لَكَ

 

🍃 Segala Puji Bagi Allah yang Telah Menghidupkanmu Untuk Kami dan Menghidupkan Kami Untukmu (H.R Muslim no 311).

 

🎯 Orang itu Bisa Melihat Area Kekuasaannya Sejauh Perjalanan 100 Tahun (Hadits Ibnu Mas’ud Dishahihkan oleh Al-Hakim dan Disepakati oleh Adz-Dzahaby).

 

🍇 Itu adalah Kenikmatan yang Dirasakan oleh Penghuni Surga Terbawah yang Masuk Surga Paling Akhir dan Dia Sempat Merasakan AnNaar (Neraka).

 

💎💍 Bagaimana dengan Penduduk Surga yang di Atasnya?

 

☝️ Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala Memasukkan Kita ke Dalam SurgaNya yang Penuh dengan Kenikmatan.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~

 

📒 Dikutip dari Buku “Akidah Imam Al-Muzani (Murid Imam Asy-Syafii)”

 

▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah.

 

=====================

✍ http://telegrame/alistiqomah


Posted in Hadits | No Comments »

Renungan Jum’at : Kewajiban Persendian Kita

Posted by totoharyanto on 19th September 2014

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

كُلُّ سُلاَمَى عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ…

“Setiap persendian manusia ada kewajiban bershadaqah setiap harinya…”

(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Para pembaca rahimakumullah, Maha suci dan Maha Besar Allah ‘Azza wa jalla yang telah menciptakan makhluk-makhluk-Nya dengan struktur yang penuh kesempurnaan.Termasuk di dalamnya manusia.Allah ‘Azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (at-Tiin: 4).
 

Di antara nikmat terbesar yang manusia dapatkan adalah keteraturan struktur dan bentuk tubuh. Lihatlah bagaimana Allah ‘Azza wa jalla menciptakan tubuh tersebut yang terbentuk dari susunan tulang belulang dan persendian dengan rapi dan teratur, yang tidak ada satu makhluk pun yang mampu menyamai ciptaanNya yang satu ini. Bermula dari saripati tanah lalu berubah menjadi makhluk yang mengagumkan. Lihatlah firmanNya,“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (al-Mukminun: 12-14).

Ketahuilah, tidaklah Allah ‘Azza wa jalla menyebutkan berbagai nikmat tersebut, terkhusus nikmat yang ada pada tubuh kita, melainkan untuk mengingatkan kembali akan kewajiban kita untuk mensyukuri itu semua. Bahwa tidak ada satupun di antara kita yang tidak diberi nikmat dan lepas dari pengasuhan al-Razzaq, maka bersyukurlah!!.

Di sisi lain sebagai bahan renungan agar kita mengakui akan kebesaran dan keagungan sang Pencipta, Allah ‘Azza wa jalla. Sebagaimana firmanNya, “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (adz-Dzariyat: 21)

Para pembaca rahimakumullah. Demikian pula persendian kita, ternyata butuh pula untuk kita mensyukurinya setiap hari. Bagaimana caranya? Perhatikanlah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berikut, “Setiap ruas tulang/persendian manusia ada kewajiban bershadaqah setiap hari…” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Kewajiban ini yang merupakan bentuk syukur kita kepada Allah ‘Azza wa jalla atas nikmat persendian adalah dengan bersedekah untuknya. (Lihat syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah asy-Syaikh ibnu ‘Utsaimin rahimahullah)

Dalam hadits yang lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap insan itu diciptakan memiliki 360 persendian.” (HR. Muslim no. 1007).

Dari sini kita mengetahui bahwa persendian kita berjumlah 360. Bilangan ini ternyata sesuai dengan hasil riset para ahli di bidang ini di mana mereka juga menyatakan bahwa jumlah persendian setiap orang itu berjumlah 360 buah. Subhanallah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang merupakan seorang yang tidak bisa membaca dan menulis mengetahui jumlah persendian dalam tubuh yang tidak tampak oleh kasat mata. Maka tidaklah yang demikian ini kecuali menunjukkan kepada kita akan kebenaran risalah yang dibawa oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. (Lihat Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah asy-Syaikh ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dan Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)

Dari sini pula kita mengetahui bahwa setiap hari kita harus bersedekah sebanyak 360 kali sesuai jumlah persendian kita. Suatu jumlah bilangan yang tidak sedikit dan memberatkan, terlebih jika yang diinginkan dari shadaqah di sini adalah shadaqah yang berupa harta benda. Maka tentunya banyak di antara kita yang merasa terbebani.

