TOTO HARYANTO

Sedikit goresan menebar manfaat …..

Archive for the 'Islamic' Category

Mewaspadai Komunisme dan Bisikan Kaum Komunis

Posted by totoharyanto on 8th August 2017

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah mengatakan,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْخَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ وَلْيَنْتَهِ
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan akan mendatangi salah seorang di antara kalian dan berkata, ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ Hingga ia bertanya, ‘Siapa yang menciptakan Rabbmu?’
Apabila setan telah sampai pada pertanyaan ini, mohonlah perlindungan kepada Allah, dan berhentilah.”
 Takhrij Hadits
Hadits ini muttafaqun ’alaihi. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya (6/336), Bab “Shifatu Iblis wa Junudihi” (Sifat Iblis dan bala tentaranya) melalui jalan Yahya bin Bukair, dari al-Laits, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari Urwah bin Zubair, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.
Dengan lafadz ini pula al-Imam Muslim meriwayatkan dari Zuhair bin Harb dan ‘Abd bin Humaid; juga melalui jalan Ibnu Syihab, dari Urwah, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.
Al-Imam Muslim meriwayatkan pula dengan lafadz,
لَا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يُقَالَ: هَذَا خَلَقَ اللهُ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللهَ؟ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ:آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ
Senantiasa manusia saling bertanya, hingga dikatakan, “Allah-lah yang menciptakan semua makhluk. Siapa yang menciptakan Allah?” Barang siapa mendapatkan sesuatu dari pertanyaan ini, ucapkanlah, “Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya.”
Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ini diriwayatkan pula oleh Abu Dawud (no. 4732) dalam as-Sunan dan Ibnu Sunni (no. 621) dengan lafadz,
يُوْشِكُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُوْنَ بَيْنَهُمْ حَتىَّ يَقُوْلَ قَائِلُهُم: هَذَا اللهُ خَلَقَ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ؟ فَإِذَا قَالُوْاذَلِكَ فَقُوْلُوا: ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ٢  لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ٣  وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ ٤
ثُمَّ لْيَتْفُلْ أَحَدُكُمْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاَثًا وَلْيَسْتَعِذْ مِنَ الشَّيْطَانِ
Hampir-hampir manusia saling bertanya di antara mereka hingga ada yang berkata, “Ini Allah menciptakan mahluk, lalu siapakah yang menciptakan Allah?”
Katakanlah, “Allah Maha Esa, Allah adalah Dzat yang bergantung segala sesuatu pada-Nya. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”
Kemudian hendaklah dia mengusir (isyarat) meludah ke kiri tiga kali dan memohon perlindungan dari setan.
Hadits serupa diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dalam kitab “al-I’tisham” (13/264). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَنْ يَبْرَحَ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يَقُولُوا: هَذَا اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، فَمَنْ خَلَقَ اللهَ؟
Tidak henti-hentinya manusia saling bertanya, hingga mereka mengatakan, “Allah, Dialah pencipta segala sesuatu, lalu siapa yang menciptakan Allah?”
 Permusuhan Iblis dan Bala Tentaranya
Setan-setan dari kalangan manusia dan jin bahu-membahu berupaya menyimpangkan hamba dari jalan Allah. Orang-orang kafir dibisiki agar semakin kokoh dalam kekufuran dan penentangan.
Orang-orang beriman pun tidak lepas dari bisikan-bisikan setan untuk mengeluarkan mereka dari cahaya atau menjadikannya ragu terhadap kebenaran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ ١١٢ وَلِتَصۡغَىٰٓ إِلَيۡهِ أَفۡ‍ِٔدَةُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ وَلِيَرۡضَوۡهُ وَلِيَقۡتَرِفُواْ مَا هُم مُّقۡتَرِفُونَ ١١٣
“Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.
Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (setan) kerjakan.” (al-An’am: 112—113)
Dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَإِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰٓ أَوۡلِيَآئِهِمۡ لِيُجَٰدِلُوكُمۡۖ وَإِنۡ أَطَعۡتُمُوهُمۡ إِنَّكُمۡ لَمُشۡرِكُونَ ١٢١
“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantahmu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (al-An’am: 121)
Hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan beragam upaya setan untuk menyesatkan manusia. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,
خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللهِ يَوْمًا خَطًّا ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سَبِيلُ اللهِ. ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذِهِسُبُلٌ، عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ. ثُمَّ تَلاَ   وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ
Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggoreskan sebuah garis untuk kami lalu bersabda, “Ini adalah jalan Allah.”
Kemudian beliau membuat garis-garis di sebelah kanan dan kirinya dan bersabda, “Garis-garis ini adalah jalan-jalan,pada setiap jalan ada setan yang mengajak kepadanya.”
Kemudian beliau membacakan firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (al-An’am: 153) (HR. ad-Darimi dalam as-Sunan no. 208, cet. Darul Ma’rifah)
Di antara dalil yang menunjukkan bahwa setan terus membisikkan kebatilan adalah hadits Abu Hurairah yang ada di hadapan kita.
Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa setan akan melemparkan berbagai kerancuan kepada manusia melalui bisikan-bisikan setan dari kalangan jin atau melalui lisan-lisan manusia.
Dalam hadits ini, Rasulullah mengabarkan bahwa setan mendatangi manusia dan bertanya kepadanya, “Siapa yang menciptakan langit? Siapa yang menciptakan bumi? Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?”
Semua pertanyaan dijawab, “Allah yang menciptakannya.”
Kemudian setan menggiring manusia untuk bertanya, “Siapa yang menciptakan Allah?”
Apa yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salah satu contoh bisikan setan. Pertanyaan-pertanyaan serupa dan syubhat-syubhat batil terus bermunculan.
Manusia pun terbagi menjadi dua. Di antara mereka ada yang menghadapinya dengan keimanan sehingga ia selamat. Akan tetapi, banyak manusia larut dan terbawa arus kerancuan setan sehingga terjerumus dalam kebinasaan.
 
