Toto Haryanto http://totoharyanto.staff.ipb.ac.id This is my personal weblog... Thu, 02 May 2019 10:09:35 +0000 id-ID hourly 1 http://wordpress.org/?v=4.3.1 http://totoharyanto.staff.ipb.ac.id/files/2018/01/cropped-toto-ipb-32x32.png Toto Haryanto http://totoharyanto.staff.ipb.ac.id 32 32 10 Hal Penting Tentang Puasa Ramadhan http://totoharyanto.staff.ipb.ac.id/2019/05/02/10-hal-penting-tentang-puasa-ramadhan/ http://totoharyanto.staff.ipb.ac.id/2019/05/02/10-hal-penting-tentang-puasa-ramadhan/#comments Thu, 02 May 2019 10:09:35 +0000 http://totoharyanto.staff.ipb.ac.id/?p=2118 Continue reading ]]> Puasa adalah ibadah yang sangat agung yang mempunyai tuntunan syar’i maka wajib bagi seorang muslim untuk mempelajari hukum yang berkaitan dengan puasa sehingga puasanya sesuai dengan apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan.

Berkata Asy-Syaikh Al ‘Allamah Shaleh Al Fauzan Hafidzahullah,

“Demikanlah seharusnya seorang muslim untuk mempelajari hukum shaum (puasa), dan berbuka, waktu dan sifatnya. Sehingga dapat melaksanakan puasa sesuai dengan apa yang disyariatkan, sesuai dengan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, sehingga puasanya benar dan diterima disisi Allah, maka yang demikian itu (mempelajari puasa –pent) termasuk perkara yang penting sebagaimana Allah Ta’aala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرا

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang berharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah ” (Ahdzab : 21) (Al Mulakhos Al Fiqhi, hlm. 306)

 

Berikut ini penjelasan ringkas tentang puasa ramadhan.

 

Pertama: Pengertian Puasa

Puasa secara bahasa adalah menahan diri dari sesuatu.

Adapun secara istilah syariat puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan semua hal yang membatalkan puasa, dari terbitnya fajar shadiq hingga tenggelamnya matahari, disertai niat.

 

Kedua: Hukum Puasa Ramadhan.

Puasa ramadhan hukumnya wajib, berdasarkan al Qur’an, as Sunnah dan Ijma’. Barangsiapa yang mengingkari kewajibanya maka sungguh dia telah kafir, dan barangsiapa yang tidak melaksanakan ibadah puasa tanpa ada udzur, maka dia telah melakukan perbuatan dosa besar. Allah Ta’aala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

”Wahai orang – orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang – orang sebelum kamu agar kamu bertakwa “ (Al Baqarah : 183).

 

Dalil dari hadits,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

”Islam itu dibangun diatas lima perkara, syahadat (persaksian) Laa Ilaha Illallah Muhammadarrasulullah (tidak ada Ilah/sesembahan yang berhak di sembah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah), mendirikan shalat, menunaikan zakat, pergi haji dan puasa Ramadhan” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Ketiga: Rukun-Rukun Puasa

1. Menahan diri dari pembatal puasa semenjak terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari.

Allah Ta’aala berfirman,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

”Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.“ (Al Baqarah : 187)

 

2. Berniat.

Maksudnya, ketika menahan diri dari semua pembatal puasa ini, orang yang berpuasa meniatkannya untuk beribadah kepada Allah Ta’aala.

 

Keempat: Keutamaan Puasa Ramadhan.

Keutamaan puasa ramadhan sangatlah banyak diantaranya adalah Allah Ta’aala akan mengampuni dosa orang yang berpuasa ramadhan ikhlas karena-Nya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kerena imam dan mengharao pahala, diampuni pula untuknya dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Kelima: Hikmah Disyariatkan Puasa Ramadhan.

