TOTO HARYANTO

Sedikit goresan menebar manfaat …..

Archive for the 'Islamic' Category

Renungan Jum’at : Kewajiban Persendian Kita

Posted by totoharyanto on 19th September 2014

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

كُلُّ سُلاَمَى عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ…

“Setiap persendian manusia ada kewajiban bershadaqah setiap harinya…”

(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Para pembaca rahimakumullah, Maha suci dan Maha Besar Allah ‘Azza wa jalla yang telah menciptakan makhluk-makhluk-Nya dengan struktur yang penuh kesempurnaan.Termasuk di dalamnya manusia.Allah ‘Azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (at-Tiin: 4).
 

Di antara nikmat terbesar yang manusia dapatkan adalah keteraturan struktur dan bentuk tubuh. Lihatlah bagaimana Allah ‘Azza wa jalla menciptakan tubuh tersebut yang terbentuk dari susunan tulang belulang dan persendian dengan rapi dan teratur, yang tidak ada satu makhluk pun yang mampu menyamai ciptaanNya yang satu ini. Bermula dari saripati tanah lalu berubah menjadi makhluk yang mengagumkan. Lihatlah firmanNya,“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (al-Mukminun: 12-14).

Ketahuilah, tidaklah Allah ‘Azza wa jalla menyebutkan berbagai nikmat tersebut, terkhusus nikmat yang ada pada tubuh kita, melainkan untuk mengingatkan kembali akan kewajiban kita untuk mensyukuri itu semua. Bahwa tidak ada satupun di antara kita yang tidak diberi nikmat dan lepas dari pengasuhan al-Razzaq, maka bersyukurlah!!.

Di sisi lain sebagai bahan renungan agar kita mengakui akan kebesaran dan keagungan sang Pencipta, Allah ‘Azza wa jalla. Sebagaimana firmanNya, “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (adz-Dzariyat: 21)

Para pembaca rahimakumullah. Demikian pula persendian kita, ternyata butuh pula untuk kita mensyukurinya setiap hari. Bagaimana caranya? Perhatikanlah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berikut, “Setiap ruas tulang/persendian manusia ada kewajiban bershadaqah setiap hari…” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Kewajiban ini yang merupakan bentuk syukur kita kepada Allah ‘Azza wa jalla atas nikmat persendian adalah dengan bersedekah untuknya. (Lihat syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah asy-Syaikh ibnu ‘Utsaimin rahimahullah)

Dalam hadits yang lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap insan itu diciptakan memiliki 360 persendian.” (HR. Muslim no. 1007).

Dari sini kita mengetahui bahwa persendian kita berjumlah 360. Bilangan ini ternyata sesuai dengan hasil riset para ahli di bidang ini di mana mereka juga menyatakan bahwa jumlah persendian setiap orang itu berjumlah 360 buah. Subhanallah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang merupakan seorang yang tidak bisa membaca dan menulis mengetahui jumlah persendian dalam tubuh yang tidak tampak oleh kasat mata. Maka tidaklah yang demikian ini kecuali menunjukkan kepada kita akan kebenaran risalah yang dibawa oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. (Lihat Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah asy-Syaikh ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dan Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)

Dari sini pula kita mengetahui bahwa setiap hari kita harus bersedekah sebanyak 360 kali sesuai jumlah persendian kita. Suatu jumlah bilangan yang tidak sedikit dan memberatkan, terlebih jika yang diinginkan dari shadaqah di sini adalah shadaqah yang berupa harta benda. Maka tentunya banyak di antara kita yang merasa terbebani.

Namun ketahuilah, Islam ini agama yang mudah dan penuh rahmat/kasih sayang kepada para pemeluknya. Segala hal yang berkaitan dengan hamba dari berbagai bentuk amalan ibadah ternyata penuh dengan kemudahan. Demikian pula kewajiban shadaqah di sini, karena yang dimaksud tidak hanya shadaqah yang berupa harta, melainkan seluruh amalan shalih dan ma’ruf yang dilakukan oleh seorang hamba bisa terhitung dan dinilai sebagai sebuah shadaqah, alhamdulillah. Baginda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Seluruh perkara yang ma’ruf itu shadaqah.” (HR. al Bukhari no. 5675 dan Muslim no. 1005).