Komunisme, Buah Bisikan Setan
Berbagai kelompok sesat, seperti Khawarij, Rafidhah, Qadariyah, Jabriyah, Mu’tazilah, Murji’ah, demikian pula ideologi batil, semacam liberalisme, komunisme, semua itu sesungguhnya hasil syubhat-syubhat setan yang dia hembuskan.
Sungguh, berbagai syubhat dan pertanyaan kekufuran yang mengarah kepada ideologi batil, seperti komunisme dan ateisme, akan terus bermunculan, baik dari setan manusia maupun setan jin. Persis seperti yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan dalam hadits di atas.
Dalam al-Qur’an Allah juga menyebutkan beberapa ucapan orang-orang yang kufur, di antaranya,
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا وَنَسِيَ خَلۡقَهُۥۖ قَالَ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ ٧٨
Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” (Yasin: 78)
Apa yang Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam surat Yasin adalah contoh pertanyaan-pertanyaan aneh yang dibisikkan oleh setan untuk mengingkari hari kebangkitan; salah satu keyakinan kaum ateis yang sangat kental dengan paham komunisme.
Pertanyaan pengingkaran mereka, dijawab oleh Allah dengan firman-Nya,
قُلۡ يُحۡيِيهَا ٱلَّذِيٓ أَنشَأَهَآ أَوَّلَ مَرَّةٖۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلۡقٍ عَلِيمٌ ٧٩
Katakanlah, “Ia akan dihidupkan oleh Dzat yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” (Yasin: 79)
Telah ada dan akan terus ada manusia yang mengingkari hari kebangkitan. Seraya membawa tulang yang telah lapuk dan remuk, dengan nada pengingkaran, dia bertanya, “Siapa yang dapat menghidupkan tulang belulang yang sudah hancur seperti ini?”
Sungguh aneh pertanyaan ini! Tidakkah kalian sedikit menggunakan akal untuk bertanya tentang penciptaan diri kalian?
Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia dari tanah, lalu menciptakan kalian dari setetes air mani. Apakah Dzat yang telah menciptakan manusia tidak mampu membangkitkan kembali setelah kematiannya?
Tentu hal tersebut sangat mudah bagi Allah.
أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةٗ مِّن مَّنِيّٖ يُمۡنَىٰ ٣٧ ثُمَّ كَانَ عَلَقَةٗ فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ ٣٨ فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ٣٩  أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ ٤٠
“Bukankah dia dahulu berupa setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang: laki laki dan perempuan? Bukankah (Allah yang melakukan) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (al-Qiyamah: 37—40)
Pertanyaan bisikan setan ini,
  • Siapa yang menciptakan Allah?
  • Apa mungkin tulang yang telah menjadi debu akan dibangkitkan kembali?
apabila diikuti, tidak dihadapi dengan keimanan, bisa jadi membawa manusia kepada kesesatan.
Pertanyaan tersebut mengantarkan mereka menuju keyakinan antituhan, ateisme, komunisme, dan kesesatan lainnya.
 
Bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Menghadapi Bisikan Setan
Sebagai agama yang sempurna, Islam memberikan jalan keluar ketika bisikan setan datang. Dalam hadits yang mulia di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing umat agar menempuh tiga hal untuk menolak bisikan-bisikan setan dari kalangan jin atau manusia.
  1. Ta’awudz (memohon perlindungan) kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari setan.
Penyebab munculnya bisikan dan syubhat-syubhat batil adalah setan, maka dengan ta’awudz, Allah subhanahu wa ta’ala akan menjauhkan setan dari seorang hamba.
  1. Segera memutus bisikan.
Dengan menghentikan bisikan yang dihembuskan oleh setan jin dalam kalbu atau oleh lisan setan manusia, insya Allah akal berhenti melayani pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang menyesatkan. Sebab, Allah subhanahu wa ta’alamenjadikan akal manusia terbatas sehingga mustahil bisa menjangkau segala sesuatu.
Dua hal ini ditunjukkan oleh sabda beliau,
فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ وَلْيَنْتَهِ
“Jika setan telah sampai pada pertanyaan ini, mohonlah perlindungan kepada Allah, dan berhentilah.”
  1. Iman
Hal ketiga yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menolak bisikanbisikan setan adalah iman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ
Barang siapa mendapatkan sesuatu dari pertanyaan ini, ucapkanlah, “Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya.”
Ketika datang bisikan apapun dari setan, meniupkan kerancuan akidah, tangkal segera dengan keimanan. Sebagai contoh, ketika setan membisikkan bahwa manusia yang telah menjadi tanah, mustahil dibangkitkan. Segeralah hadapi dengan keimanan.
Katakanlah, “Saya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Saya beriman kepada al-Qur’an dan hadits. Saya beriman kepada kabar dari Allah dan Rasul-Nya bahwa manusia akan dihidupkan kembali oleh Allah untuk mempertanggungjawabkan amalannya.”
Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Hadits-hadits yang sahih ini menunjukkan bahwa orang yang digoda oleh setan dan bisikannya, “Siapakah yang menciptakan Allah?” harus menghindari perdebatan. Ia harus menjawabnya dengan mengatakan sebagaimana yang disebutkan oleh hadits-hadits tersebut. Dia katakan,
آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ، اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلًدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
‘Saya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Maha Esa. Allah tempat meminta. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.’
Setelah itu, hendaklah ia meludah ke kiri tiga kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, serta menepis keragu-raguan itu.
Saya berpendapat, orang yang melakukannya semata-mata karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta ikhlas, keraguan dan godaan itu akan hilang darinya. Setan pun menjauh darinya. Ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Sesungguhnya godaan itu akan hilang darinya.’
Pelajaran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini jelas lebih bermanfaat dan lebih dapat mengusir keraguan daripada terlibat dalam perdebatan logika yang sengit seputar persoalan ini.
Sesungguhnya perdebatan dalam pesoalan ini amatlah sedikit gunanya, bahkan boleh jadi tidak ada gunanya sama sekali. Namun sayang, kebanyakan manusia tidak menghiraukan pelajaran yang amat bagus ini.
Oleh karena itu, ingatlah wahai kaum muslimin, kenalilah sunnah Nabimu dan amalkanlah. Sesungguhnya dalam sunnah itu ada obat dan kemuliaan bagimu.” (ash-Shahihah)
 
Kekhawatiran Seorang Muslim Terhadap Bisikan Setan
Bisikan-bisikan setan dihembuskan kepada siapapun—termasuk orang yang beriman—kecuali yang diselamatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika mendapat bisikan tersebut, orang yang beriman akan merasa berat dan berusaha menolaknya.
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,
جَاءَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلُوهُ: إِنَّا نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَبِهِ. قَالَ: وَقَدْ وَجَدْتُمُوهُ؟ قَالُوا: نَعَمْ. قَالَ: ذَلِكَ صَرِيحُ الْإِيمَانِ
Beberapa sahabat Rasul datang dan bertanya kepada beliau, “Sungguh, kami mendapatkan dalam diri kami (bisikan setan –pen.) yang kami merasa berat untuk mengucapkannya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian telah mendapatkan bisikan tersebut?”
Para sahabat menjawab, “Ya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Itulah tanda keimanan yang jelas.” ( HR. Muslim)
Dalam syarah hadits ini, an-Nawawi rahimahullah berkata, “Rasa berat hati kalian untuk mengucapkan bisikan tersebut menunjukkan keimanan kalian yang jelas. Sebab, perasaan berat dan rasa takut mengucapkannya, apalagi meyakini (bisikan setan tersebut), tidaklah muncul kecuali pada orang yang menyempurnakan imannya dan selamat dari kerancuan serta keraguan.”
 