1. Puasa membersihkan dan menyucikan jiwa dari akhlak yang rendah.

2. Puasa melatih manusia untuk zuhud terhadap dunia.

3. Puasa membangkitkan rasa belas kasihan kepada orang-orang miskin dan ikut merasakan penderitaan mereka.

 

Keenam: Syarat Wajibnya Puasa Ramadhan

1. Islam. Puasa tidak wajib bagi orang kafir dan tidak sah.

2. Baligh. Puasa tidak wajib bagi anak kecil. Namun seyogyanya orang tua untuk melatih anaknya berpuasa.

3. Berakal. Puasa tidak wajib atas orang gila.

4. Sehat. Orang yang sakit yang tidak mampu puasa tidak diwajibkan berpuasa.

5. Mukim. Puasa tidak wajib bagi musafir.

6. Tidak sedang haid dan nifas. Tidak boleh wanita yang sedang haid dan nifas berpuasa.

 

Ketujuh: Uzur yang Membolehkan Seseorang Berbuka/Tidak Puasa di Bulan Ramadhan.

1. Orang yang sakit yang diharapkan kesembuhannya. Ia boleh berbuka puasa/tidak berpuasa dan menganti puasanya di waktu yang lain.

Orang sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya, boleh baginya berbuka berpuasa/tidak berpuasa dan wajib baginya membayar fidyah.

2. Orang yang lanjut usia yang tidak mampu berpuasa. Boleh baginya berbuka puasa dan wajib baginya membayar fidyah dengan memberi makan satu orang miskin setiap harinya yang ia tidak berpuasa.

3. Musafir boleh baginya berbuka puasa, tapi wajib baginya mengganti puasa di hari yang lain.

4. Wanita yang haid dan nifas.

Wajib baginya berbuka puasa. Tidak boleh baginya untuk berpuasa. Dan wajib baginya untuk menqadhanya dihari yang lain.

5. Wanita yang hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan dirinya, atau mengkhwatirkan bayinya boleh baginya berbuka puasa.

Wanita hamil atau menyusui mengganti puasa yang ia tinggalkan itu jika ia berbuka karena khawatir terhadap dirinya.

Jika wanita yang hamil atau menyusui mengkhawatirkan janin/bayinya, dia mengadha puasa dan memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari yang dia tinggalkan.

 

Kedelapan: Pembatal Puasa.

1. Makan dan minum dengan sengaja. Adapun kalau karena lupa tidak membatalkan puasa.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ نَسِىَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

”Barangsiapa yang lupa makan dan minum padahal dia sedang berpuasa maka sempurnakanlah puasanya, sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum ”(HR. Bukhari dan Muslim)

2. Melakukan hubungan suami istri.

Para ulama sepakat tentang batal dan berdosanya orang yanh melakukan hubungan suami istri disiang hari bulan ramadhan.

3. Muntah dengan sengaja.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ ذَرَعَهُ قَىْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ

”Barangsiapa yang muntah dengan tanpa disengaja dan dia dalam keadaan puasa tidak ada qada baginya dan apabila disengaja untuk muntah maka wajib baginya qada’.” (HR. Abu Dawud dishahihkan oleh Syaikh al-AlBani)

4. Berbekam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ

“Orang yang membekam dan yang dibekam sama-sama berbuka.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah dan dishahihkan syaikh Al Abani)

5. Keluar darah haid dan nifas.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا

”Bukakankah jika haid dia tidak shalat dan tidak berpuasa? maka kami berkata, benar. inilah bentuk kekurangan pada agamanya“ (HR. Muslim)

6. Berniat berbuka sebelum waktunya.

7. Murtad.

Allah Ta’aala berfirman,

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

”Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu“ (Az Zummar:65)

 

Kesembilan: Hal yang Disunnahkan Ketika Puasa.

1. Makan sahur.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَسَحَرُّوا فإنَّ في السَّحُور بَرَكَة

“Makan sahurlah, karena sesungguhnya pada makan sahur terdapat keberkaham.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Mengakhirkan sahur.

Dari Zaid bin Tsabit berkata, “Kami makan sahur bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian bangkit untuk mengerjakan shalat, saya (Anas bin Malik) berkata: berapa lama jarak antara keduanya?. beliau menjawab, “(sepanjang pembacaan) lima puluh ayat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Menyegerakan berbuka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Senantiasa manusia diatas kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Berbuka dengan ruthab (kurma segar), kalau tidak ada dengan kurma kering dengan bilangan ganjil. Jika tidak ada dengan beberapa teguk.