 

 Contoh Amalan yang Bernilai Shadaqah

Para pembaca rahimakumullah, dalam beberapa hadits disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam contoh-contoh amalan yang mengandung nilai shadaqah. di antaranya adalah kelanjutan dari hadits,

“Setiap ruas tulang/persendian manusia ada kewajiban shadaqahnya…” dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyatakan;

“Engkau mendamaikan dengan adil 2 orang yang berselisih itu shadaqah. Engkau membantu seseorang pada kendaraannya dengan membantunya agar bisa menaiki kendaraannya serta membantu mengangkat barang ke atas kendaraannya, itu shadaqah. Ucapan yang baik itu shadaqah. Setiap langkahmu (ke masjid) untuk mengerjakan shalat itu shadaqah, serta menghilangkan gangguan dari jalan juga termasuk shadaqah.”          

 

Dalam hadits di atas disebutkan beberapa amalan shalih yang bernilai shadaqah yaitu,

1. Mendamaikan dengan adil 2 orang yang berselisih itu shadaqah.

Di antara keutamaan lain amalan ini adalah sebagaimana yang Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sabdakan,

“Maukah kalian aku kabarkan suatu amalan yang lebih baik dari shalat, puasa, dan shadaqah (yakni shalat, puasa dan shadaqah yang sunnah)? Para shahabat menjawab, “Tentu wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “(Amalan itu adalah) mendamaikan orang-orang yang sedang berselisih. Karena membiarkan orang-orang yang sedang berselisih merupakan sebab hancurnya agama.” (HR. Abu Daud no. 4919 dan yang lainnya. Lihat ‘Aunul Ma’bud).

 

2. Membantu seseorang pada kendaraannya dengan membantunya agar bisa menaiki kendaraannya serta membantu mengangkat barang ke atas kendaraannya itu shadaqah.

Dalam hadits yang lain Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)

“Barangsiapa membantu saudaranya untuk memenuhi kebutuhannya maka Allah akan membantu dirinya memenuhi kebutuhan pribadinya.” (HR. Al Bukhari no. 2310 dan Muslim no. 2580).

 

3. Ucapan yang baik itu shadaqah.

Ucapan ini umum, baik yang berkaitan dengan hak Allah seperti ucapan tasbih, takbir, tahmid dan tahlil dan dzikir-dzikir yang lain, maupun yang berkaitan dengan hak manusia seperti adab, akhlak dan tutur kata yang mulia serta sopan santun. (Lihat Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah asy-Syaikh ibnu ‘Utsaimin)

 Lihatlah bagaimana Allah ‘Azza wa jalla memberikan balasan yang begitu besar kepada orang-orang yang menjaga ucapannya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah ucapan yang benar (baik), niscaya Allah memperbaiki bagi kalian amalan-amalan kalian dan mengampuni bagi kalian dosa-dosa kalian. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (al-Ahzab :70-71).

 

4. Setiap langkahmu (ke masjid) untuk mengerjakan shalat berjamaah itu shadaqah.

 Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyatakan dalam kesempatan yang lain,

 “Shalat seseorang secara berjamaah melebihi shalat di rumahnya atau di pasar (yakni shalat sendirian) sebanyak 20 sekian derajat (yakni 25 dan 27 derajat). Yang demikian itu adalah jika salah seorang di antara mereka berwudhu dengan baik lalu berangkat ke masjid dan tidak ada yang mendorongnya untuk pergi kecuali untuk shalat maka tidaklah dia melangkah satu langkah melainkan diangkat baginya satu derajat dan dihapuskan baginya satu kesalahan hingga masuk masjid. Jika dia masuk masjid maka dia terus dinilai sedang melaksanakan shalat selama dia menunggu shalat dan para malaikat bershalawat kepada salah seorang di antara kalian selama dia berada di tempat shalatnya seraya mereka berkata, “Ya Allah rahmatilah dia, ya Allah ampunilah dia, ya Allah terimalah taubatnya” selama dia tidak mengganggu yang lain dan selama belum batal wudhunya.” (HR. Muslim no. 649. Lihat Syarah an-Nawawi dan ‘Aunul Ma’bud).