Namun ketahuilah, Islam ini agama yang mudah dan penuh rahmat/kasih sayang kepada para pemeluknya. Segala hal yang berkaitan dengan hamba dari berbagai bentuk amalan ibadah ternyata penuh dengan kemudahan. Demikian pula kewajiban shadaqah di sini, karena yang dimaksud tidak hanya shadaqah yang berupa harta, melainkan seluruh amalan shalih dan ma’ruf yang dilakukan oleh seorang hamba bisa terhitung dan dinilai sebagai sebuah shadaqah, alhamdulillah. Baginda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Seluruh perkara yang ma’ruf itu shadaqah.” (HR. al Bukhari no. 5675 dan Muslim no. 1005).

 

 Contoh Amalan yang Bernilai Shadaqah

Para pembaca rahimakumullah, dalam beberapa hadits disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam contoh-contoh amalan yang mengandung nilai shadaqah. di antaranya adalah kelanjutan dari hadits,

“Setiap ruas tulang/persendian manusia ada kewajiban shadaqahnya…” dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyatakan;

“Engkau mendamaikan dengan adil 2 orang yang berselisih itu shadaqah. Engkau membantu seseorang pada kendaraannya dengan membantunya agar bisa menaiki kendaraannya serta membantu mengangkat barang ke atas kendaraannya, itu shadaqah. Ucapan yang baik itu shadaqah. Setiap langkahmu (ke masjid) untuk mengerjakan shalat itu shadaqah, serta menghilangkan gangguan dari jalan juga termasuk shadaqah.”          

 

Dalam hadits di atas disebutkan beberapa amalan shalih yang bernilai shadaqah yaitu,

1. Mendamaikan dengan adil 2 orang yang berselisih itu shadaqah.

Di antara keutamaan lain amalan ini adalah sebagaimana yang Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sabdakan,

“Maukah kalian aku kabarkan suatu amalan yang lebih baik dari shalat, puasa, dan shadaqah (yakni shalat, puasa dan shadaqah yang sunnah)? Para shahabat menjawab, “Tentu wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “(Amalan itu adalah) mendamaikan orang-orang yang sedang berselisih. Karena membiarkan orang-orang yang sedang berselisih merupakan sebab hancurnya agama.” (HR. Abu Daud no. 4919 dan yang lainnya. Lihat ‘Aunul Ma’bud).

 

2. Membantu seseorang pada kendaraannya dengan membantunya agar bisa menaiki kendaraannya serta membantu mengangkat barang ke atas kendaraannya itu shadaqah.

Dalam hadits yang lain Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)

“Barangsiapa membantu saudaranya untuk memenuhi kebutuhannya maka Allah akan membantu dirinya memenuhi kebutuhan pribadinya.” (HR. Al Bukhari no. 2310 dan Muslim no. 2580).

 

3. Ucapan yang baik itu shadaqah.

Ucapan ini umum, baik yang berkaitan dengan hak Allah seperti ucapan tasbih, takbir, tahmid dan tahlil dan dzikir-dzikir yang lain, maupun yang berkaitan dengan hak manusia seperti adab, akhlak dan tutur kata yang mulia serta sopan santun. (Lihat Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah asy-Syaikh ibnu ‘Utsaimin)

 Lihatlah bagaimana Allah ‘Azza wa jalla memberikan balasan yang begitu besar kepada orang-orang yang menjaga ucapannya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah ucapan yang benar (baik), niscaya Allah memperbaiki bagi kalian amalan-amalan kalian dan mengampuni bagi kalian dosa-dosa kalian. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (al-Ahzab :70-71).