Komunisme, Jalan Setan
Komunisme dan seluruh jenis kesesatan pasti akan runtuh di hadapan al-Kitab dan as-Sunnah. Kebatilan tidak akan mampu tegak di hadapan al-haq. Akan tetapi, pergulatan dan peperangan antara al-haq dan batil tidak akan berakhir hingga dunia berakhir.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, komunisme adalah paham atau ideologi (dalam bidang politik) yang menganut ajaran Karl Marx dan Fredrich Engels, yang hendak menghapuskan hak milik perseorangan dan menggantikannya dengan hak milik bersama yang dikontrol oleh negara.
Dalam masalah kepemilikan, paham komunis menekankan kepemilikan bersama atas alat-alat produksi, seperti tanah, tenaga kerja, dan modal. Menurut paham ini, masyarakat semua sama, tidak ada kelas dan strata. Semua orang sama, segala sesuatu adalah milik bersama. Komunisme tidak mengakui kepemilikan individu.
Dalam masalah kepemilikan ini saja, paham komunis sangat bertentangan dengan akal, fitrah, dan syariat Allah subhanahu wa ta’ala—syariat yang menjamin terwujudnya keadilan dan kemakmuran.
Islam mengakui kepemilikan pribadi. Manusia boleh memiliki tanah, alatalat produksi, pabrik, mesin produksi, perkebunan, peternakan, dan semisalnya. Meski demikian, Islam mengatur agar manusia menggunakan hartanya dalam hal yang bermanfaat dan tidak menimbulkan madarat.
Di sisi lain, Islam mewajibkan umatnya untuk mengeluarkan sebagian kecil dari hartanya, dalam bentuk zakat. Zakat ialah hak fakir miskin. Inilah sepintas konsep kepemilikan dalam Islam, sangat bertolak belakang dengan konsep kepemilikan menurut paham komunisme.
Dalam kehidupan beragama, orang-orang komunis tidak memedulikan
agama. Vladimir Lenin dalam tulisannya  “Sosialisme dan Agama” mengatakan bahwa agama harus dinyatakan sebagai urusan pribadi. Lenin juga menginginkan agar penyebutan agama seseorang dalam dokumen dibatasi.
Menurut ideologi komunisme, agama dianggap berdampak negatif bagi perkembangan manusia. Karena itu, negara-negara sosialis yang menerapkan Marxisme-Leninisme bersikap atheistik dan antiagama. Inilah yang tampak di negara-negara sosialis komunis, seperti Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok.
Dalam hal agama, mayoritas kaum komunis adalah ateis, seperti kaum Dahriyun yang Allah sebutkan dalam al-Qur’an. Mereka menganggap bahwa hidup dan mati terjadi karena perputaran masa semata. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَقَالُواْ مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهۡرُۚ وَمَا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍۖ إِنۡ هُمۡ إِلَّا يَظُنُّونَ ٢٤
Mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa,” dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (al-Jatsiyah: 24 )
Mereka tidak memercayai adanya kebangkitan setelah kematian, tidak pula meyakini hari kiamat.
وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنَا بَيِّنَٰتٖ مَّا كَانَ حُجَّتَهُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتُواْ بِ‍َٔابَآئِنَآ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٢٥ قُلِ ٱللَّهُ يُحۡيِيكُمۡ ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ثُمَّ يَجۡمَعُكُمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ لَا رَيۡبَ فِيهِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ٢٦
Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan mereka selain dari mengatakan, “Datangkanlah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar.”
Katakanlah, “Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (al-Jatsiyah: 25—26)
 
Mewaspadai Komunisme di Indonesia
Di bumi Indonesia, catatan sejarah masih tersimpan rapi bagaimana kaum komunis berupaya menancapkan kukunya di negeri ini.
Mereka berupaya masuk ke seluruh lini kehidupan dan berupaya menjadikan bumi nyiur melambai sebagai negeri komunis, seperti Uni Soviet kala itu. Berbagai upaya mereka lakukan; kekerasan, kudeta, dan pembantaian manusia, terjadi di negeri ini. Tidak berbeda dengan kekejaman tokoh-tokoh komunisme dunia, semacam Vladimir Lenin, Joseph Stalin, Mao Zedong, dan lainnya.
Alam demokrasi Indonesia ternyata cukup sejuk dan subur bagi berbagai kesesatan—termasuk komunisme—untuk terus hidup dan berkembang. Seruanseruan kepada ideologi komunis, terbit dan menyebarnya buku serta tulisan berideologi komunis, bahkan film-film yang sangat kental berpaham komunis juga diproduksi dan dipertontonkan.
Semua ini adalah indikasi tentang gerakan dan perkembangan paham komunisme di Indonesia.
Kondisi ini menuntut kaum muslimin, terlebih Ahlus Sunnah wal Jamaah, segera berupaya membendungnya. Semoga Allah menyelamatkan negeri ini dari segala kejelekan. Amin.
Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.
Sumber : http://asysyariah.com/mewaspadai-komunisme-dan-bisikan-kaum-komunis/

Posted in Islamic | No Comments »