Datang sebuah hadits yang menerangkan dengan apa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbuka puasa, dari Anas menuturkan

يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

“Adalah Rasulullah berbuka dengan beberapa buah ruthab (kurma yang menguning yang hampir matang) sebelum mengerjakan shalat. Apabila tidak ada ruthab, dengan beberapa kurma (matang),  dan kalau kurma tidak ada, dengan beberapa teguk air.” (HR. Abu Dawud no 2358 dihasankan olh syaikh Muqbil di al-jami’ as-Shahih:2/419-420).

5. Berdoa ketika berbuka puasa.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga gologan yang doanya tidak tertolak, yaitu orang yang berpuasa hingga berbuka, imam yang adail dan orang yang di dzalimi.” (HR. At Tirmidzi, al Baihaqi dan di shahihkan oleh syaikh Al Albani)

6. Memperbanyak sedekah, membaca al-Qur’an, menyediakan berbuka dan amalan shalih lainnya.

7. Bersungguh-sungguh dalam melaksanakan shalat tarawih.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang shalat pada malam ramadhan (shalat tarawih) karena imam dan mengharap pahala dari Allah diampuni dosanya apa yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

8. Umrah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عُمرَةٌ في رمَضَانَ تَعدِلُ حجة أَوْ حَجَّةً مَعِي

“Sesungguhnya umrah pada bulan ramadhan sebanding haji atau haji bersamaku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

9. Mengucapkan, “sesungguhnya aku sedang berpuasa” jika di cela dan dicaci orang.

 

Kesepuluh: Hal yang Di makruhkan Ketika Puasa

1. Berlebihan dalam berkumur-kumur dan istinsyaq (memasukan air kehidung).

2. Mencium istri bagi laki-laki yang dikhawatirkan akan bangkit syahwatnya dan tidak bisa menahan diri.

3. Menelan dahak.

4. Mencicipi makanan tanpa ada suatu kebutuhan. Boleh bila dibutuhkan oleh seorang koki misalnya dengan menjaga tidak sampai masuk ke tenggorokkan. Wallahu a’lam bish shawwab. (AJ)

 

sumber :
https://www.yukbelajarislam.com/2019/04/19/10-hal-penting-tentang-puasa-ramadhan/