 

4. Setiap langkahmu (ke masjid) untuk mengerjakan shalat berjamaah itu shadaqah.

 Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyatakan dalam kesempatan yang lain,

 “Shalat seseorang secara berjamaah melebihi shalat di rumahnya atau di pasar (yakni shalat sendirian) sebanyak 20 sekian derajat (yakni 25 dan 27 derajat). Yang demikian itu adalah jika salah seorang di antara mereka berwudhu dengan baik lalu berangkat ke masjid dan tidak ada yang mendorongnya untuk pergi kecuali untuk shalat maka tidaklah dia melangkah satu langkah melainkan diangkat baginya satu derajat dan dihapuskan baginya satu kesalahan hingga masuk masjid. Jika dia masuk masjid maka dia terus dinilai sedang melaksanakan shalat selama dia menunggu shalat dan para malaikat bershalawat kepada salah seorang di antara kalian selama dia berada di tempat shalatnya seraya mereka berkata, “Ya Allah rahmatilah dia, ya Allah ampunilah dia, ya Allah terimalah taubatnya” selama dia tidak mengganggu yang lain dan selama belum batal wudhunya.” (HR. Muslim no. 649. Lihat Syarah an-Nawawi dan ‘Aunul Ma’bud).

 Sebuah kisah yang terjadi di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah dipaparkan oleh ‘Ubay bin Ka’ab. Beliau menuturkan, “Dahulu ada seseorang yang aku tidak tahu apakah ada yang lebih jauh rumahnya dari masjid daripada orang tersebut namun dia tidak pernah tertinggal shalat berjamaah. Maka suatu hari ada yang bertanya kepadanya, “Jikalau seandainya engkau membeli seekor himar (keledai) yang bisa engkau gunakan pada saat malam dan saat panas!?” Dia menjawab, “Tidaklah membuatku gembira seandainya rumahku berada di samping masjid. Sesungguhnya aku menginginkan agar Allah mencatat bagiku langkahku ke masjid dan pulangku ke keluargaku. Nabi kemudian berkata kepadanya, “Allah telah mengabulkan dan memberi apa yang engkau minta.” (HR. Muslim no. 663 dan Abu Daud no. 557).

 

5. Menghilangkan gangguan dari jalan juga termasuk shadaqah.

 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,“Iman itu 70 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah ucapanاللهالاالهلاdan yang paling rendah adalah menghilangkan gangguan dari jalan, malu itu termasuk cabang dari keimanan.” (HR. al-Bukhari no. 24 dan Muslim no. 35).

 Dalam hadits yang lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

 “Tatkala seseorang sedang berjalan di sebuah jalan, dia menemukan sebuah ranting berduri berada di tengah jalan tersebut. Lalu dia menyingkirkannya maka Allah berterima kasih kepadanya dengan mengampuninya.” (HR. al-Bukhari no. 624 dan Muslim no. 1914).

 Demikianlah beberapa contoh amalan shalih dan keutamaannya yang dapat diamalkan seseorang untuk bersedekah atas persendiannya. Sebagaimana penjelasan sebelumnya, bahwa tidak hanya amalan-amalan ini yang bisa berfungsi sebagai shadaqah, namun seluruh amalan yang ma’ruf jika diamalkan maka juga terhitung sebagai shadaqah.

 

 Shalat Dhuha 2 Raka’at     

 Para pembaca rahimakumullah, kita telah mengetahui bahwa setiap yang ma’ruf itu bernilai shadaqah yang mana hal ini menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama yang penuh dengan kemudahan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

 “Sesungguhnya agama Islam ini adalah mudah. Dan tidaklah seorangpun yang memberat-beratkan diri dalam agama ini kecuali dia sendiri yang akan terkalahkan olehnya.” (HR. Al-Bukhari no. 39)

 Maka di antara kemudahan lain yang Allah ‘Azza wa jalla berikan kepada kita terkait dengan kewajiban bersedekah atas persendian adalah apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kabarkan dalam sebuah haditsnya,

 “Seluruh persendian kalian ada kewajiban untuk bershadaqah setiap harinya. Setiap tasbih itu shadaqah. Setiap tahmid itu shadaqah. Setiap tahlil itu shadaqah. Setiap takbir itu shadaqah. Memerintahkan kepada yang ma’ruf itu shadaqah. Melarang dari yang mungkar itu shadaqah. Semuanya itu tercukupi dengan mengerjakan dua raka’at shalat dhuha.” (HR. Muslim no. 720).

 Ya, kewajiban bershadaqah bagi setiap persendian yang berjumlah 360 tersebut bisa kita tunaikan hanya dengan melaksanakan shalat dhuha dua raka’at. Sehingga sudah sepantasnya bagi kita untuk senantiasa menjaga shalat ini. Sebagai wujud syukur kita kepada Rabbul ‘alamin atas nikmat persendian.