 Sebuah kisah yang terjadi di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah dipaparkan oleh ‘Ubay bin Ka’ab. Beliau menuturkan, “Dahulu ada seseorang yang aku tidak tahu apakah ada yang lebih jauh rumahnya dari masjid daripada orang tersebut namun dia tidak pernah tertinggal shalat berjamaah. Maka suatu hari ada yang bertanya kepadanya, “Jikalau seandainya engkau membeli seekor himar (keledai) yang bisa engkau gunakan pada saat malam dan saat panas!?” Dia menjawab, “Tidaklah membuatku gembira seandainya rumahku berada di samping masjid. Sesungguhnya aku menginginkan agar Allah mencatat bagiku langkahku ke masjid dan pulangku ke keluargaku. Nabi kemudian berkata kepadanya, “Allah telah mengabulkan dan memberi apa yang engkau minta.” (HR. Muslim no. 663 dan Abu Daud no. 557).

 

5. Menghilangkan gangguan dari jalan juga termasuk shadaqah.

 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,“Iman itu 70 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah ucapanاللهالاالهلاdan yang paling rendah adalah menghilangkan gangguan dari jalan, malu itu termasuk cabang dari keimanan.” (HR. al-Bukhari no. 24 dan Muslim no. 35).

 Dalam hadits yang lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

 “Tatkala seseorang sedang berjalan di sebuah jalan, dia menemukan sebuah ranting berduri berada di tengah jalan tersebut. Lalu dia menyingkirkannya maka Allah berterima kasih kepadanya dengan mengampuninya.” (HR. al-Bukhari no. 624 dan Muslim no. 1914).

 Demikianlah beberapa contoh amalan shalih dan keutamaannya yang dapat diamalkan seseorang untuk bersedekah atas persendiannya. Sebagaimana penjelasan sebelumnya, bahwa tidak hanya amalan-amalan ini yang bisa berfungsi sebagai shadaqah, namun seluruh amalan yang ma’ruf jika diamalkan maka juga terhitung sebagai shadaqah.

 

 Shalat Dhuha 2 Raka’at     

 Para pembaca rahimakumullah, kita telah mengetahui bahwa setiap yang ma’ruf itu bernilai shadaqah yang mana hal ini menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama yang penuh dengan kemudahan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

 “Sesungguhnya agama Islam ini adalah mudah. Dan tidaklah seorangpun yang memberat-beratkan diri dalam agama ini kecuali dia sendiri yang akan terkalahkan olehnya.” (HR. Al-Bukhari no. 39)

 Maka di antara kemudahan lain yang Allah ‘Azza wa jalla berikan kepada kita terkait dengan kewajiban bersedekah atas persendian adalah apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kabarkan dalam sebuah haditsnya,

 “Seluruh persendian kalian ada kewajiban untuk bershadaqah setiap harinya. Setiap tasbih itu shadaqah. Setiap tahmid itu shadaqah. Setiap tahlil itu shadaqah. Setiap takbir itu shadaqah. Memerintahkan kepada yang ma’ruf itu shadaqah. Melarang dari yang mungkar itu shadaqah. Semuanya itu tercukupi dengan mengerjakan dua raka’at shalat dhuha.” (HR. Muslim no. 720).

 Ya, kewajiban bershadaqah bagi setiap persendian yang berjumlah 360 tersebut bisa kita tunaikan hanya dengan melaksanakan shalat dhuha dua raka’at. Sehingga sudah sepantasnya bagi kita untuk senantiasa menjaga shalat ini. Sebagai wujud syukur kita kepada Rabbul ‘alamin atas nikmat persendian.

 Adapun seseorang yang telah melaksanakan shalat dhuha lalu ditambah dengan amalan yang lain, maka dia telah menunaikan kewajiban shadaqahnya sementara amalan-amalan yang lain tersebut terhitung sebagai amalan tambahan baginya sehingga tentunya dia akan meraup banyak kebaikan dan pahala. (Lihat Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dan Shalih Fauzan hafidzahullah)

          Allahu a’lam bish shawab, semoga bermanfaat.