Murothal Syaikh Abdurrahman Al Ausy

Posted by totoharyanto on 8th June 2017

Berikut ini adalah Murothal Syaikh Abdurrahman Al Ausy .
Selamat men-download
1.19 MB
108.8 MB
65.5 MB
72.28 MB
55.65 MB
57.66 MB
66.2 MB
25.02 MB
46.85 MB
33.18 MB
36.71 MB
37.5 MB
18.34 MB
17.2 MB
14.34 MB
37.58 MB
29.01 MB
26.05 MB
18.09 MB
23.7 MB
26.09 MB
23.16 MB
20.07 MB
27.32 MB
16.7 MB
28.89 MB
23.69 MB
27.23 MB
20.57 MB
18.06 MB
10.61 MB
7.78 MB
24.04 MB
17.48 MB
15.46 MB
14.91 MB
18.62 MB
14.8 MB
22.71 MB
23.53 MB
16.92 MB
16.07 MB
18.55 MB
7.85 MB
9.19 MB
10.94 MB
9.03 MB
9.06 MB
7.39 MB
7.43 MB
7.59 MB
6.77 MB
6.8 MB
7.36 MB
9.04 MB
9.1 MB
10.7 MB
8.88 MB
8.15 MB
6.39 MB
3.91 MB
3.03 MB
3.49 MB
4.19 MB
5.33 MB
4.9 MB
5.61 MB
5.89 MB
5.38 MB
4.5 MB
4.09 MB
5.13 MB
3.72 MB
5.42 MB
3.36 MB
4.92 MB
4.16 MB
3.72 MB
3.62 MB
3.08 MB
2.16 MB
1.77 MB
3.72 MB
2.17 MB
2.19 MB
1.34 MB
1.53 MB
1.92 MB
2.87 MB
1.67 MB
1.26 MB
1.58 MB
962.35 KB
632.55 KB
887.66 KB
1.42 MB
692.55 KB
1.79 MB
887.66 KB
962.35 KB
947.66 KB
752.55 KB
422.35 KB
812.55 KB
617.45 KB
542.35 KB
707.66 KB
377.45 KB
722.35 KB
512.55 KB
587.66 KB
362.35 KB
527.66 KB
602.35 KB

Sumber: https://islamdownload.net/125790-murottal-quran-30-juz-abdurrahman-al-ausy.html

 


Posted in Islamic | 2 Comments »

Kenikmatan Penduduk Syurga yang Paling Bawah

Posted by totoharyanto on 22nd February 2016

👍💐 KENIKMATAN PENDUDUK SURGA PALING BAWAH

 

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

 

🌈 Penghuni Surga yang Paling Rendah Tingkatannya adalah Yang Memiliki Kekuasaan Seluruh Dunia Sejak Allah Ciptakan hingga Allah Hancurkan (Saat Kiamat) Ditambah 10 Kali Lipat.

 

🔖 Sebagaimana disebutkan dalam Hadits tentang Seseorang yang Paling Akhir Dikeluarkan dari Neraka menuju Surga:

 

فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا

 

🍃 Sesungguhnya Bagimu Kekuasaan seperti di Dunia dan Sepuluh Kali Lipatnya. (H.R Al-Bukhari no 6086 dan Muslim no 272).

 

أَلَنْ تَرْضَى إِنْ أَعْطَيْتُكَ مِثْلَ الدُّنْيَا مُذْ يَوْمِ خَلَقْتُهَا إِلَى يَوْمِ أَفْنَيْتُهَا وَعَشَرَةَ أَضْعَافِهَا

 

🍃 (Allah menyatakan) : Tidakkah Engkau Ridha jika Aku Berikan Kepadamu Semisal Dunia sejak Aku Ciptakan hingga Hari Aku Hancurkan dan (Ditambah) 10 Kali Lipatnya. (H.R Ibnu Abid Dunya, AtThobarony, Dishahihkan oleh Al-Hakim dan Al-Albany dalam Shahih atTarghib no 3591).

 

🌠 Sebagian Riwayat Menyatakan bahwa Penghuni Surga Paling Bawah tersebut Disuruh oleh Allah untuk Berharap dan Berangan-angan Apa Saja yang ia inginkan, hingga Saat Telah Habis Apa yang Dia Angankan, kemudian Allah Menyatakan Kepadanya : Untukmu 10 Kali Lipat dari itu.

 

☝️ Kemudian Dia Mengatakan : Tidak Ada Seorangpun yang Mendapatkan Kenikmatan seperti Aku. Padahal ia adalah Orang yang Terakhir Masuk Surga dan Berada di Level Paling Bawah.

 

✅ Penduduk Surga Tingkatan Paling Bawah adalah Seseorang yang Memiliki 1000 Pelayan.

 

🎁 Tiap Pelayan Memiliki Tugas yang Berbeda-beda dalam Melayaninya. Sahabat Nabi Abdullah bin Amr Radhyiallahu Anhu Menyatakan :

 

إِنَّ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً مَنْ يَسْعَى عَلَيْهِ أَلْفُ خَادِمٍ كُلُّ خَادِمٍ عَلَى عَمَلٍ لَيْسَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ

 

🍃 Sesungguhnya Penduduk Surga yang Paling Bawah adalah Seseorang yang 1000 Pelayan Bergegas (Melayaninya). Setiap Pelayan Memiliki Tugas yang Berbeda dengan yang Lain. (H.R Al-Baihaqy dan Dishahihkan Syaikh Al-Albany dalam Shahih AtTarghib).