]]>
http://totoharyanto.staff.ipb.ac.id/2019/05/02/10-hal-penting-tentang-puasa-ramadhan/feed/ 0
Membalas Jasa Orang Tua, Mungkinkah ? http://totoharyanto.staff.ipb.ac.id/2019/03/29/membalas-jasa-orang-tua-mungkinkah/ http://totoharyanto.staff.ipb.ac.id/2019/03/29/membalas-jasa-orang-tua-mungkinkah/#comments Fri, 29 Mar 2019 13:09:29 +0000 http://totoharyanto.staff.ipb.ac.id/?p=2011 Continue reading ]]> Suatu saat Abu Burdah melihat shahabat Abdullah bin Umar radhiallahuanhu dan seorang dari Yaman sedang melakukan thawaf di ka’bah. Orang tersebut melaksanakan thawaf dalam keadaan menggendong ibunya. Kemudian dia mendendangkan syair, إنّي لهابعيرها المذلّل …. إن أذعرت ركابها لم أذعر “Aku bagi ibuku laksana onta yang jinak. Jika hewan tunggangan suatu saat akan berontak, adapun aku tidaklah demikian.” Setelah itu dia menemui shahabat Ibnu Umar dan berkata, “Wahai Ibnu Umar, apakah dengan sikap bakti yang aku lakukan ini telah teranggap membalas jasa ibuku ini?” Ibnu Umar pun menjawab, “Tidak. Bahkan yang engkau lakukan ini tidak sebanding dengan satu tarikan nafas ibumu ketika melahirkanmu.” (Hadits ini disebutkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam kitab “Al-Adabul Mufrad Bab: Jaza’ul Walidain”) Petikan Hikmah dan Faedah Dari kisah di atas, dapat kita ambil beberapa hikmah dan faidah penting: 1. Tingginya kedudukan orangtua di sisi Allah ta’ala dan besarnya hak mereka yang wajib ditunaikan oleh seorang anak. Dalam beberapa ayat, Allah ta’ala menggandengkan penyebutan perintah untuk mentauhidkan-Nya dengan perintah berbakti kepada kedua orang tua. Allah ta’ala berfirman, وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (al-Isra’:23) Allah ta’ala juga berfirman, وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا “Beribdahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatuapapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak.” (an-Nisa’:36) Allah ta’ala juga berfirman, وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ لَا تَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil perjanjian dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kalian beribadah kepada selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak kalian.” (al-Baqarah: 83) Bahkan jika keduanya memerintahkan kepada perbuatan munkar, maka tetap memberikan bakti kepada keduanya meskipun tidak melaksanakan perbuatan munkar yang mereka perintahkan. Allah ta’ala berfirman, وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا “Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Luqman: 15) Ayat-ayat di atas menunjukkan kepada kita betapa tingginya kedudukan keduanya di sisi Allah ta’ala sekaligus menunjukkan akan kewajiban yang sangat besar bagi seorang anak untuk berbakti kepada keduanya. Demikian pula telah disebutkan dalam banyak hadits tentang kedudukan kedua orang tua. Abdullah bin Mas’ud radhiallahuanhu pernah bertanya kepada Nabi shalallahu’alaihi wasallam, “Amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Nabi shalallahu’alaihi wasallam menjawab “Shalat pada waktunya.” “Lalu apa lagi?” tanya Ibnu Mas’ud kembali. Nabi shalallahu’alaihi wasallam menjawab “Berbakti kepada kedua orantua.” Lalu Ibnu Mas’ud bertanya kembali dengan pertanyaan yang sama. Nabi shalallahu’alaihi wasallam menjawab “Kemudian berjihad di jalan Allah.” (HR. al Bukhari dan Muslim) 2. Pentingnya bertannya kepada orang yang berilmu. Allah ta’ala berfirman, “Maka bertanyalah kalian kepada ahli dzikir (pada ulama) jika kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43) Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada siapa saja yang tidak mengetahui suatu urursan dalam agama ini untuk kembali kepada mereka (ulama) dalam segala hal. Dalam ayat ini pula terdapat pujian terhadap ulama dan rekomendasi untuk mereka dari sisi Allah dimana Dia memerintahkan untuk bertanya kepada mereka.” (Tafsir As-Sa’di. hal. 394) Para pembaca rahimakumullah, kita masih teringat dengan kisah seorang yang membunuh 99 jiwa, lalu ingin bertobat. Disebutkan dalam kisah tersebut bahwa orang ini ditunjukkan kepada seseorang ahli ibadah, lalu ia mendatanginya dan menyatakan bahwa telah membunuh 99 jiwa, apakah mungkin baginya untuk bertobat? Maka ahli ibadah tersebut menjawab “Tidak bisa.” Maka dibunuhlah ahli ibadah tersebut sehingga genap menjadi 100 jiwa yang