Penyusun: Al-Ustadz Abdullah Imam hafidzahullah

Sumber : buletin-alilmu.net


Posted in Hadits | No Comments »

Hadits Seputar Ramadhan

Posted by totoharyanto on 14th July 2014

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Berapa banyak seorang yang berpuasa tidak ada bagian dari puasanya melainkan lapar dan berapa banyak seorang yang bangun beribadah pada malam hari tidak ada bagiannya dari bangun malamnya kecuali begadang.” HR. Ibnu Majah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم صَعِدَ الْمِنْبَرَ ، فَقَالَ : آمِينَ ، آمِينَ ، آمِينَ ، فَقِيلَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، إِنَّكَ حِينَ صَعِدْتَ الْمِنْبَرَ قُلْتَ : آمِينَ ، آمِينَ ، آمِينَ ؟ قَالَ : إِنَّ جِبْرِيلَ آتَانِي فَقَالَ : مَنْ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغَفَرْ لَهُ فَدَخَلَ النَّارَ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ ، قُلْ آمِينَ فَقُلْتُ : آمِينَ ، وَمَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ ، أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُبِرَّهُمَا فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ ، قُلْ : آمِينَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ ، وَمَنْ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ فَأَبَعْدَهُ اللَّهُ , قُلْ : آمِينَ , قُلْتُ : آمِينَ.

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menaiki mimbar, lalu beliau bersabda: “Amin, amin, amin,” lalau beliau ditanya: “Sesungguhnya engkau ketika naik ke atas mimbar, mengucapkan: “Amin, amin, amin?”, beliau menjawab: “Sesungguhnya Jibril ‘alaihissalam telah mendatangiku, ia berkata: “Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan dan tidak diampuni dosanya, akhirnya ia masuk ke dalam neraka dan dijauhkanAllah (dari surga), katakanlah: “Amin”, lalu akupun mengucapkan: “Amin”, Ia berkata: “Barangsiapa yang mendapati kedua orangtunya atau salah satunya tetapi ia tidak berbakti kepada keduanya, maka tidak diampuni dosanya, dan ia masuk ke dalam neraka dan dijauhkan Allah (dari surga), katakanlah: “Amin”, lalu akupun mengucapkan: “Amin”, ia berkata: “Barangsiapa yang disebutkan namamu didepanya dan ia tidak bershalawat atasmu lalu ia meninggal dan masuk ke dalam neraka dan dijauhkanAllah (dari surga), katakanlah: “Amin”, lalu akupun mengucapkan: “Amin.” HR. Ibnu Hibba dan Ibnu Khuzaimah.


Posted in Puasa | No Comments »

Iman Kepada Malaikat

Posted by totoharyanto on 9th June 2014

Iman kepada Malaikat merupakan salah satu dari 6 (enam) rukum iman yang wajib diimani. Sebagaimana dalam hadits Jibril (Hadits ke-2) dalam buku Arba’in An Nawawi. Kita meyakini bahwa malaikat memiliki tugas masing-masing yang Alloh subhanahu wata’ala bebankan kepada meraka. Tentu saja seja malaikat tidak pernah bermaksiat kepada Alloh subhanahu wata’ala. Dalam surat At Tahrim ayat ke-6 ; Alloh subhanahu wata’ala berfirman :

66_6

 

 

 

 

 

Artinya :
 Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS At Tahrim : 6).

Barangkali ada yang pernah terlintas dalam benak kita, berapa jumlah malaikat. Yang pasti jumlah mereka sangatlah banyak. Salah satu ulama tafsir, Imam Ibnu Katsir mengatakan di dalam tafsirnya:


ثبت في الصحيحين أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال في حديث الإسراء بعد مجاوزته إلى السماء السابعة: «ثم رفع بي إلى البيت المعمور, وإذا هو يدخله كل يوم سبعون ألفاً لا يعودون إليه آخر ما عليهم» يعني يتعبدون فيه ويطوفون به كما يطوف أهل الأرض بكعبتهم, كذلك ذاك البيت المعمور هو كعبة أهل السماء السابعة, ولهذا وجد إبراهيم الخليل عليه الصلاة والسلام مسنداً ظهره إلى البيت المعمور, لأنه باني الكعبة الأرضية,

terdapat dalam Shahihain bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa saalm bersabda ketika peristiwa Isra’ pada saat melewati langit ke tujuh, ‘kemudian aku diangkat menuju baitul makmur, padanya masuk (datang) setiap hari 70.000 malaikat yang tidak akan kembali lagi’. Yaitu mereja beribadah dan berthawaf sebagaimana penduduk bumi thawaf di ka’bah mereka. Demikian juga baitul makmur ia adalah ka’bah penduduk langit ketujuh. Oleh karena itu, didapati Nabi Ibrahim Al-Khalil alihisshalatu wassalam menyandarkan badannya pada baitul makmur karena ia telah membangun ka’bah di bumi”1