 

🌀 Dalam sebagian Riwayat dijelaskan Bahwa Ketika Penghuni Surga Paling Bawah itu akan Masuk ke istananya, ia Melihat Sosok yang Sangat indah dan Mengira itu adalah Malaikat, Padahal itu adalah Salah satu dari 1000 Pelayannya. Kemudian dia Masuk ke Dalam istananya yang Berupa Permata Hijau Kemerah-merahan Setinggi 70 Hasta (Sekitar 32 Meter) dan Memiliki 60 Pintu, yang Setiap Pintu Menghantarkan pada Ruangan berupa Permata yang lain, yang Bentuknya Berbeda Satu Sama Lain. Tiap Ruangan Permata itu Memiliki Ranjang dan Bidadari. (Shahih atTarghib no 3591).

 

🔰 Akan Ada 2 Bidadari yang Menyambutnya dan Berkata :

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَاكَ لَنَا، وَأَحْيَانَا لَكَ

 

🍃 Segala Puji Bagi Allah yang Telah Menghidupkanmu Untuk Kami dan Menghidupkan Kami Untukmu (H.R Muslim no 311).

 

🎯 Orang itu Bisa Melihat Area Kekuasaannya Sejauh Perjalanan 100 Tahun (Hadits Ibnu Mas’ud Dishahihkan oleh Al-Hakim dan Disepakati oleh Adz-Dzahaby).

 

🍇 Itu adalah Kenikmatan yang Dirasakan oleh Penghuni Surga Terbawah yang Masuk Surga Paling Akhir dan Dia Sempat Merasakan AnNaar (Neraka).

 

💎💍 Bagaimana dengan Penduduk Surga yang di Atasnya?

 

☝️ Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala Memasukkan Kita ke Dalam SurgaNya yang Penuh dengan Kenikmatan.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~

 

📒 Dikutip dari Buku “Akidah Imam Al-Muzani (Murid Imam Asy-Syafii)”

 

▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah.

 

=====================

✍ http://telegrame/alistiqomah


Posted in Hadits | No Comments »

Renungan Jum’at : Kewajiban Persendian Kita

Posted by totoharyanto on 19th September 2014

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

كُلُّ سُلاَمَى عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ…

“Setiap persendian manusia ada kewajiban bershadaqah setiap harinya…”

(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Para pembaca rahimakumullah, Maha suci dan Maha Besar Allah ‘Azza wa jalla yang telah menciptakan makhluk-makhluk-Nya dengan struktur yang penuh kesempurnaan.Termasuk di dalamnya manusia.Allah ‘Azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (at-Tiin: 4).
 

Di antara nikmat terbesar yang manusia dapatkan adalah keteraturan struktur dan bentuk tubuh. Lihatlah bagaimana Allah ‘Azza wa jalla menciptakan tubuh tersebut yang terbentuk dari susunan tulang belulang dan persendian dengan rapi dan teratur, yang tidak ada satu makhluk pun yang mampu menyamai ciptaanNya yang satu ini. Bermula dari saripati tanah lalu berubah menjadi makhluk yang mengagumkan. Lihatlah firmanNya,“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (al-Mukminun: 12-14).

Ketahuilah, tidaklah Allah ‘Azza wa jalla menyebutkan berbagai nikmat tersebut, terkhusus nikmat yang ada pada tubuh kita, melainkan untuk mengingatkan kembali akan kewajiban kita untuk mensyukuri itu semua. Bahwa tidak ada satupun di antara kita yang tidak diberi nikmat dan lepas dari pengasuhan al-Razzaq, maka bersyukurlah!!.

Di sisi lain sebagai bahan renungan agar kita mengakui akan kebesaran dan keagungan sang Pencipta, Allah ‘Azza wa jalla. Sebagaimana firmanNya, “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (adz-Dzariyat: 21)

Para pembaca rahimakumullah. Demikian pula persendian kita, ternyata butuh pula untuk kita mensyukurinya setiap hari. Bagaimana caranya? Perhatikanlah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berikut, “Setiap ruas tulang/persendian manusia ada kewajiban bershadaqah setiap hari…” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Kewajiban ini yang merupakan bentuk syukur kita kepada Allah ‘Azza wa jalla atas nikmat persendian adalah dengan bersedekah untuknya. (Lihat syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah asy-Syaikh ibnu ‘Utsaimin rahimahullah)

Dalam hadits yang lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap insan itu diciptakan memiliki 360 persendian.” (HR. Muslim no. 1007).