telah dia bunuh. Kemudian ia mencari orang yang paling alim di muka bumi ini, maka ditunjukkanlah kepada seseorang alim lalu ia katakan kepadanya bahwa telah membunuh 100 jiwa, apakah masih bisa baginya bertobat? “Ya, tidak ada yang menghalangi antara kamu dengan tobat!” demikian jawaban alim tersebut.” (HR. Muslim dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahuanhu). Di antara faidah dari kisah di atas adalah pentingnya mengembalikan solusi dan jalan keluarnya kepada para ulama yang terpercaya. Jika ditanyakan dan dikembalikan kepada selain ahlinya maka dampak negatif dan hasil buruk yang justru didapatkan. Kembali kepada kisah orang Yaman yang melakukan thawaf di atas, Allah ta’ala memberikan taufik kepadanya untuk bertanya kepada Ibnu Umar radhiallahuanhu. Hasilnya, sangkaan dia dengan perjuangan menggendong ibunya saat thawaf dapat membalas jasa ibunya ternyata tidak tepat, bahkan tidak sebanding dan tidak senilai dengan satu tarikan nafas sang ibu saat melahirkan dirinya. 3. Suatu hal yang tidak mudah bagi seorang anak untuk dapat membalas jasa-jasa kedua orangtuanya. Usaha yang dilakukan orang Yaman tersebut dengan menggendong ibunya melakukan thawaf dinyatakan oleh Ibnu Umar sebagai usaha yang sama sekali tidak senilai dengan satu tarikan nafas ibunya saat melahirkan dirinya. Subhanallah, lalu bagaimana dengan jasa-jasa orangtuanya yang lain? Demikian kenyataanya, sangat tidak mudah bahkan hampir bisa dikatakan suatu yang mustahil bagi seorang anak untuk dapat membalas jasa-jasa orang tuanya. Dalam sebuah hadits, baginda Nabi shalallahu’alaihi wasallam pernah bersabda, لايجزى ولدوالده إلاّ أن يجده مملو كا فيشتريه فيعتقه “Seorang anak tidak bisa membalas jasa orangtuanya, kecuali jika dia mendapati keduanya menjadi budak yang kemudian dia beli dan dia merdekakan.” (HR. Muslim, Abu Daud dan yang lainya) Inilah cara yang diajarkan Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam untuk seseorang dinyatakan membalas jasa orangtuanya. Dengan membeli ayah ibunya atau salah satu dari keduanya yang menjadi budak kemudian memerdekakannya, maka seseorang teranggap telah membalas jasa mereka. Suatu hal yang sangat sulit, terlebih di zaman kita sekarang ini. Sehingga memang suatu hal yang tidak pantas jika ada di antara kita beranggapan telah membalas jasa mereka dengan segala hal yang dia curahkan untuk orangtuanya selama ini. Karena pada hakikatnya harta yang kita berikan, tenaga yang kira curahkan dan berbagai upaya yang kita persembahkan kepada mereka tidaklah sebanding dengan apa yang telah mereka berikan kepada kita. Para pembaca rahimakumullah, meskipun kenyataannya demikian, bukan berarti kita sebagai seorang anak pesimis dan pasrah begitu saja karena merasa mustahil untuk bisa membalas jasa mereka. Tetapi kita berusaha memaksimalkan bakti kepada keduanya, dengan melakukan segala hal yang dapat dilakukan, meskipun tidak sampai pada derajat sempurna. Berusaha kontinu di dalam memberikan yang terbaik untuk mereka. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda, فسدّدواوقاربواوأبشروا “Cocokilah kebenaran, berusahalah dan bergembiralah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiallahuanhu) Yakni beramallah dengan benar sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan syariat. Jika belum mencapai derajat kesempurnaan maka berusahalah untuk sesuai dengan ketetapan syariat tersebut semaksimal mungkin. Kemudian setelah itu bergembiralah dengan pahala dan pertolongan Allah ta’ala. (Lihat Syarah Riyadhush Shalihin Ibnu Utsaimin) Maka lakukan dan berikan yang terbaik kepada kedua orang tua! Jangan berputus asa dan patah semangat! Berupayalah untuk senantiasa berbakti kepada keduanya semaksimal kemampuan yang kita miliki, baik dalam bentuk sikap mulia, pemberian materi ataupun lantunan doa untuknya. Setelah itu berharaplah kepada Allah ta’ala pahala dan pertolongan-Nya. Jika sekiranya kita belum bisa memberikan ragam bakti kepada mereka, maka minimalnya doa dan perilaku yang mulia harus kita berikan kepada keduanya. Allahu a’lam bishawab. Semoga bermanfaat. Penulis: Ustadz Abdullah Imam hafizhahullah

Continue reading at http://buletin-alilmu.net/2019/03/27/membalas-jasa-orangtua-mungkinkah/ | Buletin Al Ilmu

]]>
http://totoharyanto.staff.ipb.ac.id/2019/03/29/membalas-jasa-orang-tua-mungkinkah/feed/ 0