 Adapun seseorang yang telah melaksanakan shalat dhuha lalu ditambah dengan amalan yang lain, maka dia telah menunaikan kewajiban shadaqahnya sementara amalan-amalan yang lain tersebut terhitung sebagai amalan tambahan baginya sehingga tentunya dia akan meraup banyak kebaikan dan pahala. (Lihat Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dan Shalih Fauzan hafidzahullah)

          Allahu a’lam bish shawab, semoga bermanfaat.

Penyusun: Al-Ustadz Abdullah Imam hafidzahullah

Sumber : buletin-alilmu.net


Posted in Hadits | No Comments »

Iman Kepada Malaikat

Posted by totoharyanto on 9th June 2014

Iman kepada Malaikat merupakan salah satu dari 6 (enam) rukum iman yang wajib diimani. Sebagaimana dalam hadits Jibril (Hadits ke-2) dalam buku Arba’in An Nawawi. Kita meyakini bahwa malaikat memiliki tugas masing-masing yang Alloh subhanahu wata’ala bebankan kepada meraka. Tentu saja seja malaikat tidak pernah bermaksiat kepada Alloh subhanahu wata’ala. Dalam surat At Tahrim ayat ke-6 ; Alloh subhanahu wata’ala berfirman :

66_6

 

 

 

 

 

Artinya :
 Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS At Tahrim : 6).

Barangkali ada yang pernah terlintas dalam benak kita, berapa jumlah malaikat. Yang pasti jumlah mereka sangatlah banyak. Salah satu ulama tafsir, Imam Ibnu Katsir mengatakan di dalam tafsirnya:


ثبت في الصحيحين أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال في حديث الإسراء بعد مجاوزته إلى السماء السابعة: «ثم رفع بي إلى البيت المعمور, وإذا هو يدخله كل يوم سبعون ألفاً لا يعودون إليه آخر ما عليهم» يعني يتعبدون فيه ويطوفون به كما يطوف أهل الأرض بكعبتهم, كذلك ذاك البيت المعمور هو كعبة أهل السماء السابعة, ولهذا وجد إبراهيم الخليل عليه الصلاة والسلام مسنداً ظهره إلى البيت المعمور, لأنه باني الكعبة الأرضية,

terdapat dalam Shahihain bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa saalm bersabda ketika peristiwa Isra’ pada saat melewati langit ke tujuh, ‘kemudian aku diangkat menuju baitul makmur, padanya masuk (datang) setiap hari 70.000 malaikat yang tidak akan kembali lagi’. Yaitu mereja beribadah dan berthawaf sebagaimana penduduk bumi thawaf di ka’bah mereka. Demikian juga baitul makmur ia adalah ka’bah penduduk langit ketujuh. Oleh karena itu, didapati Nabi Ibrahim Al-Khalil alihisshalatu wassalam menyandarkan badannya pada baitul makmur karena ia telah membangun ka’bah di bumi”1

 

Di dalam hadits Bukhari dan Muslim yang diriwayatkan dari Malik bin Sha’sha’ah ra tentang kisah Mi’raj Nabi saw bahwa Alloh subhanahu wata’alatelah memperlihatkan Baitul Makmur di langit kepada Nabi shollallahu alaihu wasallam. Tempat itu setiap hari didatangi oleh 70.000 Malaikat untuk mengerjakan shalat disana. Setiap kali mereka keluar dari tempat itu, mereka tidak kembali lagi. (HR Bukhari No. 3207,3887, Muslim No. 164 dan Ahmad No. IV/207-208 dari sahabat Malik bin Sha’sha’ah

 

Perhatikan bahwa setiap hari 70.000 malaikat masuk ke baitul makmur dan tidak kembali lagi. menunjukkan bahwa jumlah meraka sangat banyak. Tentu saja hanya Alloh subhanahu wata’ala yang mengetahui berpa jumlah mereka. Semoga dengan ini, keimanan kita terhadap malaikat Alloh subhanahu wata’ala makin bertambah.
 1. Tafsir Ibnu Katsir 7/427-428, Darut Thayyibah, cet. VIII, 1420 H, syamilah

 

 

 


Posted in Hadits | No Comments »