Dari sini kita mengetahui bahwa persendian kita berjumlah 360. Bilangan ini ternyata sesuai dengan hasil riset para ahli di bidang ini di mana mereka juga menyatakan bahwa jumlah persendian setiap orang itu berjumlah 360 buah. Subhanallah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang merupakan seorang yang tidak bisa membaca dan menulis mengetahui jumlah persendian dalam tubuh yang tidak tampak oleh kasat mata. Maka tidaklah yang demikian ini kecuali menunjukkan kepada kita akan kebenaran risalah yang dibawa oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. (Lihat Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah asy-Syaikh ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dan Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)

Dari sini pula kita mengetahui bahwa setiap hari kita harus bersedekah sebanyak 360 kali sesuai jumlah persendian kita. Suatu jumlah bilangan yang tidak sedikit dan memberatkan, terlebih jika yang diinginkan dari shadaqah di sini adalah shadaqah yang berupa harta benda. Maka tentunya banyak di antara kita yang merasa terbebani.

Namun ketahuilah, Islam ini agama yang mudah dan penuh rahmat/kasih sayang kepada para pemeluknya. Segala hal yang berkaitan dengan hamba dari berbagai bentuk amalan ibadah ternyata penuh dengan kemudahan. Demikian pula kewajiban shadaqah di sini, karena yang dimaksud tidak hanya shadaqah yang berupa harta, melainkan seluruh amalan shalih dan ma’ruf yang dilakukan oleh seorang hamba bisa terhitung dan dinilai sebagai sebuah shadaqah, alhamdulillah. Baginda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Seluruh perkara yang ma’ruf itu shadaqah.” (HR. al Bukhari no. 5675 dan Muslim no. 1005).

 

 Contoh Amalan yang Bernilai Shadaqah

Para pembaca rahimakumullah, dalam beberapa hadits disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam contoh-contoh amalan yang mengandung nilai shadaqah. di antaranya adalah kelanjutan dari hadits,

“Setiap ruas tulang/persendian manusia ada kewajiban shadaqahnya…” dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyatakan;

“Engkau mendamaikan dengan adil 2 orang yang berselisih itu shadaqah. Engkau membantu seseorang pada kendaraannya dengan membantunya agar bisa menaiki kendaraannya serta membantu mengangkat barang ke atas kendaraannya, itu shadaqah. Ucapan yang baik itu shadaqah. Setiap langkahmu (ke masjid) untuk mengerjakan shalat itu shadaqah, serta menghilangkan gangguan dari jalan juga termasuk shadaqah.”          

 

Dalam hadits di atas disebutkan beberapa amalan shalih yang bernilai shadaqah yaitu,

1. Mendamaikan dengan adil 2 orang yang berselisih itu shadaqah.

Di antara keutamaan lain amalan ini adalah sebagaimana yang Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sabdakan,

“Maukah kalian aku kabarkan suatu amalan yang lebih baik dari shalat, puasa, dan shadaqah (yakni shalat, puasa dan shadaqah yang sunnah)? Para shahabat menjawab, “Tentu wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “(Amalan itu adalah) mendamaikan orang-orang yang sedang berselisih. Karena membiarkan orang-orang yang sedang berselisih merupakan sebab hancurnya agama.” (HR. Abu Daud no. 4919 dan yang lainnya. Lihat ‘Aunul Ma’bud).

 

2. Membantu seseorang pada kendaraannya dengan membantunya agar bisa menaiki kendaraannya serta membantu mengangkat barang ke atas kendaraannya itu shadaqah.

Dalam hadits yang lain Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)

“Barangsiapa membantu saudaranya untuk memenuhi kebutuhannya maka Allah akan membantu dirinya memenuhi kebutuhan pribadinya.” (HR. Al Bukhari no. 2310 dan Muslim no. 2580).

 

3. Ucapan yang baik itu shadaqah.

Ucapan ini umum, baik yang berkaitan dengan hak Allah seperti ucapan tasbih, takbir, tahmid dan tahlil dan dzikir-dzikir yang lain, maupun yang berkaitan dengan hak manusia seperti adab, akhlak dan tutur kata yang mulia serta sopan santun. (Lihat Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah asy-Syaikh ibnu ‘Utsaimin)

 Lihatlah bagaimana Allah ‘Azza wa jalla memberikan balasan yang begitu besar kepada orang-orang yang menjaga ucapannya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah ucapan yang benar (baik), niscaya Allah memperbaiki bagi kalian amalan-amalan kalian dan mengampuni bagi kalian dosa-dosa kalian. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (al-Ahzab :70-71).