 

Di dalam hadits Bukhari dan Muslim yang diriwayatkan dari Malik bin Sha’sha’ah ra tentang kisah Mi’raj Nabi saw bahwa Alloh subhanahu wata’alatelah memperlihatkan Baitul Makmur di langit kepada Nabi shollallahu alaihu wasallam. Tempat itu setiap hari didatangi oleh 70.000 Malaikat untuk mengerjakan shalat disana. Setiap kali mereka keluar dari tempat itu, mereka tidak kembali lagi. (HR Bukhari No. 3207,3887, Muslim No. 164 dan Ahmad No. IV/207-208 dari sahabat Malik bin Sha’sha’ah

 

Perhatikan bahwa setiap hari 70.000 malaikat masuk ke baitul makmur dan tidak kembali lagi. menunjukkan bahwa jumlah meraka sangat banyak. Tentu saja hanya Alloh subhanahu wata’ala yang mengetahui berpa jumlah mereka. Semoga dengan ini, keimanan kita terhadap malaikat Alloh subhanahu wata’ala makin bertambah.
 1. Tafsir Ibnu Katsir 7/427-428, Darut Thayyibah, cet. VIII, 1420 H, syamilah

 

 

 


Posted in Hadits | No Comments »

Sekedar Renungan ……

Posted by totoharyanto on 28th December 2013

Anda ikut merayakan tahun baru, mengikuti siapa?

Perayaan tahun baru ternyata bukan sesuatu yang baru, bahkan ternyata itu adalah budaya yang sangat kuno, bebarapa umat melakukan. Perayaan itu, diantaranya adalah hari raya Nairuz, dalam kitab al Qomus. Nairuz adalah hari pertama dalam setahun, dan itu adalah awal tahun matahari.

Orang-orang Madinah dahulu pernah merayakannya sebelum kedatangan Rasulullah. Bila diteliti ternyata ternyata itu adalah hari raya terbesarnya orang Persia bangsa Majusi para penyembah api, dikatakan dalam sebagian referensi bahwa pencetus pertamanya adalah salah satu raja-raja mereka yaitu yang bernama Jamsyad.

Ketika Nabi datang ke Madinah beliau mendapati mereka bersenang–senang merayakannya dengan berbagai permainan, Nabi berkata: ‘Apa dua hari ini’, mereka menjawab, ‘Kami biasa bermain-main padanya di masa jahiliyah’, maka Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْر
“Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari itu dengan yang lebih baik dari keduanya yaitu hari raya Idul Adha dan Idul Fitri. [Shahih, HR Abu Dawud disahihkan oleh asy syaikh al Albani]

Para pensyarah hadits mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua hari yang sebelumnya mereka rayakan adalah hari Nairuz dan hari Muhrojan [Mir’atul mafatih]
Di samping majusi, ternya orang-orang Yahudi juga punya kebiasaan merayakan awal tahun, sebagian sumber menyebutkan bahwa perayaan awal tahun termasuk hari raya Yahudi, mereka menyebutnya dengan Ra’su Haisya yang berarti hari raya di penghujung bulan, kedudukan hari raya ini dalam pandangan mereka semacam kedudukan hari raya Idul Adha bagi muslimin.

Lalu Nashrani mengikuti jejak Yahudi sehingga mereka juga merayakan tahun baru. Dan mereka juga memiliki kayakinan-keyakinan tertentu terkait dengan awal tahun ini. [Bida’ Hauliiyyah]

Tidak menutup kemungkinan masih ada umat-umat lain yang juga merayakan awal tahun atau tahun baru, sebagaimana disebutkan beberapa sumber. Yang jelas, siapa mereka?, tentu, bukan muslimin, bahkan Majusi penyembah api nasrani penyemabah Yesus dan Yahudi penyembah Uzair.

Jadi siapa yang anda ikuti dalam perayaan tahun baru ini?

