TOTO HARYANTO

Sedikit goresan menebar manfaat …..

Marhaban ya Ramadhan

Posted by totoharyanto on June 5th, 2017

4448416-ramadan-wallpapers-hd


Posted in IPB | No Comments »

Aqiqah : Salah Satu Sunnah Nabi Kita

Posted by totoharyanto on October 5th, 2016

Kelahiran seorang anak tentunya memberikan kebahagiaan tersendiri. Sebagai salah satu sunah yang disyariatkan oleh Nabi Muhammad Shollallahu’alaihi wasallam adalah Aqiqah. Untuk itu kami  mengakomodasi kemudahan Anda untuk melaksanakan sunnah tersebut. Silahkan kunjungi website kami di alamat http://www.bilqisaqiqah.com/

bilqis

 

 


Posted in Berita | 4 Comments »

Happy Iedul Adha

Posted by totoharyanto on September 15th, 2016

Eid-Ul-adha-cards


Posted in IPB | No Comments »

Bahaya Komunisme di Indonesia

Posted by totoharyanto on July 21st, 2016

INDONESIA SIAGA KOMUNIS

[Asy-Syariah edisi khusus 01]
Komunisme belum mati. Ibarat ilalang,
setiap kali dibabat, ia tetap saja tumbuh. Partai
Komunis Indonesia (PKI) sebagai representasi
komunisme di Indonesia, meski secara fisik
sudah mati, tetapi tetap hidup sebagai ideologi.
Di masa lalu, PKI pernah menjadi partai
besar, bahkan disebut-sebut yang terbesar di
luar Uni Soviet dan China. Wajar jika sisa
kekuatannya tidak bisa dipandang remeh.
Anak biologis mereka yang dididik secara
komunis atau kader-kader militannya, akan
melanjutkan “estafet” ideologinya, berupaya
mengembalikan kejayaan PKI.

Bermetamorfosa ke mana-mana, diiringi
pemutarbalikan fakta sejarah, penyusupan/
infiltrasi, agitasi dan propaganda, upaya untuk
kembali menghidupkan paham komunisme
tidak lagi hanya retorika.

Reformasi yang kebablasan memberi
peluang munculnya multiideologi, termasuk
komunis yang terus unjuk gigi. Maraknya
simbol palu arit di berbagai tempat dan
peristiwa, kelompok-kelompok diskusi yang
membela “HAM” PKI, konsolidasi kader
PKI melalui kongres, temu raya, dll., hingga
munculnya buku Aku Bangga Jadi Anak PKI
dan Anak PKI Masuk Parlemen menjadi bukti
keberanian komunis untuk eksis.

Gagal masuk parlemen melalui PRD dan
Papernas, mereka menyusup di partai-partai.
Selama bisa mengantongi suara yang cukup,
mudah saja kader komunis melenggang ke
Senayan.

Dengan bumbu fitnah dan pemutarbalikan
fakt a, Komunis Gaya Baru (KGB) juga
melakukan propaganda melalui film-film
“pelurusan sejarah” terkait peristiwa G30S
PKI, versi komunis tentu saja. Masyarakat
mau dininabobokkan bahwa isu PKI sudah
tidak lagi relevan, paham komunis tidak lagi
berbahaya, bahkan sudah tidak ada.

Dengan percaya diri, mereka menuntut
lawan-lawannya dengan isu pelanggaran HAM
berat, meminta digelar pengadilan HAM atas
tragedi 1965, menuntut dicabutnya TAP MPRS
No. XXV Tahun 1966 yang menetapkan PKI
sebagai partai terlarang di Indonesia, meminta
rekonsiliasi, rehabilitasi, dan kompensasi atas
“korban-korban” dari PKI.

Hasilnya, kini kekejaman PKI tak lagi
dibahas dalam buku-buku sejarah di sekolah,
padahal sejarah kekejaman komunis harus
diketahui dari generasi ke generasi. Sejarah
dunia pun mencatat, komunisme internasional
telah melancarkan kudeta di puluhan negara.
Hasilnya, puluhan juta jiwa jadi “tumbal”nya.
Rezim “4 besar komunis” (Lenin, Stalin, Mao
Tse-Tung, dan Pol-Pot) saja telah membantai
rakyatnya lebih dari 100 juta jiwa. Haruskah
kita lupakan begitu saja?

Modus perjuangan KGB di Indonesia tak
jauh-jauh dari isu kemiskinan dan kebodohan,
menghabisi korupsi, penegakan hukum, dan
ketidakadilan di berbagai bidang. Seolah-olah
mereka yang terdepan membela rakyat. Padahal
saat berkuasa, siapa yang menggunakan cara
kekerasan dan “menghalalkan segala cara”,
terlihat jelas. Kekejian mereka terhadap pihak
yang berseberangan secara politik, bukan
rahasia lagi. Apalagi komunis punya wajah
ganda: legal dan ilegal (gerakan bawah tanah),
mirip akidah taqiyah ala Syiah.

Komunis yang peletak dasarnya adalah
Karl Marx, seorang Yahudi berkebangsaan
Jerman, memang menjadikan Islam sebagai
musuh bebuyutan. Maka, jangan sampai kaum
muslimin lemah. Lemahnya keislaman akan
menjadi lahan subur tumbuhnya beragam
ideologi merusak. Tak hanya komunis, tetapi
juga Islam Liberal, Ahmadiyah, Syiah, dan
sebagainya.

Maka dari itu, sejarah hitam komunis
tidak bisa dilupakan begitu saja. Kekejaman
komunis yang menyasar umat Islam perlu
diantisipasi sejak dini. Pemerintah dan segenap
komponen bangsa, TNI/Polri dan umat
Islam, harus bersinergi menjadi benteng dari
serangan kaum komunis. Tutup semua celah
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara bagi kemungkinan bangkitnya
komunisme di Indonesia.

Ironi jika bahaya laten komunis ini masih
saja ditanggapi dingin. Ancaman kebangkitan
komunis ini bukan isapan jempol lagi. Mari
kita hilangkan ilalang yang akan merusak
negeri ini! Tak hanya dibabat, tetapi cabut
hingga ke akar-akarnya!


Posted in IPB | 12 Comments »