 

4. Setiap langkahmu (ke masjid) untuk mengerjakan shalat berjamaah itu shadaqah.

 Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyatakan dalam kesempatan yang lain,

 “Shalat seseorang secara berjamaah melebihi shalat di rumahnya atau di pasar (yakni shalat sendirian) sebanyak 20 sekian derajat (yakni 25 dan 27 derajat). Yang demikian itu adalah jika salah seorang di antara mereka berwudhu dengan baik lalu berangkat ke masjid dan tidak ada yang mendorongnya untuk pergi kecuali untuk shalat maka tidaklah dia melangkah satu langkah melainkan diangkat baginya satu derajat dan dihapuskan baginya satu kesalahan hingga masuk masjid. Jika dia masuk masjid maka dia terus dinilai sedang melaksanakan shalat selama dia menunggu shalat dan para malaikat bershalawat kepada salah seorang di antara kalian selama dia berada di tempat shalatnya seraya mereka berkata, “Ya Allah rahmatilah dia, ya Allah ampunilah dia, ya Allah terimalah taubatnya” selama dia tidak mengganggu yang lain dan selama belum batal wudhunya.” (HR. Muslim no. 649. Lihat Syarah an-Nawawi dan ‘Aunul Ma’bud).

 Sebuah kisah yang terjadi di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah dipaparkan oleh ‘Ubay bin Ka’ab. Beliau menuturkan, “Dahulu ada seseorang yang aku tidak tahu apakah ada yang lebih jauh rumahnya dari masjid daripada orang tersebut namun dia tidak pernah tertinggal shalat berjamaah. Maka suatu hari ada yang bertanya kepadanya, “Jikalau seandainya engkau membeli seekor himar (keledai) yang bisa engkau gunakan pada saat malam dan saat panas!?” Dia menjawab, “Tidaklah membuatku gembira seandainya rumahku berada di samping masjid. Sesungguhnya aku menginginkan agar Allah mencatat bagiku langkahku ke masjid dan pulangku ke keluargaku. Nabi kemudian berkata kepadanya, “Allah telah mengabulkan dan memberi apa yang engkau minta.” (HR. Muslim no. 663 dan Abu Daud no. 557).

 

5. Menghilangkan gangguan dari jalan juga termasuk shadaqah.

 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,“Iman itu 70 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah ucapanاللهالاالهلاdan yang paling rendah adalah menghilangkan gangguan dari jalan, malu itu termasuk cabang dari keimanan.” (HR. al-Bukhari no. 24 dan Muslim no. 35).

 Dalam hadits yang lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

 “Tatkala seseorang sedang berjalan di sebuah jalan, dia menemukan sebuah ranting berduri berada di tengah jalan tersebut. Lalu dia menyingkirkannya maka Allah berterima kasih kepadanya dengan mengampuninya.” (HR. al-Bukhari no. 624 dan Muslim no. 1914).

 Demikianlah beberapa contoh amalan shalih dan keutamaannya yang dapat diamalkan seseorang untuk bersedekah atas persendiannya. Sebagaimana penjelasan sebelumnya, bahwa tidak hanya amalan-amalan ini yang bisa berfungsi sebagai shadaqah, namun seluruh amalan yang ma’ruf jika diamalkan maka juga terhitung sebagai shadaqah.

 

 Shalat Dhuha 2 Raka’at     

 Para pembaca rahimakumullah, kita telah mengetahui bahwa setiap yang ma’ruf itu bernilai shadaqah yang mana hal ini menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama yang penuh dengan kemudahan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

 “Sesungguhnya agama Islam ini adalah mudah. Dan tidaklah seorangpun yang memberat-beratkan diri dalam agama ini kecuali dia sendiri yang akan terkalahkan olehnya.” (HR. Al-Bukhari no. 39)

 Maka di antara kemudahan lain yang Allah ‘Azza wa jalla berikan kepada kita terkait dengan kewajiban bersedekah atas persendian adalah apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kabarkan dalam sebuah haditsnya,

 “Seluruh persendian kalian ada kewajiban untuk bershadaqah setiap harinya. Setiap tasbih itu shadaqah. Setiap tahmid itu shadaqah. Setiap tahlil itu shadaqah. Setiap takbir itu shadaqah. Memerintahkan kepada yang ma’ruf itu shadaqah. Melarang dari yang mungkar itu shadaqah. Semuanya itu tercukupi dengan mengerjakan dua raka’at shalat dhuha.” (HR. Muslim no. 720).

 Ya, kewajiban bershadaqah bagi setiap persendian yang berjumlah 360 tersebut bisa kita tunaikan hanya dengan melaksanakan shalat dhuha dua raka’at. Sehingga sudah sepantasnya bagi kita untuk senantiasa menjaga shalat ini. Sebagai wujud syukur kita kepada Rabbul ‘alamin atas nikmat persendian.

 Adapun seseorang yang telah melaksanakan shalat dhuha lalu ditambah dengan amalan yang lain, maka dia telah menunaikan kewajiban shadaqahnya sementara amalan-amalan yang lain tersebut terhitung sebagai amalan tambahan baginya sehingga tentunya dia akan meraup banyak kebaikan dan pahala. (Lihat Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dan Shalih Fauzan hafidzahullah)

          Allahu a’lam bish shawab, semoga bermanfaat.

Penyusun: Al-Ustadz Abdullah Imam hafidzahullah

Sumber : buletin-alilmu.net


Posted in Hadits | No Comments »