Lebih dari itu, ternyata perayaan tahun baru ini telah dihapus oleh Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, bukankah anda ingat hadits di atas?, Nabi menghapus perayaan Nairuz dan Muhrojan dan mengganti dengan idul Fitri dan Adha.

Lalu, kenapa muslimin menghidup-hidupkan sesuatu yang telah dimatikan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam. Kata Ibnu Taimiyyah, Allah Subhanahuwata’ala mengganti (Abdala) konsekwensi dari kata Abdala (menggati) adalah benar-benarnya terhapus hari raya yang dulu dan digantikan dengan penggatinya, karena tidak bisa
berkumpul antara yang menggati dan yang digantikan.

Tapi, kenyataannya justru tetap saja umat ini merayakan tahun baru, melanggar sabda Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, sungguh benar berita kenabian Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam

« لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ ، حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ » .قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ « فَمَنْ »
“Benar-benar kalian akan mengikuti jalan-jalan orang yang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga bila mereka masuk ke lubang binatang dhob (semacam biawak), maka kalian juga akan memasukinya. Kami berkata: Wahai Rasulullah Yahudi dan nashrani? Beliau berkata: Siapa lagi?.” [shahih, HR al Bukhori Muslim dan yang lain]

Kaum muslimin…
Belum lagi, apa yang mereka lakukan dalam perayaan tahu baru? Bukankan berbagai kemungkaran yang sangat bertolak belakan dengan ajaran agama. Kalau anda dari jenis orang yang pobhi dengan ajaran agama, saya katakan, bukankah dalam acara itu banyak terjadi hal-hal yang bertentangan dengan kesusilaan, abad, sopan santun, kehormatan jiwa dan berbagai kemuliaan-kemualiaan yang lain.

Hampir semua atau semua yang terjadi adalah kerendahan dan kehinaan martabat manusia apalagi martabat muslim. Tentu kita semua, saya dan anda dan mereka, sebenarnya menyadari akan hal itu, lalu kapan kita akan meninggalkannya, mengapa masih saja memeriahkan acara tersebut, tidakkah kita kembali saja kepada kehormatan kita dan kemulian kita serta tentunya ajaran agama kita.

Bersihkan dari bercak-bercak perayaan tahun baru, joget, pentas musik yang identik dengan kerendahan moral, minuman-minuman keras dan obat-obat terlarang, pembauran antara lawan jenis yang merusak moral, sampai pada pesta hura-hura dengan pakaian minim, pamer aurat, pacaran dan perzinaan, apakah kita menginkari terjadinya hal itu?

Berbagai sumber berita menyebutkan bahwa penjualan alat kontrasepsi baik kondom atau yang lain meningkat tajam dari tahun ke tahun menjelang perayaan malam tahun baru. Miris, kenyataan yang memperihatinkan, inikah moral bangsa kita, dimana susila dan dimana ajaran agama? Bila anda seorang muslim
atau muslimah tidakkan takut dengan ancaman Allah Subhanahuwata’ala , Nabi shallahu alaihi asallam bersabda

إذا ظهر الزنا و الربافي قرية فقد أحلوا بأنفسهم عذاب الله
”Tidaklah nampak pada sebuah daerah zina dan riba melainkan mereka telah menghalalkan adzab Allah untuk diri mereka” [Hasan, HR Abu Ya’la, al Hakim dan dihasankan oleh Asy Syaikh al Albani]

Juga, …

لم تظهر الفاحشة في قوم قط حتى يعلنوا بها إلا فشا فيهم الأوجاع التيلم تكن في أسلافهم
“Tidaklah tampak pada suatu kaumpun perbuatan keji (zina, homoseks) sehingga mereka menampakkannya melainkan akan menyebar ditengah-tengah mereka penyakit-penyakit yang tidak pernah ada pada umat sebelumnya” [Shahih, HR al Baihaqi, disahihkan oleh Asy Syaikh al Albani]

Saudaraku muslim…Saudariku muslimah…Masihkan anda akan menodai diri anda….

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah Subhanahuwata’ala dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya (Yahudi dan Nashrani), kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.[QS :al Hadid:16]

Ingat, liang lahat menunggu kita semua…

Wassalamu alaikum…

Penulis : Ustadz Qomar ZA, Lc


Posted in Islamic | No Comments »